Part 11 - B (2)

403 31 0


<<<Previous 

Perlahan mentari mulai tergelincir, warna lembayung yang sebelumnya menghiasi langit, kini sudah berubah gelap sepenuhnya dan mereka masih menunggu dengan setia.

Hyunhee beranjak dari duduknya. "Sehun oppa, lebih baik kita pulang saja. Ini sudah gelap dan sepi, aku sedikit khawatir," pinta Hyunhee dengan suara lemahnya.

Sehun menjetikan jarinya. Seketika suasana yang tadinya gelap, kini menjadi terang dan indah karena lampion-lampion yang menyala.

Hyunhee terkesiap menyaksikan pemandangan di hadapannya, kekagumannya tak dapat dia sembunyikan. "Neomu yeppeo!" ucap Hyunhee setengah berbisik. Sehun yang masih dapat mendengarnya, dia tersenyum senang.

Sehun meraih salah satu tangan gadis itu, lantas Hyunhee menoleh. Dan tanpa Hyunhee ketahui, Sehun sudah duduk berjongkok dengan salah satu kakinya di jadikan tumpuan. Lalu Sehun mengeluarkan benda kotak dari dalam sakunya.

Entah kenapa, muncul perasaan tak enak dalam benak Hyunhee saat melihat Sehun dengan posisi tersebut.


Story begin >>>

"Hyunji –ya," panggil Sehun. "Ijinkan aku melakukannya sekali lagi dengan benar." Hyunhee masih menatap sembari mendengarkan Sehun. "Maukah kau menikah denganku?" Sehun membuka kotak tersebut, sebuah cincin dengan batu permata.

Deg!!!

Pupil mata Hyunhee tampak bergetar, diikuti tetes air matanya yang jatuh. Hyunhee melepaskan tangannya dari genggaman Sehun untuk membekap mulainya yang siap mengeluarkan isakkan.

Bukan lantaran dia terharu dengan lamaran Sehun yang tiba-tiba, jelas tidak. Tapi itu perasaan sakit, seperti tertancap sebilah pisau di jantungnya. 'Kenapa firasat buruk tak pernah salah,' batin Hyunhee.

Berbeda dengan Sehun, yang sepertinya mengartikan ekspresi gadis itu dengan arti lain yang berlawanan. Namun harapan itu sirna, setelah sebuah kata yang lolos dari mulut gadis itu.

"Mianhaeyo," jawab Hyunhee pelan. "Tapi aku tidak bisa menerimanya." Hyunhee berbalik, hendak pergi. Namun Sehun menahan tangannya.

"Katakan. Sejak kapan kau berniat meninggalkanku?" tak ada lagi nada lembut dari ucapan Sehun, dia sudah terlalu emosi untuk menahan amarahnya. Hyunhee masih membisu. "Apa sejak kau menuliskan surat itu?" tanya Sehun.

Hyunhee membulatkan matanya, seakan menyadari kata janggal yang dia dengar. Surat? Apa maksudnya? Apa Hyunji menulis surat perpisahan pada Sehun? Karena itu dia tak segera kembali,' batin Hyunhee bertanya-tanya. Hyunhee kembali berbalik dan menatap Sehun.

"Eoh! Ternyata benar?!" Nada sinis sangat kental terdengar dari ucapan Sehun barusan.

Sehun membuang sembarang kotak cincin yang sedari tadi di genggamnya dan merogoh saku lalu mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya. Selanjutnya Sehun menyerahkan surat tersebut pada Hyunhee.

Setelah menerimanya, dengan cepat Hyunhee membuka lipatan surat tersebut dan membacanya.

Sehun oppa, sepertinya aku tidak bisa bersama denganmu lagi. Jadi mari kita akhiri hubungan ini dan tidak saling bertemu lagi. Kuharap kau dapat mengerti dengan keputusanku, mianhaeyo. –Hyunji.

"Ketika aku membaca surat itu pertama kali, aku cukup terkejut. Tapi aku memilih untuk menanyakannya terlebih dahulu padamu dengan meneleponmu," jelas Sehun.

[Flashback]

Setelah Sehun mendapatkan obatnya, di menutup kembali laci meja tersebut. Namun sebelum itu, perhatiannya teralih pada secarik kertas, maka Sehun mengambilnya.

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang