Part 4 - B

819 46 2


Disebuah gang kecil nan gelap yang merupakan celah diantara dua bangunan besar yang berdiri di sisinya, tampak tiga orang pria tengah berseteru, satu diantaranya bertindak sebagai penengah.

"Hyung, kenapa kau lakukan ini padaku?!" teriak seorang pria sembari mencengkeram kerah baju dari seseorang yang dia panggil dengan sebutan 'Hyung'.

Pria yang tengah berada dalam cengkeraman itu mendengus sembari mengeluarkan senyum smirk –nya. "Melakukan apa? Dia yang datang sendiri padaku," jawabnya santai. "Tapi tak buruk juga, dia sangat lihai. Apa kau sering bermain hingga dia menjadi begitu lihai, Sehun –ah?"

"Berhenti bicara kau, brengsek!!" marah pria yang bernama Sehun itu. Dia melepaskan cengkeramannya di kerah baju lalu melayangkan tinjunya berkali-kali.

"Sehun –ah, berhenti. Kita pergi," ucap pria lainnya menengahi perkelahian itu dan menarik Sehun.

Pria yang dihajar Sehun dengan tinjunya tadi, tampak babak-belur. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, pria itu mengusapnya lalu bangun. "Kalau kau sudah bosan, berikan saja padaku," ucap pria itu seakan tak ada lelahnya memancing emosi dari Sehun.

Sehun yang belum stabil emosinya, kembali menghampiri pria kurang hajar itu. Namun sebelum dia melayangkan tinjunya kembali, pria yang tadi menariknya untuk pergi telah lebih dulu menghentikannya. "Lepaskan aku, Xiumin hyung! Atau kau juga akan kuhajar," berontak Sehun. Tapi pria bernama Xiumin itu tak melepaskannya.

"Hajar saja aku!" balas Xiumin sembari menatap tajam kearah Sehun.

"Baiklah, kalau itu mau –mu hyung," ucap Sehun seakan sudah hilang akal dan menghajar Xiumin.

Buughh!!

Seketika Sehun tersadar, membuka matanya dan terbangun dari tidurnya. "Akh ... sial! Kenapa aku memimpikannya lagi," ucap Sehun sembari meremas rambutnya.

Sehun mengambil gelas berisi air yang terletak diatas meja kecil di sebelah tempat tidur dan meminumnya hingga tandas. Setelah itu dia berjalan kearah kamar mandi. Beberapa saat kemudian, terdengar suara percikan air dari dalam sana. Sepuluh menit dia berada di kamar mandi, keluar dengan rambut basah dan tubuh terlilit handuk hingga sebatas pinggang, menampilkan bagian perut yang tampak berotot dan dada bidangnya.

Sehun berjalan ke keruang lain, yang merupakan ruangan khusus pakaian dan aksesoris. Lalu dia memilih salah satu setelan yang digantung dan lekas berpakaian. Selanjutnya dia memilih arloji, dasi, ikat pinggang dan sepatu sebagai pelengkap. Setelah rapi, dia keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Mengambil selembar roti dan satu bungkus kopi instan yang dia tuangkan kedalam cangkir bersama air panas lalu mengaduknya. Begitulah sarapan sederhana Sehun setiap hari, sebelum berangkat bekerja.

Lima menit berlalu, Sehun menyelesaikan sarapannya dengan kopi yang masih tersisa setengah di cangkir dan pinggiran roti yang tak dia makan. Dia hendak meninggalkan meja makan bersama dengan peralatan yang dia gunakan sebelumnya, tapi Sehun berbalik kembali menuju meja makan dan membereskan peralatan makan, lalu menaruhnya pada wastafel. Sehun menatap malas kearah wastafel yang berisi tumpukkan peralatan makan yang kotor. Tak mungkin dia mencuci piring di saat seperti ini, bajunya bisa saja kotor. Akhirnya Sehun meninggalkan tumpukkan piring kotor itu. Dan begitulah piring kotor terus menumpuk di wastafel.

○○○

Menghadiri rapat, membaca dan menandatangani dokumen adalah pekerjaan yang selalu Sehun lakoni. Hingga waktu makan siang tiba, Sehun masih diruangannya memeriksa dokumen. Dan saat itu Xiumin datang.

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang