Part 10 : Pijat

1.2K 90 12

''Harsan ... kenapa, kok lo diem aja?'' tegur Budjang pelan sembari mendekat dan menyentuh bahuku. Aku sedikit terperanjat, karena sentuhan tangan Budjang cukup hangat.

''Lo lagi bengong ya, kenapa sih, Har ... Lo gak suka ya, kalo gue dateng kemari?'' kata Budjang dengan mimik wajah yang manyun.

''Ah, nggak kok, Jang ... bukan begitu!'' tukasku.

''Terus?'' Budjang mengkerutkan keningnya.

''Aku masih kepikiran Pusspyo ...''

''Hmmm ....'' Budjang melepaskan sentuhan tangannya dari bahuku.

''Aku tahu, dia belum sempat makan ... dia pasti lapar,'' ujarku sendu.

''Udahlah ... dia hanya seekor kucing, dia bisa bertahan hidup sendiri, dia bisa mendapatkan makanannya sendiri. Gue yakin kok, dia bisa menangkap tikus, cicak, atau apalah itu yang biasa kucing kampung lakukan, iya 'kan?'' Laki-laki tampan bermata sipit ini berusaha menenangkan aku.

''Iya, Jang ... kamu benar!'' timpalku.

''Mendingan lo istirahat aja, lo pasti sangat capek, apa lo mau gue pijitin, Har?'' saran Bujang sambil menatapku dengan tatapan mata yang syahdu.

''Emang ... kamu bisa mijit, Jang?'' tanyaku penasaran.

''O, bisa dong!'' jawab Budjang semangat seraya menempelkan telapak tangannya di atas leherku, kemudian perlahan dia memijit-mijit leher bagian belakangku.

''Tapi, apa tanganmu tidak nyeri, Jang ... buat memijit?''

''Ah, nggak kok, cakaran kucing kampung mah, kecil ...'' Tangan Budjang terus memijit-mijit lembut leherku. Pijitannya memang memiliki dinamika yang enak bila dinikmati. Sepertinya Budjang mempunyai kemampuan teknik memijat yang baik dan benar.

''Gimana, Har? Enak, nggak pijitan jemari gue?'' tanya lelaki beraroma wangi kembang lavender ini antusias seolah tak sabar ingin mengetahui respon jawaban dari mulutku.

''Iya, Jang ... pijitan tangan kamu, asik ...'' kataku.

''Enak, 'kan?

Aku mengangguk pelan sambil tersenyum tipis-tipis.

''Mendingan lo buka bajunya, Har ... terus berbaringlah di kasur!'' ujar Budjang berkomando.

''Hah ... buat apa?'' Aku mengernyit.

''Udah ... ikuti saja perintah gue!'' seloroh Budjang sedikit memaksa.

''Tapi ...''

''Gak usah tapi-tapian, Har ... atau lo mau, gue yang bantuin lepasin baju lo?''

''Emang, lo mau ngapain, Jang?''

''Gue mau terapis badan lo seluruhnya, Har ... kalau cuma leher doang, itu mah tanggung, mendingan sekalian aja!

Mataku menatap lurus laki-laki bertubuh kekar ini dengan seksama, senyumannya nampak mengembang membentuk cekungan yang terlalu manis untuk seorang laki-laki berotot semacam dia.

''Gue mau nunjukin kemampuan jari-jari tangan gue ini meremas dan mengurut tubuh pasien!'' kata Budjang yang membuatku jadi terkaget.

''Hah ... maksudnya?''

''Hahaha ... maksud gue, lo yang jadi pasiennya, Har!''

''Hmmm ...'' Aku bersingut.

''Udah, cepetan iiihh ... copot pakaian lo dan tengkureplah di kasur!'' komando Budjang tak sabar. Kemudian, dengan sedikit ragu, aku pun perlahan membuka pakaianku, hingga aku bertelanjang dada. Saat itu mata Budjang langsung fokus ke arah tubuhku, tatapannya berubah genit dengan melepas senyuman mesum.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!