Part 14 - A (2)

378 31 12


Setelah mendengar teriakan Nyonya Oh, Chanyeol kembali keluar untuk melihat apa yang terjadi.

Sementara itu, Hyunhee yang masih berdiam diri di balik pintu dan enggan keluar. Dapat kita lihat, kini sekujur tubuhnya sudah bergetar hebat hingga dia tak sanggup berdiri lagi dan jatuh terduduk di lantai.

Namun akhirnya Hyunhee bangun, meski dengan hati dan pikiran yang kacau.

°

°

°

"Hyunji –ya," ucap Sehun ketika melihat sosok seorang gadis yang keluar dari balik pintu. Seketika, semua perhatian orang yang ada disana teralihkan dan menatap kearah gadis itu.

Gadis itu berjalan menghampiri Sehun, dengan tetes air mata yang terus mengalir membasahi permukaan kulit wajahnya.

"A ... aku akan lakukan yang kau mau," ucap gadis itu parau disela-sela isakannya. "Aku tidak akan meninggalkanmu dan selalu bersamamu," sambungnya.

"Menikahlah denganku!" balas Sehun seakan tak merasa cukup, jika gadis itu hanya berjanji akan disisinya.

Hyunhee menatap nanar kearah Sehun, dia tampak menghela nafasnya dalam, sebelum akhirnya menjawab, "Baiklah, aku akan menikah denganmu," jawabnya seakan putus asa.

Baik Sehun, Nyonya Oh maupun Chanyeol menatap tak percaya kearah gadis itu.

"Benarkah, yang kau katakan itu?" tanya Sehun memastikannya kembali. Mengikuti nalurinya, dia berjalan menghampiri gadis itu.

"Ya. Tapi setelah itu ... kau tak berhak menuntut apapun dariku, karena aku masih memiliki keraguan padamu," jawab Hyunhee dengan mengajukan penawarannya.

"Baiklah," jawab Sehun cepat. "Dan mari kita menikah dalam dua hari kedepan, karena aku juga memiliki keraguan kalau kau akan mengingkarinya," sambung Sehun tak mau kalah.

Hyunhee mendongakan kepalanya dan memejamkan matanya kuat, menekan keluar air matanya hingga surut. Sementara tangannya tampak mengepal. "Ya, baiklah," jawab Hyunhee penuh penekanan.

Jika beberapa saat sebelumnya dia berkata 'Ya' lantaran takut dan khawatir tentang pria itu, namun yang terakhir karena dia terlalu lelah untuk berdebat dan marah.

Hyunhee berbalik dan meninggalkan rooftop, tak sedikitpun dia menoleh meski sang Oppa terus memanggilnya.

Ada saatnya dimana aku mulai lelah dan semua perkataanmu aku 'Iyakan', lantaran aku tak ingin berdebat lagi. –Hyunhee.

-

Hingga pada saat Hyunhee hendak memasuki lift, Chanyeol menarik lengan Hyunhee untuk menahannya. Seketika Chanyeol merasakan dingin dan getaran yang ikut menjalar pada permukaan kulitnya, dan saat dia membalik tubuh Hyunhee agar dapat menatapnya, muncul perasaan sakit dan penyesalan dalam benak Chanyeol.

"Maafkan Oppa, Hyunhee –ya," ucap Chanyeol lirih sembari membawa Hyunhee dalam dekapannya dan masuk ke dalam lift.

Semoga hari esok tak pernah ada. Itu adalah pengharapan dari orang-orang yang pesimis akan hari esok, salah satunya Hyunhee. Tapi sayangnya, matahari telah bersinar dan kini tengah menyambutnya dari balik celah tirai jendela kamarnya.

Hyunhee membuka matanya enggan, belum lagi karena matanya yang bengkak dan itu semakin membuat ingin kembali menenggelamkan dirinya di alam mimpi –kenyataan terlalu berat untuknya. Namun suara ketukan pintu mengganggunya.

My Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang