Part 36 : Barber Shop

649 61 30

Sehari sebelum hari ulang tahun Pyo.

Aku datang ke sebuah Barber Shop yang ada di deretan Jalan Pangkalan Asem, Rawa Selatan, Jakarta Pusat. Dari sekian banyak barber shop yang berjajar di sepanjang jalan itu, nampak sebuah ruko yang berdiri kokoh dengan memasang neon box bertuliskan 'Raja Cukur'.

Tanpa ragu aku memasuki bangunan itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tanpa ragu aku memasuki bangunan itu. Seorang karyawan menyambutku dengan ucapan salam dan menebar senyuman manis yang tersungging dari bibirnya. Tak hanya itu ia juga memberikan sebotol minuman ringan sebagai wujud dari welcome drink. Kemudian ia menghantarkan aku menuju ke ruang antrian untuk menunggu giliran. Ada beberapa tempat duduk yang berjajar di sini. Ruangannya sejuk karena difasilitasi dengan AC (Air Conditioner).

Hari ini pelanggannya cukup ramai, jadi aku harus bersabar untuk mendapatkan jatah pelayanan. Hanya ada dua hair stylist dan satu orang kasir yang merangkap sebagai resepsionis. Dan semua hair stylist sedang menunjukan aksi seni memotong dan menata rambut para pelanggannya. Aktraktif dan cekatan. Tangan mereka sangat terampil dalam mengeksekusi rambut pelanggan, hingga hasil akhirnya para pelanggan-pelanggan itu jadi nampak fresh dan lebih stylish. Wajah mereka segar, bugar dan jauh dari kata sangar. Pokoknya mereka jadi terlihat menarik dan ciamik.

Well, kini tiba giliranku.

Aku langsung duduk di kursi execution (kursi khusus barbershop). Pandanganku lurus menghadap kaca, memandang wajahku sendiri yang terlihat cute walau rambut masih acak-acakan dan kusut.

''Mau dicukur model apa, Mas?'' tanya seorang hair stylist yang menjadi eksekutor rambutku. Ia bertanya sambil melingkarkan kain panjang di leherku, hingga menutupi hampir seluruh tubuhku.

''Entahlah, Bang ... mungkin Abang punya saran untuk gaya rambut yang sesuai dengan karakter wajahku?'' jawabku.

Si Hair Stylist ini memperhatikan wajah dan jenis rambutku. Sangat detail dan teliti, ''Wajah Mas, bentuknya bulat, ya? Kayaknya lebih cocok bila gaya potongan rambutnya dibuat Angular Fringe,'' ujarnya.

''Maksudnya?'' Aku mengkerutkan kening.

''Angular Fringe ini potongan model rambut yang dibuat potongan pendek, bagian samping sisi kanan dan kiri dicukur lebih tipis. Bagian depan dan tengah dibiarkan agak tebal biar bisa diatur sesuka hati, mau ke depanin seperti poni, dibelakangin menggunakan gel atau menyamping, terserah sesuai selera,'' terang Sang Hair Stylist ini.

''Oke, deh!'' timpalku menyetujui usulannya.

Dan selanjutnya hair stylist yang kuperkirakan berusia di bawah 30 tahun ini pun segera melaksanakan tugasnya. Ia mulai membabat rambutku sesuai dengan gaya yang akan ia bentuk. Aku hanya pasrah dan percaya dengan keahliannya dalam bidang penataan rambut.

Sepuluh menit kemudian ...

Cling! Aku telah mempunyai gaya rambut baru. Aku jadi merasa terlihat lebih muda, lebih tampan, dan lebih menggoda. Dengan penampilan baruku ini, pasti banyak yang mengira kalau usiaku masih brondong. Padahal you know-lah aku sudah kadaluarsa bila di katakan brondong. Hehehe ...

Setelah membayar sesuai dengan tarif pelayanan, aku pun bergegas meninggalkan barber shop yang memiliki standar pelayanan di atas rata-rata pelayanan pemangkas rambut khusus pria pada umumnya itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah membayar sesuai dengan tarif pelayanan, aku pun bergegas meninggalkan barber shop yang memiliki standar pelayanan di atas rata-rata pelayanan pemangkas rambut khusus pria pada umumnya itu. Aku kasih bintang 4 dari 5 untuk semuanya! Kok Cuma 4? Ya, kalau 5 berarti sempurna, dong! 'Kan di dunia ini tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Idiiihhh ... sok ceramah nih, Harsan! Biarin, tak boleh protes. Hehehe ...

Usia bercukur ria, selanjutnya aku akan pergi untuk berburu barang sebagai hadiah ulang tahun Pyo. Kira-kira apa, ya? Sesuatu yang sederhana, tapi sangat berkesan. Ada yang mau membantuku untuk mencarikan? Aku minta bantuan siapa? Jangan konyol deh, aku sekarang sendirian. Tak ada yang berdiri di sampingku. Bagai angka satu. Kemana-mana dan ngapain aja selalu sendirian. Menyedihkan!

Aku tidak tahu, apa kegemaran Pyo? Apa yang tidak ia sukai? Apa yang belum ia miliki? Apa, apa, dan apa ... terlalu banyak yang tidak kumengerti dari Pyo. Namun, mengapa ada kerinduan yang hadir dalam diriku. Siapa Pyo? Apa makna kehadirannya dalam hidupku? Adik bukan, pacar pun bukan. Akan tetapi, ada segumpal rasa yang senantiasa menggelora sejak aku berjumpa dengan dirinya.

Pyo, andai engkau tahu betapa dalamnya rasa ini, rasa yang mencabik jiwa hingga terhempas dalam ketidakpastian. Antara aku dan kau, masih ada sebuah dinding yang menjadi penghalang. Mampukah kita menghancurkan dinding itu?

Cinta, akan kuberikan bagi hatimu yang damai

Cintaku, gelora asmara seindah lembayung senja

Tiada, ada yang kuasa

Melebihi, indahnya ... nikmat bercinta

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!