Part 15 : Isyarat

1.1K 93 25

Perlahan aku membuka pintu rumah kontrakan dan seketika itu juga mataku menangkap sebujur tubuh yang tergeletak lemah di lantai. Posisinya tengkurep dengan baju dalam keadaan basah kuyup. Sekujur tubuhnya gemetaran seperti orang yang kedinginan. Buru-buru aku menghampiri orang itu dan segera membalikkan tubuhnya. OMG! Aku mendadak tercengang, tatkala melihat wajah pias orang itu. Wajahnya tak begitu asing di indera penglihatanku, karena wajah tampannya sama persis dengan wajah pemuda yang kutemui di taman tempo hari.

Yups, laki-laki muda berambut abu-abu ini, tergolek lemas tak berdaya. Matanya terpejam, tubuhnya menggigil serta mulutnya komat-kamit dengan suara yang tak jelas.

‘’Hei ... kau kenapa?’’ ujarku cemas, namun pemuda ini diam saja, hanya giginya yang terdengar gelatukan.

‘’Kau pasti kehujanan, ya?’’ ujarku lagi, dan pemuda ini tetap membisu. Aku jadi bingung, apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar cemas dan panik. Aku tidak mungkin membiarkan dia dalam keadaan seperti ini.

‘’Oke, aku akan menolongmu ... maaf, jika aku terpaksa harus membopongmu!’’

Tak ada pilihan lain, kecuali aku harus membopong tubuh laki-laki muda ini dan membawanya masuk ke ruangan yang lebih teduh dan hangat.

Sreettt ... aku menggendong tubuhnya. Huh .. lumayan juga berat badannya! Untung, aku menggedong dalam jarak yang dekat, bila tidak ... tubuhku bisa dipastikan akan terkena encok.

Hmmm ... aku meletakan tubuh pemuda tampan ini di atas kursi. Dan saat itu, dia membuka mata kuningnya, tapi masih tak mau membuka mulutnya untuk berbicara. Pemuda ini hanya menatapku dengan pandangan nanar. Kemudian aku bergegas mengambil handuk kering yang masih baru. Lalu,  aku membantu melepaskan baju luar pemuda ini yang basah tersiram air hujan. Berikutnya, aku buru-buru mengeringkan tubuhnya dengan kain handuk tersebut. Ketika aku membantu melepaskan celana panjangnya yang juga basah, aku dibuat terkejut dengan kondisi pergelangan kaki kirinya yang nampak ada goresan bekas luka, di mana luka itu nampak seperti lukanya, Pusspyo yang juga memiliki bekas luka di pergelangan kakinya. Untuk beberapa saat aku terbengong memperhatikan bekas luka itu.

 Untuk beberapa saat aku terbengong memperhatikan bekas luka itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Huh ... aku membuang nafas panjang sembari menatap bola mata pemuda tampan ini yang masih diam tak bergeming. Hanya tubuhnya yang nampak bergerak-gerak gemetaran. Rupanya dia masih menggigil kedinginan.

Aku memeriksa sekujur tubuhnya, untuk memastikan apakah masih ada bagian dari tubuhnya yang masih basah. Setelah yakin, bahwa semua tubuhnya telah mengering, aku segera mengambil kain selimut untuk membungkus tubuhnya, agar menjadi lebih hangat dan nyaman.

‘’Aku akan membuatkan susu hangat buatmu!’’ ujarku dan pemuda tampan ini langsung melirik ke arahku. Tapi hanya sebentar, karena dia buru-buru menyembunyikan wajahnya dengan merunduk menghadap ubin.

Well, tanpa banyak ba bi bu, aku pun menyeduh segelas susu hangat, kemudian aku memberikan susu ini ke tangan pemuda tampan yang belum kuketahui siapa namanya ini.

‘’Minumlah ...’’ ucapku.

Laki-laki muda ini mengangguk sembari meraih gelas susu yang aku berikan. Kemudian dengan pelan dia mulai menyeruput minuman hangat tersebut.

‘’Oh ya, siapa namamu?’’ tanyaku ketika dia telah menghabiskan separuh gelas minuman susu itu.

Dia tidak menjawab, hanya mata bulatnya yang menatapku lekat-lekat, lalu dengan sangat pelan dia menggeleng. Entah, aku tidak tahu maksud dari gelengan kepalanya tersebut. Aneh!

‘’Kenapa setiap kali aku tanya kamu tak pernah mau menjawab?’’

Dia memandangiku lagi.

‘’Apa kau ini bisu dan tuli, ya?’’

Mata kuningnya langsung menyorot tajam ke arahku.

‘’Ya Tuhan, apa itu benar?’’

Pemuda ini menggigit bibir ranumnya perlahan-lahan.

‘’Jadi kau tidak bisa bicara dan mendengar?’’ Aku berusaha berkomunikasi dengan bahasa isyarat yang kuperagakan dengan gerakan tangan yang sesuai dengan makna kata yang aku ucapkan.

‘’Hei ... lihat aku baik-baik, ya!’’ Aku menyentuh tangannya, lalu kudekatkan ke dadaku.

‘’Kau ...’’ Aku menunjuk dirinya dengan kedua jari telunjukku.

‘’Tidak bisa!’’ Telapak tanganku melambai tepat di depan matanya.

‘’Ngomong?’’ Aku menyentuh mulutku dengan jari-jari yang menyatu, kemudian beberapa detik selanjutnya kubuka lebar-lebar telapak tanganku.

Dan apa reaksi dari pemuda tampan ini? Dia tersenyum, lalu menganggukan kepalanya pelan-pelan. Sungguh, aku jadi tercengang, karena merasa sangat  terharu. Dia bisa memahami bahasa isyaratku. Mataku mendadak berkaca-kaca dan otomatis merasa bersedih, karena baru menyadari ternyata pemuda tampan ini memiliki kekurangan, dia tak bisa berbicara dan juga tak bisa mendengar. Aku langsung speechless.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!