Part 22 : Gelisah

973 80 31

Hanya malam yang menyembunyikan berjuta cerita rahasia, meredam suara lengkuhan dalam keheningan, membisukan jeritan hati yang membara serta waktu berlindung untuk mendapatkan setapak kehangatan.

Aku belum bisa memejamkan kedua mataku, kala dengkuran Pyo mulai memecah kesunyian ruang peraduan. Kupandang langit-langit dengan kekosongan, saat hembusan nafasnya menderu, berkejaran dengan laju jarum jam di dinding yang telah menampilkan pukul 2 dini hari. Menjelang pagi. Waktu memang tak pernah berkompromi dengan siapa pun. Ia terus bergerak memutar dunia tanpa ampun. Tak peduli manusia-manusia yang melamun. Acuh terhadap jiwa-jiwa yang hancur tak bersusun.

Entah, aku memikirkan apa?

Setiap detik seolah terbuang sia-sia. Tanpa makna. Tiada guna. Mungkin, aku mendadak terkena serangan insomnia. Dan aku, tidak tahu bagaimana cara untuk melawannya. Berkali-kali mencoba memejamkan kelopak mata, namun tak jua berdamai dengan bantal. __Ah, sebal!

Aku hanya dapat bergelimpangan bersama alam benakku yang gentayangan. Mondar-mandir ke sana-kemari tanpa jelas dan ketenangan. Hingga tanpa aku sadari, badan Pyo terjaga dari kepulasan. Laki-laki muda ini bangkit dari pembaringan, lalu pergi ke sebuah ruangan. Ruang kecil tempat pembuangan urine dan ampas pencernaan.

Ketika pemuda tampan itu kembali ke tempat tidurnya. Aku langsung berpura-pura memejamkan mata. Dan untuk beberapa saat, suasana kembali senyap. Hanya suara detak jarum jam yang menghentak terdengar di telinga.

Semenit, dua menit tak ada sesuatu yang membuat batin menjerit. Hingga di menit ketiga, aku merasakan tubuhku mendapat dekapan hangat yang melilit-lilit. Nafasku seketika terasa sulit. Oh, Tuhan ... mungkinkah aku sedang dipeluk dedemit? Tidak! Itu hanya pikiran konyol yang terlalu pelit. Pelit untuk merasakan kepekaan diri yang sesungguhnya memendam rasa cinta 'sakit'. Cinta yang lahir dari pemikiran sempit yang hanya mengagungkan kenikmatan se-umprit. Shiiiiiitttt!

Ada apa ini, mengapa tiba-tiba Pyo memelukku seerat itu? Haruskah aku mengelak dekapannya atau membiarkan ia menjeratku sesukanya? Opsi kedua yang aku pilih. Aku membiarkan Pyo menjamah tubuh ini meski tanpa dalih. Sungguh, apa yang ia lakukan di luar dugaan. Tanpa segan pemuda tampan ini mengecup leherku. Memberikan tanda merah yang frontal di situ. Ia memang tak bicara, tapi deru nafasnya yang mengatakan seolah ia sedang kasmaran.

Pyo ... jangan memancingku, please!

Aku tidak lagi ingin bercinta, apalagi denganmu, tapi jika kekhilafan yang berbicara, mau tak mau tetap akan aku lakukan juga.

Aku tidak lagi ingin bercinta, apalagi denganmu, tapi jika kekhilafan yang berbicara, mau tak mau tetap akan aku lakukan juga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Srrruuuppp! Ough ... satu kecupan lembut mendarat di bibirku. Seketika itu juga aku membuka kedua mataku. Bukannya terperanjat dan takut, tapi Pyo malah memasang senyuman yang menggoda. Aku jadi tak berdaya. Tatkala ia menyeruput dan melumat habis daging bibirku dengan mesra. Astaga ... dari mana ia mempelajari ciuman seindah ini? Mungkinkah aku sedang bermimpi atau hanya sedang berhalusinasi?

Tidak! Ini nyata dan betul-betul terjadi. Aku masih sadar dan tahu benar apa yang dilakukan oleh pemuda tampan di hadapanku ini. Ia memang sedang mencumbui aku. Mengerayangi aku dan membuat rangsangan-rangsangan sensual yang menggairahkan kalbu. Pyo mengendus dan mencecap halus permukaan kulitku seperti seekor kucing jantan yang berada dalam siklus birahi dunia si Puss.

AAACCKKKHHH ... aku melengkuh, mendesiskan rasa yang tak terkira, ketika lidah Pyo mulai menjilati leher jenjangku. Sungguh, aku tak percaya kalau Pyo akan melakukan hal gila semacam itu. Bagaimana mungkin ia bisa mempratikan hal-hal intim yang membagkitkan gairah syahwat. Dari mana laki-laki muda ini terinspirasi? Aku jadi bingung dan heran dengan kepribadian Pyo, kadang ia polos dan lugu. Tapi terkadang ia juga liar, nakal, dan binal.

Apakah Pyo memiliki orientasi seksual yang sama denganku? Aku tidak tahu pasti. Tapi, bila ia melakukan tindakan-tindakan absurd terhadapku kini, membuatku yakin bahwa laki-laki yang sedang menindihiku ini memiliki ketertarikan gairah seksual yang melenceng.

OUGHH ... Pyo, apa lagi yang akan kamu lakukan?

Tiba-tiba pemuda tampan ini menyibakan kaosku ke atas dan membiarkan dada dan perutku terbuka bebas. Kemudian dengan sigap ia merundukan tubuhnya dan mulai menjilat dan menghisap-hisap putingku dengan buas.

Hentikan, Pyo!

Aku berontak dan menghalau cumbuan Pyo yang sesungguhnya membuatku bergidik. Aku menghentikan permaianannya, karena aku tidak mau larut ke dalam kenikmatan yang asik.

''Tidak, Pyo ... jangan kamu teruskan!''

Pemuda ini hanya tersenyum. Matanya berbinar dan berapi-api. Lalu tanpa permisi ia menjamah gundukan kontolku dan meremas-remasnya, hingga perkakas pribadiku ini menjadi ngaceng keras.

''Hahaha ...'' Ia tertawa jahat. Nampak senang memegang dan memainkan kontolku.

''Nakal!'' Aku menjewer kupingnya. Pyo hanya meringis manja. Kemudian dengan cepat brondong berkulit putih ini melorotkan celana kolorku. Dan sejurus kemudian mencuatlah kontol itu seolah terbebas dari jeratan tali kolor.

''Hehehe ...'' Pyo terkekeh menyaksikan kontolku berdiri menjulang seperti patung selamat datang.

Pyo ... apa yang akan kamu lakukan dengan kontolku?

AACCKKKHHHH ... Aku mendesah menahan jeritan, saat mulut Pyo sigap mencaplok benda kejantananku. Seketika itu pula rasa hangat dan basah menjalari di sekujur batang kontolku.

Sruuuppp ... Sruuuppp ... Sruuupppp ...

Aku tak kuasa lagi untuk menahan lengkuhan demi lengkuhan yang keluar dari mulutku. Karena sedotan mulut Pyo benar-benar membuat sekujur tubuhku terasa kelojotan. Aku menggelinjang tak karuan setiap lidahnya menyeruput dan menghisap kuat ujung lubang kontolku.

OUUGGGHHH ... rasanya merinding bulu Rhoma Irama hingga ia berujar, "TER-LA-LU!'' Tentu saja, terlalu enak untuk dinikmati.

__Ah, Pyo ... kau ini makhluk dari mana sih, lumatan mulutmu sungguh, membuat kontolku berdenyut-denyut seolah tak mau berhenti diemut. Teruskan, Pyo ... seponganmu membuatku terbang jauh ke awang-awang. Jangan berhenti, sebelum aku merasakan gejolak kenikmatan puncak terhakiki!

Seperti permen, rasakan manisnya, dan hisaplah hingga mengecil.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!