Part 21 - A

391 41 7


Meskipun sebenarnya Sehun melarang, Hyunhee kembali berkuliah setelah hampir seminggu absen. Dan yang terjadi adalah tugas-tugasnya menumpuk, bahkan tugas kelompoknya belum selesai. Hyunhee menghela nafas.

"Maaf Hyunji –ya, sepertinya kita harus lembur untuk menyelesaikan tugas ini," ucap Yoomi dengan raut wajah bersalah.

"Kami tak dapat menyelesaiannya tanpamu," dalih Daniel dan disetujui Seongwoo.

"Akh ... kalian saja yang susah diatur dan malas," omel Minhyun.

Hyunhee menghela nafasnya dan kemudian tersenyum tipis –untuk menyembunyikan kekesalannya saat ini. "Sudah, kalau terus berdebat kapan akan mengerjakan dan selesai," ucap Hyunhee melerai.

Diluar perkiraan, tugas telah selesai lebih awal. Terima kasih kepada orang konsisten yang mengetuai kelompok tersebut. Namun satu-persatu anggota kelompok tampak mulai tumbang, bukan karena tugas tapi terlalu banyak minum.

"Hyunji –ya, kau bisa pulang lebih dulu sebelum hari terlalu malam dan tidak ada angkutan umum," saran Minhyun yang saat ini sedang membereskan peralatan makan.

"Tidak, nanti saja," jawab Hyunhee sembari menyapu. Setidaknya dia perlu membantu sang pemilik rumah untuk membereskan kekacauan yang terjadi saat ini.

Setelah kegiatan berberesnya selesai, tentu saja Hyunhee segera pamit untuk pulang. Minhyun dengan baik hati menawarkan untuk mengantar gadis itu pulang, tapi Hyunhee menolak lantaran terpikir kembali tentang Sehun –pria itu bisa saja mengamuk lagi. Akhirnya Minhyun hanya mengantar Hyunhee ke halte dan tentunya menunggu gadis itu sampai dapat angkutan umum.

"Terima kasih, Hyunji –ya. Kau hati-hati di jalan dan segera hubungi aku jika ada sesuatu atau setelah sampai di rumah," ucap Minhyun mewanti-wanti.

"Eum ... sama-sama, sampai jumpa besok," balas Hyunhee dan menaiki taksi.

Selama di perjalanan biasanya Hyunhee selalu melihat kearah luar jendela, namun kali ini dia memilih mendengarkan musik melalui earphone –nya. Tanpa terasa alunan musik yang keluar dari earphone –nya telah berhenti, Hyunhee baru menyadari jika perjalanan untuk sampai kediamannya terasa sangat lama. Akhirnya Hyunhee melepaskan earphone –nya termasuk menaruh ponsel kedalam tas dan bertanya pada sang supir taksi.

"Maaf Pak, apa masih jauh?" tanya Hyunhee.

"Tidak sebentar lagi sampai," jawab sang Supir terdengar tenang.

Hyunhee sedikit bergeser mendekati jendela mobil dan membuka kacanya, gelap. Dia tak tau jika jalanan Seoul bisa segelap ini, hanya beberapa lampu jalan redup yang menyala. Seketika rasa khawatir dan takut langsung menyergap Hyunhee, dia mulai menggigit bibirnya.

"Pak, kau yakin ini jalan yang benar?" tanya Hyunhee dengan suara bergetar.

Namun tak ada sahutan dari sang supir, hanya sebuah seringai dari sudut bibir pria itu yang dapat Hyunhee lihat dari kaca spion yang terletak di depannya.

Kini Hyunhee menyadari jika saat ini dirinya benar-benar dalam bahaya, dengan pikiran yang dipenuhi kekalutan dia mengambil ponselnya dan mencari kontak untuk menghubungi seseorang.

Terdengar bunyi tut-tut-tut dari lubang speaker ponselnya, Hyunhee masih mencoba menghubungi orang tersebut yang tak lain adalah Sehun. Dan dering ketiga berbunyi, dia dapat mendengar sahutan.

"Se ... Sehun –ssi." Suara Hyunhee terdengar parau disertai terbata.

Sehun yang menjadi lawan bicara tentu sudah dapat menebak dari suara gadis itu, jika ada yang tak beres. "Kau dimana? Kirimkan lokasimu segera!"

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang