Part 15 - A

368 21 4


Semakin lama, Hyunhee semakin tak tahan dan tak nyaman lantaran terus ditatap oleh Sehun, pria yang kini berstatus suaminya. Catat! Hanya status.

"Ada apa?" sentak Hyunhee, dia sedikit jengkel.

"Begini Hyunji –ya." Sehun tak melanjutkan perkataannya, dia terlihat ragu. Tapi Hyuhee masih menatapnya, menunggu. "Aku bingung akan satu hal, saat kita pergi ke butik untuk fitting baju pernikahan –kan kau jadi tukar gaun karena kebesaran," tutur Sehun.

"Lalu?"

Pandangan mata Sehun mengarah pada dua gundukan di dada gadis itu. "Apa mungkin payudara wanita bisa mengecil?" tanyanya seakan terdengar polos seperti seorang anak kecil yang bertanya.

Hyunhee membelalakan matanya sembari menatap Sehun –tak percaya, namun karena itu dia jadi memperhatikan arah sorot mata pria itu. Seketika Hyunhee langsung refleks menyilangkan tangan di depan dadanya dan melempar bantal ke wajah Sehun. "Apa yang kau lihat? Byuntae!" seru Hyunhee.

Setelah dilempar bantal dan dicap pria mesum, Sehun mendengus kasar. "Kau malu? Aku ini –kan suamimu," dalih Sehun sembari memberi senyuman jahilnya.

Hyunhee kembali menampakan ekspresi ngeri pada Sehun. 'Mati saja aku!! Apa dosaku di kehidupan sebelumnya, Tuhan? Sampai-sampai harus bersama dengan pria mesum ini. Bahkan untuk semalam saja, aku tak sanggup rasanya,' batin Hyunhee cemas. "Aku ngantuk, mau tidur!" ucap Hyunhee penuh penekanan seraya berbaring dan berbalik memunggungi Sehun.

Sehun membungkukan badannya, condong ke pada gadis itu dan mulai berbisik, "Apa kau yakin, kalau malam ini kita hanya akan tidur?" Lagi. Sehun kembali menggoda gadis itu.

Hyunhee berlonjak kaget, hingga tanpa sadar tangannya melayang dan mendarat di dahi Sehun.

Pria itu mengaduh sakit, karena bukan saja tangan gadis itu yang mendarat di dahinya tapi juga disertai cincin dengan tambahan permata yang terpasang di jari manis gadis itu.

Hyunhee yang mendengarnya mengaduh, juga jadi ikut mengkhawatirkannya. "Gwaenchanayo?" tanyanya sembari memegang dan memperhatikan wajah dari pria itu.

Tanpa gadis itu sadari, seutas senyuman baru saja terbit di wajah Sehun, seakan perhatian kecil dari gadis itu telah menghilangkan rasa sakit yang sempat dirasakannya tadi. Namun Sehun kembali meringis ketika jari Hyunhee mengenai bagian dahinya yang sakit, "Yang mana –yang sakit?" tanya Hyunhee ketika tak mendapat jawaban dari Sehun.

Sehun meraih salah satu tangan gadis itu dan menunjukan bagian dahinya yang terasa sakit (sebelumnya). "Ini?" tanya Hyunhee sembari memberikan sedikit tekanan pada bagian dahi yang ditunjukan pria itu. Sehun menjerit histeris –dia bertingkah berlebihan. Dan hal tersebut membuat Hyunhee semakin bersalah juga cemas. "Maaf," ucap Hyunhee menyesal. "Lalu harus bagaimana? Apa mungkin besok dahimu akan tumbuh benjolan?"

Sehun tampak menggulum bibirnya, menahan tawa. "Ti ... tiup saja," ucap Sehun susah payah karena masih menahan tawanya.

Tanpa penolakan, Hyunhee meniup lembut dahi Sehun –beberapa kali. "Sudah?" tanya Hyunhee.

"Belum." Dusta Sehun.

Hyunhee kembali meniup dahi Sehun, hingga Sehun mendongakan kepalanya dan membuat manik mata mereka saling bertabrakan.

"Neomu yeppeo," komentar Sehun tanpa sadar.

Hyunhee segera menundukan pandangannya, lebih tepatnya menghindari kontak mata langsung dengan pria itu. Namun Sehun menyentuh dagunya, membuat Hyunhee tak dapat berpaling. "Ada begitu banyak alasan kenapa aku bisa begitu mencintaimu, salah satunya adalah matamu. Eoh ... bahkan aku tak ingat kapan terakhir kali menatapmu dengan jarak sedekat ini," ucap Sehun sembari mengagumi tiap inchi lekuk wajah dihadapannya.

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang