Part 30 : Ibu

764 60 26

''Hallo ... Mbak Fenny!'' Aku berkomunikasi lewat telepon seluler menghubungi Mbak Fenny. Dia adalah salah seorang partner sekaligus leader di tempatku bekerja.

''Iya, halo Harsan! Ada apa? Tumben, pagi-pagi udah nelpon gue?'' sahut perempuan itu dari handphone pribadinya.

''Maaf nih, Mbak ... sebelumnya. Aku mau ijin, hari ini aku datang agak terlambat,'' terangku.

''Kenapa, kok terlambat?'' tanya dia dengan nada heran.

''Ada sedikit urusan yang harus segera aku selesaikan, Mbak!''

''Oh, gitu?''

''Ya, Mbak Fen ...''

''Okelah, moga cepat kelar urusannya, Har ... dan langsung datang ke tempat gawean!''

''Sip, Mbak ..., thanks, before!''

''You are welcome!''

Tut ... tut ... tut ... Aku mematikan panggilan teleponnya.

Yups, hari ini mungkin aku akan sedikit terlambat datang ke tempat di mana aku meraih setumpuk rupiah. Kenapa? Karena aku memutuskan untuk mengajak Pyo jalan-jalan ke sebuah taman. Tepatnya di taman Lapangan Banteng. Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Di sana aku berencana akan memberikan pemahaman kepada lelaki muda berambut abu-abu itu tentang kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya. Entah, seperti apa misi yang akan aku jalankan di lapangan yang terdapat patung monumen pembebasan Irian Barat itu. Biarlah nanti kupikirkan setelah kami berdua berada di sana.

Beberapa menit kemudian, aku dan Pyo pun akhirnya tiba di lokasi. Kami ke sana menggunakan jasa transportasi umum dengan bus berukuran sedang berwarna orange-biru. Kendaraan ini umumnya dikenal dengan sebutan Metromini. Oke, tak perlu ber-cas-cis-cus soal metromini, yang penting kami sudah berada di tempat yang sangat cocok untuk berolah raga ini.

Banyak pepohonan yang rindang, rumput hijau yang membentang, bermacam-macam bunga yang mengembang dan juga burung-burung yang berterbangan bersama kupu-kupu serta sang kumbang. Dan semua itu sangat menggoda mata untuk memandang. Suasana yang teduh dan udaranya yang sejuk, sungguh membuat jiwa jadi tenang. Damai seolah tiada kegamangan yang menyerang.

''Pyo ... apakah kamu suka kubawa ke tempat ini?'' Mataku menatap lekat bola mata Pyo yang berkilauan. Indah sekali. Iris matanya yang kuning nampak mentereng seperti kristal emas.

Pria muda ini tersenyum. Manis. Seperti gula merah. Sedap terpahat tak bosan dilihat.

''Lihatlah burung-burung itu!'' Aku menunjuk ke arah beberapa burung yang hinggap di dahan pohon. Mata Pyo langsung tertuju ke sana.

Aku memang sengaja menunjuk ke segerombolan burung-burung itu, karena di sana ada sepasang burung yang memiliki ukuran tubuh yang berbeda. Yang satu lebih besar dari yang lainnya. Dan kemungkinan, yang besar merupakan induk dari yang kecil. Aku meminta pada Pyo untuk memperhatikan burung-burung itu. Di mana burung yang besar sedang menyuapi makanan ke mulut burung yang kecil. Pemandangan yang sederhana, namun sangat menyentuh. Seekor induk yang selalu memperhatikan anaknya dan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Pyo terus memperhatikan aksi teatrikal burung-burung itu. Sesekali ia tersenyum dengan sorotan mata yang berbinar-binar. Namun saat ia melihat sang induk yang mengusapkan kepala di kepala anaknya, tiba-tiba Pyo tercengang dengan pandangan mata yang berubah menjadi berkaca-kaca. Apa yang dirasakan Pyo kini, mungkinkah ia bisa memahami dari sikap sang induk? Aku berharap begitu. Karena ini salah satu dari tujuanku.

''Pyo ...'' Aku menyentuh bahu pemuda berparas putih cerah ini. Ia menoreh dengan tatapan sayu.

''Kenapa?'' Aku mencubit pipi tembemnya. Pyo jadi meringis.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!