Part 4 - A

796 46 0



[London, 06.00 PM]

Seorang pria berkulit tan tampak sibuk dengan ponsel, komputer, pena dan kertas-kertas. Tangan kirinya sibuk memegangi ponsel yang dia tempelkan ditelinganya untuk mendengar tiap kata dari lawan bicara dan kemudian dia menjawabnya dengan lugas, sedangkan tangan kanannya begitu multitasking meng –handle tiap pekerjaan mulai dari: menyentuh keyboar mengetikkan huruf per huruf, mengarahkan mouse, membulak-balik lembaran dokumen sembari membacanya dan membubuhkan tinta pena disana. Sesekali dia menggunakan bahunya untuk mengampit ponsel dengan telinganya, sementara disaat itu tangannya sibuk dengan pekerjaan yang lain. Orang yang melihatnya akan berkomentar betapa piawainya dia dalam bekerja. Tapi bagi pria bernama lengkap Kim Jongin, itu sudah jadi rutinitas sehari-harinya sejak dia ditugaskan mengelola cabang Departement Strore tersebut beberapa tahun silam.

"Okay, thank you Sir. Just wait a minute, I will call you back again," dia penyudahi panggilannya dan merilekskan otot tubuh yang tegang dengan bersender pada bantalan kursi yang empuk dan nyaman. Setelah itu, dia meneguk air pada botol hingga tandas.

"Tenggorongakkanmu kering, Tuan?" ucap seorang pria yang merupakan asisten dari Jongin, Do Kyungsoo.

"Eoh ... Hyung, sejak kapan kau disana?"

"Cukup lama. Apakah aku ini hantu, sampai kau tak menyadari kedatanganku?" Jongin menaikkan bahunya. "Ya~ seandainya, hubungan asmaramu sama cepatnya seperti kau bekerja, mungkin kau sudah punya anak tiga," gurau Kyungsoo. Tapi Jongin sama sekali tak merasa itu lucu.

"Kau bicara denganku, Ahjussi?" ucap Jongin meledek. Kyungsoo membelalakkan mata. "Urusi saja dirimu sendiri, kau sudah tiga puluh tahun, tapi masih jomblo. Perlu kucarikan seorang Ahjumma untukmu?" ucap Jongin masih belum lelah meledek Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum kecut, jika saja ada palu ditangannya, mungkin dia sudah melemparnya kearah Jongin. "Jongin –ah, tadinya aku ingin membantu hubungan asmaramu. Jadi berhentilah, sebelum aku malah berbalik dan menghancurkannya," ucap Kyungsoo dengan suara pelan namun terasa menakutkan saat didengar.

"Kalau begitu bicaralah pada temanmu yang bernama Kim Junmyeon, agar memulangkanku ke Korea," ucap Jongin terdengar meminta.

"Dia kan Hyung –mu sendiri, kau bicara saja langsung padanya. Sudah, ikut denganku," ucap Kyungsoo dan pergi.

"Akh ... hyung, kau kenapa lagi?" ucap Jongin frustrasi.

"Tak usah banyak tanya, ikut saja denganku."

°°°

Akhirnya tanpa mengetahui apapun, Jongin mengikuti Kyungsoo dan sampai di apartemennya.

"Mwoya ige, Hyung? Kenapa malah pulang? Apa kau meninggalkan sesuatu?" Jongin bertanya-tanya.

"Kalau kau ingin mengucapkan terima kasih, cukup transferkan saja beberapa ribu dollar ke rekeningku," ucap Kyungsoo lalu mendorong Jongin masuk ke apartemennya.

Saat Jongin masuk ke apartemennya, dia merasa aneh. Apartemennya terasa berbeda dari biasanya, yang paling mencolok adalah banyak kelopak bunga yang berserakan di lantai dan lilin aroma yang menyala. Jongin masih terus berjalan, hingga saat dia tiba di dapur, dilihatnya ada begitu banyak masakan Korea juga cake. Jongin menaikkan sebelah alisnya dan menatap penuh tanya kearah Kyungsoo. Tiba-tiba terdengar suara ceret air yang tengah dipanaskan berbunyi, baik Jongin dan Kyungsoo langsung mengalihkan perhatiannya. Kyungsoo berlari untuk mematikan kompor.

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang