Part 50 : Akhir Kisah Ini

1K 73 92

Mas Harsan,

Maafkan aku karena aku pergi tanpa pamit. Aku tidak marah sama kamu, Mas. Aku hanya tidak memiliki kekuatan untuk memberikan pelukan perpisahan. Aku tahu apa yang dilakukan Mas Harsan kepadaku itu sebuah pengorbanan. Kau memberikan perhatian dan pengertian utuh untuk kebaikanku. Untuk masa depanku. Kau membujuk dan merayuku untuk pergi ke luar negeri, karena kau inginkan hal terbaik buatku. Sungguh mulianya dirimu, Mas. Aku baru sadari itu.

Aku pergi akan lama, Mas ... namun bukan untuk tak kembali. Mungkin dua atau tiga siklus Bulan Biru terjadi aku bisa menemuimu lagi. Aku datang dengan jiwa dan semangat yang baru, Mas. Aku janji, aku akan menemuimu saat aku bisa mengucapkan kata, 'I LOVE YOU' hingga 1000x dengan lidahku. Aku juga ingin mendengar suara lembutmu saat mengatakan, ''Pyo, aku sayang kamu.'' Tak ada kebisuan, tak ada ketulian. Dan itu semua yang kita harapkan. Bertahun-tahun aku hidup dalam kebungkaman dan kesunyian. Aku sangat ingin mendengar elegi cinta dua manusia. Aku juga ingin berikrar bersamamu untuk memadukan dua hati dalam satu janji. Saling menyayangi dan mencintai. Meskipun kita sama-sama laki-laki. Namun aku yakin, cinta tak memandang jenis kelamin. Karena cinta itu ungkapan perasaan yang berasal dari hati nurani. Jujur. Tanpa hasutan dan benteng norma-norma.

Mas Harsanku,

Selama aku jauh darimu, jangan rindu, ya ... karena rindu itu berat. Aku yakin kamu kuat menahan rindu, tapi alangkah baiknya simpan tenagamu untuk hal yang lain. Kau boleh bermain cinta dengan siapa pun asal jangan kau berikan hatimu. Cukup buatku saja. Senyumlah untuk semua orang, tapi hatimu, jangan!

__000__

__000__

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hmmm ... aku tidak menyangka kalau Pyo memiliki pemahaman sedalam itu. Selama ini aku berpikir bahwa Pyo itu ABG (Anak Baru Gede) labil yang kelewat sentimentil. Akan tetapi kenyataannya, dia jauh lebih dewasa dari usianya sendiri.

__Ah, Pyo ... aku ingin kau cepat kembali.

Aku menghembuskan nafas dalam dan kembali mendongak ke arah jendela. Bus ini berhenti tepat di halte Indosiar, Daan Mogot, Jakarta Barat. Dari kaca jendela ini aku melihat segerombolan cowok-cowok seusia Pyo. Dandanannya rapi, stylish, dan ganteng-ganteng. Mereka seperti model. Mungkin lagi ada acara fashion show di stasiun TV swasta tersebut. __Ah, semenarik apa pun gaya dan tampang mereka, aku tidak bisa move on dari jeratan pesona Pyo.

Aku memalingkan pandanganku saat bus transjakarta ini mulai berjalan lagi. Aku pun kembali berkonsentrasi pada surat tulisan tangan Pyo. Bait per baitnya aku cerna baik-baik karena di setiap katanya ada makna yang mendalam dan mampu membius kalbu.

 Bait per baitnya aku cerna baik-baik karena di setiap katanya ada makna yang mendalam dan mampu membius kalbu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!