Part 22 - C

401 30 5

Ini masih termasuk Part 22, soalnya masih di waktu yang sama (setelah Jongin-Hyunhee kembali dari taman hiburan).

>>>

Lampu lalu lintas bersinar merah, Jongin perlahan menurunkan laju mobil sebelum akhirnya berhenti. Lantaran sedikit bosan dan hening, Jongin mengajak bicara gadis di sebelahnya yang sedari tadi menatap lurus dengan kosong.

"Apa kau masih sering kesini?" tanya Jongin sembari menatap keluar jendela.

Hyunhee lantas menoleh, awalnya dia belum menyadari tempat yang di maksud Jongin, namun selanjutnya Hyunhee hanya mampu membelalakan mata. Tempat tersebut membuatnya terbesit akan suatu peristiwa di masa lalu yang berujung pada kefatalan di masa kini, sebuah gedung perpustakaan yang menjadi saksi bisu pertemuannya dengan seorang pria bernama Oh Sehun dan berlanjut pada kesalah pahaman juga kebohongan.

"Maafkan aku, Oppa," ucap Hyunhee dengan suara parau, runtuh sudah pertahanannya. Ini adalah waktunya untuk mengatakan kebenaran pada Jongin.

"Ya?" tanya Jongin bingung.

"Aku telah mengkhiyanatimu selama ini." Dalam wajahnya yang tertunduk, air matanya yang sudah mengalir dia sembunyikan, termasuk dengan menggigit kuat bibirnya untuk meredam isakan.

Jongin tak lantas merespon, lantaran mobil di belakangnya sudah berisik membunyikan klakson. Jongin segera mengalihkan pandangannya ke depan untuk melajukan mobil sebab lampu hijau sudah kembali menyala.

"Gwaenchana Chagi –ya?" tanya Jongin setelah dia menepikan mobil. Dia khawatir sekaligus bingung dengan sikap kekasihnya saat ini yang sedang menangis, tanpa dia tau alasannya. "Maafkan Oppa jika sudah menyakitimu."

Masih dengan kepalanya yang tertunduk, Hyunhee menggeleng cepat. "Tidak, bukan Oppa yang salah, tapi aku," jelas Hyunhee. "Ada yang ingin aku katakan pada Oppa, tapi bisakah kita bicarakan di tempat yang lebih nyaman?"

"Baiklah."

Jongin membawa Hyunhee ke taman yang ada didekat rumah gadis itu, menuntunnya untuk duduk di sebuah bangku panjang. Namun setelah beberapa menit waktu berlalu, Hyunhee belum buka suara, meskipun begitu Jongin masih sabar menunggu sembari tangan merangkul sekaligus mengusap lembut puncak kepala gadis itu untuk memberikan ketenangan. Padahal dirinya sendiri juga tak dapat tenang setelah mendengar penuturan sang kekasih dan juga tangisnya.

"Maafkan aku, Oppa ... yang baru bisa mengatakannya sekarang, tapi aku akan jujur meskipun kau tidak akan mencintaiku lagi atau pergi meninggalkanku. Hanya saja, tolong jangan benci aku setelah ini," tutur Hyunhee pelan masih dengan kepala yang tertunduk. "Sebab aku tidak ada maksud sengaja untuk menyakiti Oppa."

Jongin masih tidak merespon, pikiran dan perasaannya sedang berkecambuk saat ini. Dia mengetahui jika maksud pembicaraan gadis itu pastilah bukan hal baik, mengingat dia menangis. Tapi Jongin tak ingin mendesak atau menyalahkan gadis itu semena-mena, terlebih dia belum mendengar penjelasannya. Jadi dia memilih bungkam sembari memasang telinga.

"Aku sudah menikah."

Tangan Jongin yang masih di pundak gadis itu mengepal. Jika saja Hyunhee menatap Jongin, mungkin dia akan dapat melihat rahang pria itu mengeras serta tatapannya yang penuh api kemarahan.

Setelahnya Hyunhee melanjutkan dengan bercerita, mulai dari awal dimana dia bertemu dengan pria bersama Oh Sehun yang sedang hilang akal berkeliaran di tengah jalan dan dia yang menolong pria itu, hingga Sehun mencari-cari sosok gadis penolongnya yang berujung kesalah pahaman pria itu terhadap kembarannya –Hyunji– dan mereka menjalin hubungan. Selanjutnya insiden kecelakaan Sehun dan Hyunji di Jeju yang menyebabkan Hyunji hilang dan Sehun hilang ingatan, dan pria itu kembali salah paham dengan dirinya hingga dia harus menikahi pria itu.

"Maafkan aku Oppa." Hyunhee kembali meminta maaf setelah dia mengakhiri penjelasan panjangnya. Sejak pembicaraan mereka di depan gedung perpustakaan, Hyunhee belum mengangkat kepalanya, dia takut untuk menatap wajah pria itu –lebih tepatnya tak sanggup melihat kilat kebencian yang ditunjukan Jongin.

Namun saat dia begitu putus asa dengan Jongin, tangan pria itu menangkup di wajahnya dan membuatnya terpaksa melihat pada pria itu. Jongin dengan raut wajah sendu dan matanya yang sudah berkaca-kaca, rasanya itu lebih menyakitkan dari dia yang melihat kebencian pria itu. Bahkan ekspresi kecewa tak tampak sama sekali, hanya sorot yang memancarkan cinta yang dia lihat.

Hyunhee lantas kembali menundukan kepala, tapi benda kenyal sudah mendarat di bibirnya dan membuat dia tersentak. Sebuah ciuman lembut dan syarat akan perasaan yang dalam, kini dia juga dapat merasakan linangan air mata dari pria itu.

Perlahan Jongin memundurkan wajahnya, membuat tautan mereka terlepas, dengan tangan yang masih tertangkup di wajah Hyunhee, Jongin menatap lekat gadis itu.

"Maafkan aku, Hyunhee –ya."

Dari ucapannya tak kalah terdengar nada penyesalan. Tapi kenapa pria itu malah meminta maaf? Apa salahnya? Dan itu membuat Hyunhee berpikir, jika Jongin terlalu baik untuknya, sementara dia bukan orang yang pantas untuk menerima kebaikan dari seorang Kim Jongin.

"Aku sudah berburuk sangka padamu selama ini, seharusnya aku tahu kau mencintaiku lebih dari apapun dan kau juga pasti menderita," sambung Jongin dan menghapus jejak airmata Hyunhee.

Ya Tuhan, Hyunhee benar-benar mencintai pria ini. Apakah dia masih boleh melanjutkan hubungannya dengan Jongin? Maaf jika dirinya egois, tak ingin melepaskannya meskipun dengan statusnya saat ini yang sudah menikah.

"Terima kasih sudah mau menceritakan segalanya padaku, kupikir aku akan ditinggalkan olehmu tanpa penjelasan apapun." Jongin tersenyum getir." Lalu bagaimana selanjutnya, heum?" tanya lembut.

"Aku tidak tahu," jawab Hyunhee frustrasi.

"Kau mencintaiku, Hyunhee –ya?" Jongin bertanya dengan menatap langsung kemanik mata gadis itu.

"Ya ... aku sangat mencintaimu Oppa."

"Kau ingin bersamaku?"

"Itu yang selalu kuinginkan."

Tangan Jongin terulur menggenggam tangan Hyunhee. "Baiklah, kau hanya perlu kembali padaku," tuturnya penuh keyakinan. "Pertama kita perlu menyadarkan pria yang telah merebutmu dariku." Kali ini Jongin bersuara penuh tekad.

[TBC]

Bagaimana cara Jongin untuk menyadarkan Sehun yang sudah tertutup hatinya itu? akankah semua berjalan sesuai harapannya?

°

Chapter ini terasa berat karena memikirkan cara bagaimana Hyunhee mengaku pada Jongin. Mengakui kesalahan itu –hanya untuk orang yang berani, jujur dan kuat (menanggung resikonya). Syukurlah Hyunhee sudah mengaku dan Jongin bisa menerimanya ...

Menurut kalian gimana? Apa sebelumnya kalian mikir Jongin bakal gak terima dengan status kekasihnya yang sudah menikah dan dia bakal ninggalin Hyunhee?

Oke, Jongin disini sangat berjiwa besar dan pantang menyerah ya.. Saranghae uri Kamjong <3

See you next chapter

#XOXO

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang