Part 10 - A

468 38 0


Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kini pagi-pagi Hyunhee sudah bangun dan tampak berpakaian rapi. Dia keluar dari kamarnya dan menuju kamar sang Oppa. Hyunhee terlebih dahulu mengetuk pintunya, namun dia tak mendapat sahutan dari penghuni kamar, akhirnya Hyunhee masuk. Dilihatnya sang Oppa masih meringkuk diatas kasur, lantas Hyunhee menghampirinya. Dia menarik selimut yang menggulung tubuh Chanyeol.

Chanyeol melenguh sembari meregangkan tangannya. "Kenapa?" tanyanya dengan mata masih terpejam.

"Ireona Oppa."

"Jam berapa sekarang?"

"Pukul lima," jawab Hyunhee.

"Aish! Matahari saja belum terbit," omel Chanyeol dan kembali menarik selimutnya.

"Aish!" Hyunhee mendesis. "Ireona Oppa, palli!" Hyunhee mengguncang-guncangkan tubuh Chanyeol.

"Kau itu memang mau kemana?"

"Kantor."

"Ini masih terlalu pagi untuk ke kantor, belum ada yang datang," jawab Chanyeol malas.

"Justru karena itu, makanya aku ingin berangkat sekarang," ucap Hyunhee meminta.

Chanyeol menghela nafas. Dia mengerti maksud adiknya itu, karena Hyunhee tak ingin menjadi bahan pembicaraan orang lagi, lantaran dia bekerja di perusahaan keluarganya sendiri. Kalian tau sendiri bagaimana orang-orang berbicara disaat mereka mungkin merasa iri, bahkan kita tak berbuat salah –pun, masih ada orang yang tak suka pada kita. Dan seperti itulah yang Hyunhee rasakan.

Sekitar satu atau dua tahun lalu, entahlah. Hyunhee tak ingat jelas kapan itu, tapi sepertinya tepat pada saat dia baru saja meraih gelar sarjana. Hyunhee masuk ke perusahaan keluarganya dan langsung menempati posisi cukup tinggi di kantor pusat, itu adalah awal dia mulai menjadi bahan pembicaraan.

"Baiklah, aku bangun. Kau puas?" ucap Chanyeol beranjak dari tempat tidurnya. Hyunhee tersenyum. "Kalau begitu, sementara aku mandi, kau siapkan pakaian dan berkasnya," titah Chanyeol. Tanpa banyak bicara, Hyunhee langsung melakukan yang diperintahkan Chanyeol.

Sepuluh menit kemudian Chanyeol telah selesai, dengan rambut dan tubuh yang basah dia keluar dari kamar mandi, handuk terlilit menutupi bagian pinggang hingga lututnya, namun masih memperlihatkan bagian otot perut, dada bidang dan lengannya yang kekar.

"Sudah siap?" tanya Chanyeol yang memecah keheningan.

Hyunhee menoleh karena merasa dipanggil, namun beberapa saat kemudian dia refleks menelungkupkan wajahnya diantara dua tangannya. "Aish! Oppa, pakai bajumu!" protes Hyunhee.

Tampak Chanyeol menyunggingkan senyum di salah satu sudut bibirnya, dia tengah menyeringai. "Memangnya kenapa?" tanyanya sembari menghampiri Hyunhee.

Namun gadis itu masih belum menyadarinya, lantaran wajahnya masih membenam. Hingga sepasang tangan menyentuh pundaknya. Hyunhee mengangkat kepalanya dan menoleh kebelakang, dilihatnya sang Oppa tengah menyengir padanya. Menyeramkan, batin Hyunhee. "Ya! Byuntae!!" teriak Hyunhee lalu dia mendorong tubuh Chanyeol hingga terjungkal ke belakang.

"Akh ...," Chanyeol meringis sembari memegangi pinggangnya. "Yasudah, sana kau keluar! Aku mau pakai baju," omelnya.

Hyunhee meninggalkan kamar Chanyeol sembari cemberut.

"Buatkan aku sarapan," ucap Chanyeol sebelum Hyunhee menutup pintu kamarnya.

"Akh! Oppa ini banyak maunya," sahut Hyunhee.

___ _­­__ ___

Dan disinilah Hyunhee berada, di dapur, tengah berdiri melihat isi kulkas. Lima menit telah berlalu, tapi belum ada satu –pun bahan yang disentuhnya. Padahal di dalam kulkas terdapat banyak bahan makanan yang dapat dia gunakan untuk di masak, namun pada akhirnya Hyunhee hanya mengambil telur. Dia membuat telur dadar gulung.

Lima belas menit kemudian Chanyeol turun dan pergi menuju dapur, disana sudah ada Hyunhee yang duduk di balik meja makan dengan masakannya yang telah tersaji.

"Ya~ ini menu sarapan tersederhana yang pernah –ku makan," komentar Chanyeol saat melihat nasi, Kimchi dan telur dadar gulung yang ada diatas meja. "Mari kita tunggu Eomma saja," putus Chanyeol akhirnya.

"Andwae! Kalau menunggu Eomma butuh waktu satu jam, kantor sudah banyak yang datang. Sudah, makan saja yang –ku masak," omel Hyunhee. "Oppa bersyukurlah, setidaknya Oppa masih bisa makan nasi dan menu seperti ini hanya sesekali. Sarapan Jongin oppa bahkan lebih memprihatiankan, hanya roti tawar dan secangkir kopi," sambungnya lagi.

Akhirnya Chanyeol makan tanpa banyak berkomentar.

Sementara itu, Sehun yang merasa bosan terus di kamar, dia memilih keluar untuk berjalan-jalan. Dengan kursi roda dia menyusuri tiap lorong rumah sakit dan berhenti di lobi, dia bermaksud menunggu seseorang, dan ketika orang itu datang, dia bisa menyambutnya.

Tapi sepertinya rencana Sehun tidak berjalan lancar, sudah lebih satu jam dia menunggu di lobi, dan tidak ada tanda-tanda orang tersebut akan datang. Sehun merogoh saku bajunya, mengambil ponsel dan selanjutnya menempelkan benda kotak itu di telinganya.

"Yeoboseyo." Suara lembut milik seorang gadis terdengar di telinga Sehun.

"Hyunji –ya, kau tidak ke rumah sakit untuk menjenguk –ku hari ini?"

"Maaf, aku sibuk."

"Akh ... begitukah?" sahut Sehun tak bersemangat.

"Kututup ya, teleponnya. Aku harus kembali bekerja."

Setelah gadis yang dihubunginya mengakhiri panggilan telepon, Sehun kembali menaruh ponselnya disaku dan dia pergi dari lobi rumah sakit.


[TBC] 


AnnyeongBtw ... gak kerasa ya, udah chapter 10 aja. Tapi untuk sebuah chapter pengantar dari FF yang seharusnya bergenre Marriage Life (dilihat dari judulnya yang bahkan merujuk kesana –My Possessive Husband), belum ada yang nikah tuh tokoh utamanya :D Kkkk~ aku juga gak tau atau mengira, kalau bakal sepanjang ini. Menurut kalian, alur FF –nya ini terlalu lama kah? 

–––

Terima kasih ke pada semua pembaca, yg telah meluangkan waktu untuk FF abalku ini. Ku sangat bersyukur, FF My Possessive Husband mengalami kenaikan jumlah pembaca.

Dan aku sangat berterima kasih, terutama yg meninggalkan vote dan komentar, dukungan kalian sangat berarti bagiku. Karena tanpa kalian, apalah aku ini :'(

Kedepannya, aku berharap dapat membaca pendapat kalian mengenai FF ini dan saling bertukar pikiran atau sekedar mengobrol untuk mengakrabkan diri dengan kalian.

Udah, segitu aja.–sekian.   

See you next chapter

#XOXO

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang