Part 48 : Bingkisan

609 59 46

Pagi lahir kembali. Setelah malam terhempas manja sinar mentari, yang tersenyum merekah mendekap hari. Cahayanya menerebos jendela tanpa izin. Membangkitkan aku yang terlena dalam buaian pelukan guling.

Rutinitasku berawal dari kamar mandi, kemudian sarapan dan melenggang lincah ke gedung pergudangan Mega Grosir Cempaka Mas, Jakarta Pusat. Bekerja. Mencari sesuap nasi dan segepok rupiah. Bersemangat menggapai mimpi, tapi tidak untuk hari ini. Aku lesu tiada gairah menghadapi komputer yang menampilkan kode barang-barang. Sangat memusingkan kepala. Ruwet. Mumet.

''Woyy ... pagi-pagi udah loyo aja, Har!'' celetuk Donggi membubarkan kesemerawutan pikiranku. Tangan gempalnya menggedor punggungku dengan kasar.

''Kusut amat muka lo, ada apa sih?'' tanya laki-laki gendut itu setelah memperhatikan penampakan raut wajahku yang kusam. Masam. Bagai mangga muda tanpa celupan garam. ''Udah ngopi belum? Ngopi ngapa ngopi!'' lanjutnya menirukan gaya dengan logat yang pernah viral.

''Bingung!'' jawabku singkat tapi tak padat.

''Bingung kenapa?'' Donggi mulai kepo.

''Kerumitan dalam percintaan ...''

''Hah ... sejak kapan lo punya gebetan, Har?''

''Tidak penting kujawab!''

''Hmmm ...'' Donggi bersingut.

''Hmmm ... juga!'' balasku.

''Terus serumit apa yang sedang lo hadapi itu, Kawan?''

''Dia lagi marah. Cemburu. Kecewa. Benci. Kesal. Entahlah ....''

''Udah tak usah dipikirin, tabiat cewek emang kadang gitu ... biarin aja, ntar juga dia kangen sendiri sama lo dan melupakan semuanya ...''

''Tapi dia itu bukan ___,'' Aku menahan ucapanku, karena takut keceplosan. Aku tak mau Donggi tahu kalau aku sedang memacari seorang cowok, ''Ah, sudahlah!'' imbuhku.

''Hehehe ... lo mencintai dia, Har?''

Aku mengangguk perlahan.

''Kalau lo emang cinta dan sayang ama dia, mendingan lo samperin dia dan bicara baik-baik biar semuanya clear tanpa mengganggu pikiran ...''

''Ndut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

''Ndut ... terkadang berteman dengan dirimu ada faedahnya juga, ya ... lo bisa memberikan solusi cerdas untuk menghadapi masalah.''

''Hehehe ...'' Donggi jadi tersenyum ke-GR-an. Merasa idenya sangat prestisius. Brilian tapi kacangan.

''Kali ini aku ikuti saran kamu, Ndut!'' Aku bangkit dari kursi kerjaku.

''Hei ... lo mau ke mana, Har?'' cegah Donggi.

''Aku mau nyamperin cintaku!'' jawabku enteng sambil ngeloyor pergi meninggalkan Donggi yang berdiri terbengong. Persis orang bego. Songong.

''PeA', lo, Har! Lo ga gawe?'' pekik Donggi sok dongkol.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!