Part 16 - A

422 25 4


Matahari sudah hampir naik hingga mendekati puncak kepala, tapi seorang gadis masih saja menggulung diri dengan selimut diatas kasur. Tak masalah jika statusnya masih single, tapi kini dia seseorang yang telah menikah dan bersuami. Pantulan cahaya mulai mengenai wajahnya, membuatnya mau tak mau, terpaksa bangun. Dia sedikit meregangkan bagian tubuhnya yang terasa sedikit kaku, setelahnya dia meraih ponselnya yang ada diatas meja kecil –disebelah ranjangnya. Matanya terbelalak ketika melihat angka yang terterlera pada layar ponselnya, pukul sebelas. Kini dia sadar sepenuhnya, namun keterkejutannya masih berlanjut saat dia melihat kondisi ruangan saat ini tempatnya berada. Ini bukan kamarnya, batin gadis itu.

Hyunhee, gadis itu terdiam sekejap, dia sedang berpikir. Dia merasa ada yang hilang, Hyunhee menoleh kesisi sebelah ranjangnya –kosong. Dimana orang itu? Dia mencari keberadaan seorang pria yang kini berstatus sebagai suaminya, Oh Sehun. Tanpa babibu, dia segera turun dari ranjang dan keluar kamar.

Saat dia keluar dari kamar, dia mendengar suara berisik dari arah dapur, lantas membuatnya berjalan kesana. Dan sudah dapat dia tebak, siapa orang yang membuat keributan itu.

"Morning Chagi –ya," sapa pria itu pada gadis yang baru saja muncul di dapur.

Hyunhee memutar bola matanya malas, panggilan apa lagi itu –dia merinding mendengarnya. "Kenapa kau tidak bangunkan aku?" tanya Hyunhee segera, tanpa menjawab sapaan yang terlontar padanya.

"Aku tak tega untuk membangunkanmu, kau tidur sangat pulas," jawab Sehun tanpa mengalihkan fokusnya dari wajan, dia tengah menggoreng telur.

Hyunhee mendengus. Nyenyak apanya? Dia hampir terjaga hingga lewat dari dini hari, semalam. Dan itu semua karena pria itu, Oh Sehun. Bahkan dia tak bisa tidur dengan tenang atau nyaman.

"Ayo duduk, aku sudah buatkan sarapan untuk kita. Emmm ... ini memang tak banyak dan aku juga tak yakin dengan rasanya, karena ini bisa dibilang kali pertamaku memasak setelah entah kapan itu," jelas Sehun dan dia mulai menyusun hidangan dan peralatan di meja.

Mereka duduk berhadapan di meja makan, dengan hidangan sarapan sederhana yang dia siapkan. Hingga waktu berlalu, salah satu dari mereka belum ada yang menyentuh makanan itu. Membuat Hyunhee bertanya-tanya sekaligus tak nyaman, karena Sehun hanya menatapnya.

"Kita jadi makan?" tanya Hyunhee akhirnya setelah begitu banyak waktu terbuang hanya untuk bungkam.

"Tentu saja, kau makanlah duluan. Aku ingin dengar komentarmu tentang masakanku," jawab Sehun.

Hyunhee menghela nafas dalam. Pikirnya, apa yang bisa dia komentari atas hidangan yang saat ini tersedia di atas meja makan seperti roti, kopi, selai dan telur dadar goreng. Hanya satu itu yang merupakan masakan Sehun, telur dadar goreng dengan tampilan abstrak dan ada beberapa bagian yang gosong. Hyunhee memberikan tatapan tak berminat pada telur itu, namun dia perlu hargai usaha pria itu yang bangun pagi dan memasak sarapan.

Hyunhee mulai menyendok sesuap telur goreng di piring dengan memilah terlebih dahulu dari yang gosongnya, dan mulai memasukan ke gua mulutnya dengan harap-cemas. Saat telur goreng itu menyentuh permukaan lidahnya, ekspresi wajah Hyunhee langsung berubah –jelek. Kejutan rasa menjalar disekujur lidah Hyunhee, asin adalah rasa yang paling mendominasi.

Sehun yang memperhatikan raut wajah gadis itu yang berubah, langsung memberikan secangkir kopi yang telah dia buat tadi. Hyunhee yang masih tak dapat mengontrol kejutan rasa dilidahnya, segera meraih cangkir itu tanpa mengetahui isinya.

Uhuk!

Hyunhee terbatuk dan selanjutnya dia menjulurkan lidah keluar. Lagi! Dia kembali mendapatkan kejutan dari seteguk minuman yang meluncur masuk dan tertelannya. Hyunhee segera melihat isi dari cangkir yang ada dalam pegangannya, KOPI HITAM!! Selanjutnya Hyunhee mendongakan kepalanya dan menatap penuh kilat pada pria yang ada di hadapannya.

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang