Part 18 - B

321 28 4


Hyunhee melangkahkan kakinya menuju dapur, mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas dan menandaskannya. Lalu dia menyeret kakinya menuju ruang TV, hanya duduk berselonjor tanpa melakukan apapun –dia bosan. Ini hari ke tiga pelariannya dan dia hanya diam di kamar hotel, bahkan dia bolos ke kampus lantaran takut bertemu dengan Sehun –menurutnya berdiam diri di kamar hotel lebih aman baginya.

Ting ... Tong ...

Bel kamarnya berbunyi, Hyunhee melirik jam yang tergantung di dinding. Tepat waktu, gumamnya. Hyunhee beranjak dari duduk untuk membukakan pintu bagi room boy yang hendak mengantarkan sarapan –itu termasuk ke dalam pelayanan kamar hotel tersebut.

"Terima kasih," ucap Hyunhee lalu menutup pintu setelah dia menerima satu set makanan dari room boy yang dibawa dengan meja beroda.

Hyunhee menatap tanpa minat kearah makanan itu, telur mata sapi, roti tawar dan sosis. Oh ... bahkan dia mulai merasa mual saat hendak menyantapnya. Selama dia tinggal di hotel, makanan yang diantar selalu bergaya barat, sedangkan Hyunhee sangat menginginkan makanan Korea. Hal tersebut membuatnya seperti tinggal jauh dari rumah dan dia jadi merindukan masakan Ibunya. Hyunhee meraih ponselnya yang terletak di atas meja dan mulai mencari kontak dari Ibunya, lalu dia mulai menunggu panggilannya di angkat.

Hyunhee melakukan video call, tampaknya hanya mendengar suara Ibunya saja tidak cukup bagi gadis itu.

"Eomma! Bogoshipoyo ...," jerit Hyunhee saat panggilannya tersambung.

Nyonya Park menyambut anaknya dengan senyum malaikat. "Eoh ... bagaimana kabarmu, sayang?"

"Tentu saja baik," jawab Hyunhee mantap.

"Benarkah?" tanya Nyonya Park seakan tak mempercayai Putrinya. "Matamu tampak sayu."

Hyunhee refleks memegangi matanya. "Itu karena aku kurang tidur, mungkin," jawab Hyunhee sekenanya. "Eomma, aku mau makan masakan Eomma!!" rengek Hyunhee dengan nada manja.

"Kau bisa makan sepuasmu, sayang. Tinggal datang saja ke rumah, kok repot. Pintu rumah selalu terbuka untukmu," seru Nyonya Park lembut.

Hyunhee menghela nafasnya. "Shireo. Ada Chanyeol oppa," jawab Hyunhee dengan cemberut.

"Aigoo ... kalian belum baikan juga rupanya? Berhenti bertingkah kekanak-kanakan dan gengsi –an. Sudah, sekalian saja Eomma suruh Oppa –mu yang mengantar makanannya," putus Nyonya Park sepihak.

"Kenapa bukan Eomma saja yang mengantar makanan untukku? Aku juga mau disuapi oleh Eomma." Hyunhee kembali berucap dengan nada manja.

"OMO~ gula darah Eomma bisa naik karena melihat aegyo –mu," canda Nyonya Park dan tertawa, begitu juga Hyunhee. "Hyunhee –ya, Eomma tak bisa datang karena sedang di luar kota menemani Appa," jelas Nyonya Park. "Sudah, pokoknya Eomma tidak mau tau! Kalian harus segera berbaikan, arraseo?!" tekan Nyonya Park.

"Ne Eomma."

Hyunhee mengakhiri panggilan singkatnya dengan sang Ibu dan merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Dadanya tampak naik turun pertanda dia menarik dan menghela nafas begitu dalam. Dia tak menyangka, jika untuk berbaikan dengan Oppa –nya sesusah ini.

Lambat laun, kantuk mulai menderanya hingga dia tertidur. Namun belum sampai mimpi menyapanya, suara nyaring dari bel telah mengusik tidurnya. Dengan malas Hyunhee bangun untuk membukakan pintu, dia terlebih dahulu melihat di intercom. Tanpa dia duga, pemandangan di layar intercom membuat matanya berbinar, lantas Hyunhee membukakan pintu untuk orang tersebut dan menyambutnya penuh suka cinta.

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang