Part 2 - A

1.2K 67 0


London, 02.00 AM

Seorang pria baru saja memasuki ruangan bercat silver dengan dekorasi modern, Kim Jongin atau orang sering memanggilnya Kai. Dia melepaskan jas yang melekat pada tubuhnya dan dasi yang mencekat lehernya, setelah itu dia lemparkan kesembarang tempat. Sembari berjalan kearah sofa panjang, dia membuka beberapa kancing atas kemejanya dan berakhir dengan menghempaskan tubuhnya di sofa tersebut. Lelah, sangat dia rasakannya saat ini. Perlahan kantuk mulai menguasainya, refleks dia memejamkan mata dan menaruh lengannya disana.

Beberapa menit kemudian dia terbangun dari tidur singkatnya, rasa laparlah yang mendorong dan menuntunnya saat ini menuju dapur. Dia mulai memeriksa beberapa pintu lemari dan kulkas untuk mendapatkan makanan yang akan disantapnya saat ini, tapi pilihan yang tersedia tak cukup banyak. Hanya ada roti tawar, telur, kopi dan susu. Melihat bahan makan yang dia punya saat ini, sungguh membuatnya tak berselera. Jika saja bukan karena dedikasinya pada pekerjaan, mungkin dia sudah memesan tiket menuju Seoul dan menyambangi rumah kekasihnya untuk menyantap makanan buatan calon ibu mertuanya. Tanpa alasan yang jelas, seutas senyuman terlukis di wajah pria itu.

"Chagi –ya, aku sangat merindukanmu saat ini," rancaunya. Bahkan sekarang dia mulai tertawa, tapi tak terdengar lepas seperti tawa orang pada umumnya. "Wah! Sepertinya aku mulai gila," ucapnya dan setelah itu dia tertawa lagi.

Hal tersebut berlangsung beberapa saat, sepertinya pria itu sangat merindukan kekasihnya yang berada di Seoul. Dan yang kembali menyadarkannya adalah rasa lapar yang sebelumnya dia lupakan. Selanjutnya dia mengambil dua lembar roti tawar, lalu meletakkannya pada pemanggang dan memanaskan susu dalam panci kecil. Setelah selesai, dia melangkahkan kaki meninggalkan dapur sembari membawa roti panggang yang telah dioles mentega dan segelas susu hangat menuju ruang tengah. Dia ruangan tersebut dia berdiri di samping kaca lebar yang memperlihatkan pemandangan kota London di malam hari, ditempat tinggalnya saat ini yang berlantai 10 pada sebuah apartemen.

Tak butuh waktu lama, salah satu tangannya yang tadi memegang roti kini telah berganti dengan ponsel. Dia memandangi layar ponselnya yang sedari tadi hanya dia geser untuk melihat foto-foto, hingga gemarinya berhenti bergerak pada foto seorang gadis dengan pakaian motif bunga-bunga tengah tersenyum manis. Selanjutnya jemari pria itu kembali bergerak, memilih beberapa option pada menu ponselnya dan berakhir menjadikan foto tersebut sebagai wallpaper. Tapi tidak berakhir disana aktivitas jemarinya, bahkan saat ini jauh lebih lincah.

'Chagi –ya, kau sedang apa? Jam berapa aku bisa meneleponmu? Bogoshipo... Saranghae...' Kai mengetikkan beberapa kalimat dan di tambah emoticon heart-kiss diakhir kalimat, lalu mengirim pesan tersebut. Dia tersenyum senang setelah itu.

....-ooOoo- IFA -ooOoo-....

Seoul, 09.00 AM

Tampak dua orang gadis masih menggulung diri dalam selimut, di tengah lembutnya buaian mimpi. Ini bukanlah hari libur, tapi mereka masih meringuk di atas ranjang. Sementara anggota keluarga lainnya telah menyelesaikan sarapan dan bersiap-siap menjalani aktivitasnya.

"Apakah anak-anak gadisku berangkat kerja pagi buta?" tanya seorang pria paruh baya yang merupakan kepala keluarga sekaligus seorang ayah dan suami.

"Entah," jawab ibu sekenanya. Tampaknya wanita paruh baya itu tak tertarik dengan pertanyaan sang suami.

"Chanyeol –ah, coba kau periksa mereka di kamar," titah sang ayah pada putra sulungnya.

Tanpa banyak bicara, pria jangkung yang dipanggil Chanyeol itu segera melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar adiknya yang ada dilantai dua. Saat dia membuka pintu sebuah kamar, tampak dua gundukan besar di atas ranjang. Dia menatapnya geram, dengan langkah panjang dia menghampiri ranjang dan langsung menarik kasar selimut yang menutupi dua gundukan besar itu.

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang