Part 21 - B

358 33 6


Setelah insiden malam itu, tentu saja Sehun menjadi lebih protektif terhadap gadis itu. Mulai dari menghubungi Hyunhee tiap beberapa menit sekali, terus terhubung dengan gadis itu adalah hal mutlak. Bahkan Sehun memasangkan kalung yang terdapat alat pelacak pada Hyunhee.

Apa dirinya ini tahanan?

Ohhhh ... beberapa orang bodyguard –pun sempat Sehun sewa untuk mengawasinya, tapi Hyunhee menolaknya dengan keras. Itu sudah sangat berlebihan. Kebebasannya terancam. Namun Hyunhee tak benar-benar yakin jika Sehun telah memberhentikan orang untuk mengawasinya, sebab Hyunhee merasa ada seseorang yang memperhatikannya beberapa hari terakhir.

Pasalnya hingga hari ini, Hyunhee masih merasa ada seseorang yang mengikutinya dan sebenarnya dia ingin tanyakan hal tersebut pada Sehun, tapi dia sedikit ragu lantaran sikap pria itu yang saat ini sudah sangat protektif. Jika dia bilang, Sehun bisa saja benar-benar akan menyewa kembali body guard untuknya. Jadi Hyunhee memilih diam sembari terus waspada.

Bohong jika Hyunhee bilang dia sudah melupakan peristiwa penculikan itu dan tak takut lagi, dia hanya menyembunyikan perasaan itu agar Sehun bisa lebih tenang. Bahkan pernah terbesit dalam benak Hyunhee dia menjalani skenario terburuk dalam hidupnya, jika dia benar-benar diculik dan tak dapat bebas.

Hyunhee juga jadi berpikir, bagaimana jika saudara kembarnya itu sebenarnya diculik –Hyunji sudah sangat lama tidak kembali dan dia tak bisa kabur dari penculik. Akh ... Tidak! Hyunhee menepis jauh pikiran buruk itu, dia selalu mengharapkan keadaan saudara kembarnya baik-baik saja. Tak masalah jika saudara hingga saat ini belum mau kembali, asal dia bukan tak dapat kembali. Akh ... Tidak! Hyunhee kembali menggelengkan kepala –Hyunji harus segera kembali, harus! Untuk membereskan semua masalah ini sebelum Jongin kembali.

Hyunhee kembali menoleh kebelakang saat berjalan, ini sudah kesekian kalinya. Biarpun hari belum terlalu gelap, setelah peristiwa penculikan itu Hyunhee jadi takut keluar sendiri dan menaiki kendaraan umum. Jadi Hyunhee mencoba berjalan kaki untuk pulang –hanya mencoba, tapi tampaknya juga tak terlalu efektif.

"Nona, mau kemana kau jalan terburu-buru seperti itu?" tanya seorang pria

Hyunhee menoleh sebentar pada sumber suara yang merupakan milik seorang pria yang tengah mengendarai motornya di pinggir jalan. Hyunhee mengabaikan pria itu, lantaran tak mengenali sosok dibalik helm tersebut dan semakin melangkah cepat.

"Chagi –ya!" seru pria itu lagi pada Hyunhee.

Hyunhee semakin takut, kini dia berlari.

"Ya! Park Hyunhee, kenapa kau berlari?"

Deg!

Langkah Hyunhee terhenti ketika pria itu menyebutkan namanya, Hyunhee berbalik lantaran penasaran dengan orang tersebut. Beberapa saat kemudian, kini mereka telah berhadapan.

Pria itu turun dari motornya dan melepas helm yang sedari tadi dia gunakan. Hyunhee tampak terkejut ketika melihat wajah dari pria itu, dia sampai membekap mulutnya untuk menahan jeritannya. Namun yang keluar malah air matanya, hingga membuat pria itu kelabakan melihat gadis di hadapannya menangis tanpa alasan.

"Ya~ kenapa kau menangis? Apa kau tak suka melihatku kembali?" ucap pria itu dengan nada paniknya sembari mengusap jejak air mata Hyunhee.

"Nappeun Oppa! Kenapa tidak bilang akan kembali? Kenapa baru kembali sekarang?" rajuk Hyunhee disela isakannya.

"Maaf, apa semua ini terlalu berat bagimu?"

Hyunhee mendongak, menatap wajah pria itu langsung ke manik matanya. Tiba-tiba rasa bersalah dan penyesalan langsung menyergapnya. "Akh! Rasanya aku akan gila. Maafkan aku Jongin oppa," ucap Hyunhee histeris dan semakin jadi tangisnya hingga dia rasanya tak sanggup lagi menatap wajah di hadapannya, lalu Hyunhee membenamkan wajahnya di dada bidang Jongin.

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang