Part 22 - B

305 26 4

Sekembalinya Jongin ke Korea dan ke kehidupan Hyunhee, itu semua merubah pribadi gadis itu menjadi lebih riang. Dan Hyunhee sangat menikmati saat-saat ini –bersama Jongin, meskipun hanya beberapa waktu lantaran pria itu masih disibukan dengan pekerjaaannya. Semua kebahaagian yang dia rasakan, membuatnya lupa dengan masalah dan hal penting yang harus dia sampaikan. Kehadiran Jongin juga sepertinya menghapus jejak Sehun yang dulu selalu membayang-bayangi harinya. Dan tanpa terasa, hari berlalu begitu saja.

Sesuai janji, akhir pekan mereka akan pergi ke taman hiburan. Tentunya Hyunhee sudah menunggu datangnya hari ini, bahkan dia sengaja bangun pagi. Dan sedari tadi dia sibuk berdiri di depan cermin untuk mencocokan pakaiannya, namun sepertinya belum ada yang menurutnya pas untuk dia kenakan. Sebuah ketukan dan di ikuti suara panggilan, menghentikan kegiatan Hyunhee di depan cermin.

"Jongin sudah datang, Hyunhee –ya." Raerim eonnie memberitahu jika kekasihnya sudah datang menjemput.

"Ya Eonnie, terima kasih," jawab Hyunhee.

Oke, dia harus bergegas karena Jongin sudah tiba. Oh Tuhan, rasanya ini lebih berat dari kencan pertamanya dengan pria itu saat mereka masih di tingkat sekolah menengah atas. Ujung bibir Hyunhee tertarik membentuk senyuman.

-

Hyunhee menuruni tangga dari lantai dua dan langsung menuju ruang TV, di sana sudah ada dua orang pria yang dia sayangi –ayahnya dan kekasihnya. Samar-samar Hyunhee mendengar pembicaraan dua pria itu yang dia yakini pasti seputar bisnis. Tanpa dia sadari, ada perasaan senang yang hinggap di hatinya saat melihat suasana itu. Dalam pikirannya, Ayah dan Jongin terlihat seperti Mertua dan Menantu yang cocok satu sama lain.

Tapi perasaan itu tak lantas membuatnya lupa dengan tujuan utamanya, dia hendak kencan hari ini. Karena dorongan tersebut, Hyunhee mengintrupsi pembicaraan mereka.

"Appa, aku mau pergi dengan Jongin oppa. Bisakah nanti saja Appa mengobrolnya lagi?" ucap Hyunhee dengan suara seperti membujuk.

Tuan Park tersenyum. "Baiklah, kita lanjutkan nanti Jongin –ah."

Jongin beranjak dari duduk dan membungkuk sejenak pada Tuan Park sebelum akhirnya dia ikut menyusul Hyunhee yang sudah keluar lebih dulu.

Jongin mematikan mesin mobil setelah dia berhasil parkir, selanjutnya dia menoleh dan tersenyum saat melihat gadis yang tertidur di jok sebelahnya. Pantas saja sejak di perjalanan tadi sangat hening. 'Sebenarnya, bangun sepagi apa gadisnya itu?'

"Hyunhee –ya," panggil Jongin lembut sembari mengusap wajah gadis itu. "Kita sudah sampai."

Lenguhan kecil diiring peregangan dilakukan Hyunhee, sebelum akhirnya dia membuka mata. "Maaf aku ketiduran, Oppa," sesalnya.

"Bukan masalah, ayo sekarang kita menikmati kencan ini." Senyum Jongin dan dibalas Hyunhee.

Kacau, itu yang ada dipikiran Hyunhee saat dia menginjakkan kaki setelah keluar dari mobil. Dia tau tempat ini, ini adalah taman hiburan yang pernah dia kunjungi juga dengan Sehun. Ya Tuhan, dari banyaknya teman hiburan atau tempat wisata lainnya, kenapa Jongin mengajaknya ke tempat ini. Jika Tuhan menginginkan dirinya segera mengaku pada Jongin perihal Sehun, tolong setidaknya biarkan dia menikmati waktunya dulu dengan Jongin. Maafkan dirinya yang egois, tapi Hyunhee juga ingin menikmati kebahagiaan bersama pria yang dicintainya.

"Kau baik-baik saja?"

"Ya Oppa."

Tangan Jongin menuntun Hyunhee untuk berjalan bersamanya.

'Tak apa Hyunhee, lupakan pria itu. Sebab sekarang kau sedang bersama dengan orang yang kau cintai,' bisiknya pada diri sendiri.

"Kau mau naik bianglala?" tanya Jongin dan dijawab anggukan oleh Hyunhee.

Sepasang kekasih itu menaiki bianglala, perlahan mereka mulai naik dan hampir menuju puncak. Tanpa sadar tangan Hyunhee yang berada dalam genggaman Jongin mengepal keras, tentu saja pria itu menyadarinya dan lantas menoleh.

"Kau takut?"

"Entahlah," jawab Hyunhee ragu.

Persekian detik selanjutnya, Hyunhee melihat wajah Jongin mulai memangkas jarak mereka hingga bantalan kenyal menyentuh bibirnya. Sebuah ciuman lembut dia terima, namun lambat laun menjadi begitu dalam dan disertai isapan. Dan entah sejak kapan tangan Hyunhee melingkar di leher Jongin, hingga suatu perasaan sesak menyadarkan mereka. Dua insan itu masih memejamkan mata disertai deru nafas tersenggal.

"Saranghae Park Hyunhee," bisik Jongin lembut di depan wajah gadis itu.

Rasa bergemuruh muncul dalam hati Hyunhee setelah mendengar penuturan sang kekasih, lambat dia mendongak sebelum akhirnya dia dapat melihat sebuah senyuman tulus di hadapannya. Sontak saja hal itu membuatnya seperti kehilangan akal dan kembali mengucap salam pada bibir pria itu. Ya~ tampaknya ciuman tadi belum cukup baginya.

Tapi efek yang ditimbulkan dari gejolak hasratnya tadi belum hilang juga, Hyunhee setelah turun dari bianglala masih menunduk sepanjang jalan. Ya Tuhan, kenapa dia akhir-akhir ini jadi sangat agresif dan main nyosor pada Jongin. Saat remaja bahkan dia tak seperti ini, tidak mungkin dia terlambat pubertas –memalukan!

Ditengah rutukannya, Hyunhee merasakan sepasang tangan yang menangkup di wajahnya hingga terpaksa membuatnya mendongak.

"Hyunhee yang seperti ini, aku sangat menyukainya," ucap Jongin dengan smirk -nya dan kembali mendaratkan kecupan di bibir gadis itu. "Mau es krim?" tanyanya dengan senyuman malaikat.

Hyunhee menggangguk pelan.

--- -- ---

Baik Hyunhee maupun Jongin sangat menikmati waktu kencan mereka, hingga tak terasa hari sudah gelap. Tapi dia masih ingin terus bermain, berbeda saat dia pergi dengan Sehun, dimana gadis itu terus meminta pulang.

"Kita pulang sekarang?" tanya Jongin dan dibalas cemberut oleh Hyunhee. "Ini sudah malam, Hyunhee –ya. Chanyeol hyung bisa mengamuk jika aku tak segera mengembalikanmu ke rumah."

"Baiklah."

"Hey~ jangan merajuk. Bagaimana kalau kita makan kudapan dulu sebelum pulang?" tawar Jongin.

"Aku ingin es krim," pinta Hyunhee.

"Apapun permintaanmu akan kupenuhi, Chagi –ya," balas Jongin menyetujui permintaan kekasihnya, meskipun mereka tadi sudah beberapa kali makan es krim. "Termasuk jika kau memintaku untuk menjadi milikmu seutuhnya segera," sambungnya.

Deg!!

Rasanya jantung Hyunhee serasa disentak oleh perkataan Jongin barusan, 'menjadi milikmu seutuhnya'apakah bisa saat ini? Ada senyum getir dan tatapan bersalah yang terlukis di wajah gadis itu saat ini. Sepertinya dia memang harus segera memberi tahu Jongin perihal Sehun. Ya Tuhan, tolong berikanku kekuatan.

[TBC]

Akankah Hyunhee sanggup mengatakannya, termasuk segala resiko yang akan dia terima? Dan bagaimana reaksi Jongin setelah tahu? Bertahan atau meninggalkan?

See you next chapter

#XOXO

●●●●

Hai~ udah tau belum kalau aku post cerita baru genre Teenlit? Mampir yuk ke When Love is Blossom di akun wattpadku yang satunya @ifangel.

Ada Ayana, gadis usia 16 tahun asal Medan yang akan mengikuti sebuah kompetensi di Jakarta. Dan ternyata disana dia bertemu dengan sosok Ravino, seseorang yang dulu dia kagumi. Akankah pertemuan singkat itu mampu memekarkan perasaan diantara mereka?

Jangan lupa vote, komen dan share.

Terima kasih ^^

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang