Part 18 - A

332 28 2


Hyunhee menerjapkan matanya, dia terbangun setelah tak sadarkan diri sebelumnya. Namun selanjutnya dia dengan cepat menoleh untuk mengetahui keberadaan seseorang dan saat dia telah menemukan orang tersebut, maka secepat itu pula ingatan buruknya datang –tentang bagaimana pria itu memperlakukannya.

Oh Sehun, pria itu duduk di kursi yang terletak di sudut kamar sembari membaca lembaran dokumen. Biarpun saat ini sudah menunjukan pukul dua dini hari, tapi matanya seakan tak pernah terlihat mengantuk. Dia masih fokus membaca deretan huruf bahkan angka yang tercetak di kertas. Namun perhatiannya teralih karena ekor matanya menangkap pergerakan dari atas ranjang. Sehun beranjak dari duduknya dan meletakan dokumen tersebut di meja lalu menghampiri gadis yang terduduk di ranjang.

"Hyunji –ya, kau sudah bangun," ucap Sehun pelan.

Tubuh Hyunhee menegang ketika melihat pria itu sudah beranjak dari duduk dan menghampirinya, dia segera menuruni ranjang dengan tergesa-gesa. Ketakutan masih tersisa dalam dirinya. Setelah turun dari ranjang, Hyunhee berlari menuju toilet yang berada di dalam kamar dan menguncinya.

Sehun yang melihat gadis itu berlari, tentu saja dia mengejarnya. Namun gadis itu sudah lebih dulu masuk ke dalam toilet dan dikunci sehingga Sehun kehilangan kesempatannya. Di luar pintu, Sehun masih mengetuk sembari memanggil nama gadis itu, berharap dapat di bukakan pintu.

"Hyunji –ya, jebal mianhae," ucap Sehun lirih. "Kita bicara dulu, eoh? Aku janji tak akan menyakitimu lagi. Mianhae."

Tapi sebanyak apapun Sehun bicara dan meminta, gadis itu tak kunjung membukakan pintu atau menyahuti ucapannya. Sehun beralih dari pintu dan menuju nakas untuk mencari kunci cadangan, namun hanya keluar dengusan kekesalan darinya, lantaran kunci cadangan tak ditemukan. Tak menyerah sampai di situ, Sehun mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Hyung, cepat hubungi tukang kunci!" titah Sehun saat teleponnya tersambung dengan lawan bicaranya –Xiumin.

Pria itu sudah gila, mana ada jasa tukang kunci yang buka pukul tiga dini hari.

"Aku tidak mau tau, pokoknya panggil siapapun yang dapat membukakan pintu toilet di kamarku," balas Sehun tak menerima penolakan.

Sehun meremas rambutnya kasar, karena lawan bicara itu masih saja melempar pertanyaan untuknya –tidak bisakah dia hanya menurut. Sehun sudah kepalang kesal saat ini.

"Akh ... Hyung, jebal! Hyunji sedang di dalam toilet dan terkunci," jawab Sehun akhirnya dengan nada sedikit membentak.

Sehun berlari menuju ruang depan sesaat setelah mendengar suara bel dan membukakan pintu. Namun saat dia membuka pintu, hanya ada seorang pria yang ada di hadapannya sembari menenteng sebuah tas. Tanpa mempersilakan masuk terlebih dahulu, Sehun langsung mengajukan pertanyaan pada orang tersebut.

"Hyung sendiri? Dimana tukang kuncinya?" tanya Sehun sembari celingak-celinguk di lorong apartemen.

"Aku," jawab pria itu –Xiumin.

"Kau?" tanya Sehun dengan tatapan meremehkannya.

Xiumin mendecih, tak terima diremehkan seperti itu. "Lihat saja, dengan ini aku bisa membuka pintunya." Pamer Xiumin sembari mengangkat tinggi-tinggi tas yang berisi perkakasnya.

Xiumin melangkahkan kaki lebih dulu dan masuk, meninggalkan Sehun yang masih menutup pintu.

Saat ini Xiumin sudah ada di depan pintu toilet yang barada di dalam kamar, dia mengeluarkan beberapa alat dan Sehun hanya berdiri di sebelahnya sembari memperhatikan.

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang