Part 8 - B

506 37 0


Sebuah senyum menyambut kedatang seorang gadis, begitulah pemandangan yang terlihat saat Hyunhee memasuki ruang rawat Sehun. Tapi Hyunhee sungguh tak ingat jika Sehun bisa tersenyum semanis itu, karena yang dia tahu, Sehun dan Hyunji lebih sering bertengkar. Pikirnya, otak Sehun sudah koslet setelah kecelakaan itu.

Hyunhee duduk didekat ranjang Sehun, karena pria itu yang memintanya.

"Terima kasih Hyunji –ya, kau sudah datang dan merawat Sehun selama ini," ucap Nyonya Oh yang berdiri di samping meja, sedang menyiapkan makanan untuk Sehun.

Hyunhee bingung harus menjawab apa, jadi dia hanya bilang, "Ya, Eomeoni."

Dengan mangkuk berisi bubur, Nyonya Oh menghampiri Sehun. "Sekarang kau makan dulu," ucap Nyonya Oh sembari mengulurkan tangannya yang memegang sendok di depan mulut Sehun.

"Eomma, aku sudah besar. Bisa makan sendiri," tolak Sehun, matanya melirik samar kearah Hyunhee.

Tapi Nyonya Oh belum sadar juga dengan isyarat dari lirikkan mata Sehun dan masih saja hendak menyuapi makan anaknya itu. "Bangun saja susah, bagaimana mau makan sendiri."

Bibir Sehun tampak komat-kamit dan masih memberi isyarat dengan melirik Hyunhee. Hingga Nyonya Oh tersentak dan langsung menyodorkan mangkuk itu pada Hyunhee. "Eoh ... kau ini, bilang saja tak mau disuapi oleh Eomma."

Sehun hanya nyengir. "Eomma peka –lah sedikit," sindirnya.

Nyonya Oh mendecak.

Akhirnya Hyunhee yang menyuapi Sehun, tapi tampaknya dia tak sabar dan terus menyuapkan buburnya ke gua mulut Sehun. "Hyunji –ya, pelan-pelan. Ini saja belum tertelan," ucap Sehun yang tampak kewalahan.

"Buburnya –kan encer, jadi tinggal telan saja," marah Hyunhee, tapi masih terdengar lembut.

"Leherku –kan di gips, jadi saluran makanan jadi menyempit, makanya susah juga menelan," ucap Sehun berkelah.

Ucapan Sehun barusan terdengar seperti bualan bagi Hyunhee dan membuat dia mendengus, tampaknya rasa kesalnya pada pria itu telah kembali.

___ ___ ___

"Kau sedang apa, Hyunji –ya?" tanya Sehun sedikit meninggikan nada suaranya, karena gadis itu sedang berada di kamar mandi.

Tak lama, Hyunhee keluar dari kamar mandi dengan wadah plastik berisi air dan handuk kecil. Lalu dia memberikan handuk kecil yang sebelumnya telah dia peras airnya, kepada Sehun. "Usapkan pada wajahmu, tangan dan kemudian kaki," ucap Hyunhee memberi petunjuk.

Namun sepertinya Sehun tidak mendengar, dia malah lebih dulu mengusap tangannya.

"Sehun –ssi, ku bilang usapkan dulu pada wajahmu." Kali ini nada Hyunhee terdengar sedikit geram.

"Kau marah padaku?" tanya Sehun.

"Tidak," sanggah Hyunhee cepat.

"Iya tuh ... tadi kau panggil aku 'Sehun –ssi'. Kau selalu seperti itu jika marah, bahkan aku hampir tak pernah mendengarmu memanggilku Oppa."

"Ya, Sehun oppa," sahut Hyunhee setengah hati.

"Aku tak ingat kau menjadi begitu penurut seperti ini," komentar Sehun.

Hyunhee tersentak, dia terdiam sejenak dan berpikir. 'Haruskah aku jadi pembangkang seperti Hyunji,' gumamnya. "Sebenarnya apa sih, maumu?" bentak Hyunhee.

Sehun malah terkekeh. "Tak –ku sangka, sifat pemarahmu kembali secepat ini."

Hyunhee mendengus. "Sudah, berikan handuknya pada –ku." Hyunhee mengambil handuk kecil itu dan mulai menyeka wajah Sehun. Sementara di saat itu, Sehun terus memandangi wajah Hyunhee yang ada di hadapannya. "Berhenti melihatku seperti itu," ucapnya mengutarakan ketidak nyamanannya.

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang