Part 46 : Berkelahi

605 55 19

Laki-laki muda berambut abu-abu. Bermata kuning. Memiliki kulit putih cerah. Tersenyum manja memamerkan gigi ginsulnya yang runcing. Tampan. Manis. Memesona. Aku suka. Pyo berdiri tegap di depanku. Kami saling bertatapan. Bertukar pandangan saling menjerat mata kami masing-masing.

Tiba-tiba Pyo memelukku dan mencumbuiku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tiba-tiba Pyo memelukku dan mencumbuiku. Erat dan mesra. Bagai seekor singa yang kelaparan, ingin segera melahap mangsanya. Aku sampai kualahan menghadapi sikapnya yang kelewat kolokan. Ia terus mencium kening, pipi dan bibirku. Tak memedulikan aku yang terengah-engah. Hingga ia sadar ada sosok lain di rumah ini. Ia nampak terperangah melihat keberadaan Budjang di antara kami.

Pyo melepas pelukannya dari tubuhku. Pandangannya lurus menatap wajah Budjang dengan tatapan mata yang runcing. Mungkin ia terkejut, marah, membencinya atau apalah ... aku tidak tahu pasti. Namun yang jelas, ada rasa kekecewaan di raut wajah Pyo yang mengkerut. Hidungnya berkedut. Dan hembusan nafasnya terdengar pendek bersingut-singut. Seperti seekor kucing yang mengendus curut.

''Waw ... ada makhluk menakjubkan yang baru pertama kali gue lihat,'' celoteh Budjang sembari bangkit dari tempat duduknya. Bola matanya liar memandangi tubuh Pyo dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Pyo masih terpaku di tempatnya dan tatapannya semakin tajam. Aku sendiri jadi terbengong. Melempong bagai sapi ompong.

''Apa dia itu BF lo, San?'' tanya Budjang.

''Hehehe ...'' Aku meringis, lalu mengangguk perlahan.

''Tampan juga BF lo, San ...'' puji Budjang sembari berjalan mendekati aku.

Aku tersenyum. Pyo belum merubah sikapnya.

''Tapi dia aneh, San ...'' bisik Budjang di kupingku, ''ia seperti seekor kucing ...'' lanjutnya sembari memegang bahuku. Dan apa yang terjadi? Baru sedetik Budjang ngomong begitu, dengan gesit Pyo menyambar tangan Budjang dan menghempaskannya jauh-jauh dari bahuku.

''Huhmmm!'' geram Pyo kesal. Matanya melotot tajam ke arah Budjang. Aku baru melihat Pyo semacam ini.

''Heyyy ... woles, Bro!'' seru Budjang tak kalah kesalnya.

Pyo mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu dengan cepat. Super cepat. Seperti sambaran kilat. Kepalan tangan Pyo menghantam tubuh Budjang. BUGGGG!!! Tepat mengenai dada kanannya hingga laki-laki muscle itu tersungkur mundur beberapa langkah.

''ANJIIINNNNGGGG ... APA-APAAN INI!!!'' seru Budjang geram sembari memegangi dadanya yang terpukul.

Pyo hendak melayangkan hantamannya kembali, tapi aku bergerak cepat menahan tubuh Pyo.

''Pyo ... tenang! Tenang!'' ucapku berusaha menenangkan brondong tampan ini. Namun Pyo berontak kasar.

''HEYY ... BOCAH TENGIL! LO MAU NGAJAK BERANTEM SAMA GUE, AYO SINI GUE LADENI!'' Bentak Budjang marah-marah.

Dengan sekuat tenaga Pyo melepaskan dekapanku, lalu ia bergerak sangar ke arah Budjang. Tanpa rasa takut sedikit pun Pyo menyerang Budjang dengan membabi buta. Bahkan ia berhasil mencengkram lengan Budjang, lalu mencakarnya hingga berdarah-darah. Mendapat serangan semacam itu Budjang tidak tinggal diam. Laki-laki ini mengepalkan tangannya lalu membalas memukul tubuh Pyo beberapa kali, BUGG! ... BUGGG!!! ... hingga Pyo terhuyung ke belakang.

''Stop Budjang! Hentikan, Please!'' Aku bergerak di antara mereka dan mencoba melerai.

''Stop Budjang! Hentikan, Please!'' Aku bergerak di antara mereka dan mencoba melerai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

''TIDAK ... BOCAH ITU SUDAH MELUKAI LENGAN GUE, GUE HARUS NGASIH PELAJARAN BUAT DIA!'' gertak Budjang masih dengan geram seraya berusaha menghempaskan tubuhku yang menghalang-halanginya.

''Tolong mengertilah, Jang ... dia hanya anak brondong. Masih labil! Kamu jangan tersulut dengan emosinya!''

''AH, TAEK!!!''

Di saat genting dan mendebarkan ini, muncullah Pak Sukree dari balik pintu.

''Ada apa ini?'' ujarnya bertanya-tanya. Heran dan kebingungan melihat sikap kami yang seperti sedang perang dunia ketiga.

''Pak Sukree, tolong tenangkan Pyo, Pak!'' titahku.

Pak Sukree langsung bergerak mendekati Pyo dan menenangkannya. Sementara aku masih menghadapi Budjang menahan sekuat tenaga untuk menghalangi dia yang hendak bergerak maju ingin menyentuh Pyo.

''Pak Sukree ... bawa Pyo keluar!'' komandoku. Dan laki-laki setengah baya itu segera menuruti ucapanku. Ia menarik tubuh Pyo dan membawanya keluar dari rumahku.

''FUCKKK!!!!'' Seru Budjang sambil memukul-mukul tembok.

''SIAL ... SIAL ... SIAL ... ANJING!'' umpat Budjang tak henti-henti.

''Maafkan sikap Pyo ya, Jang ...''

''Hmmm ... Pyo?'' Budjang mengkerutkan keningnya.

''Ya ... brondong itu Pyo namanya!''

''Lo kenal dia dari mana sih, liar banget! Benar-benar seperti kucing kampungan!''

''Kamu belum mengenal dia aja, Jang ...''

''HUH ... sumpah gue kesal banget, gue belum puas menghajar dia ... kenapa sih setiap gue datang ke tempat lo gue selalu sial ... dulu kucing lo yang menyakar gue, sekarang BF lo yang ikutan menyakar gue, 'kan ANJING!''

''Sorry, Jang ... aku juga tidak tahu kalau akan seperti ini,'' ucapku sembari mencari obat merah di kotak obat.

Sejurus kemudian ...

''Nih, obatin lenganmu pakai obat ini ...'' Aku menyerahkan betadine ke tangan Budjang.

''Iya ... San,'' jawab Budjang nyengir seolah menahan perih, ''eh ... lo mau kemana?'' lanjutnya bertanya saat aku hendak keluar dari pintu.

 lo mau kemana?'' lanjutnya bertanya saat aku hendak keluar dari pintu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

''Aku mau menemui Pyo ...'' jawabku sembari ngeloyor pergi.

''HUFTTT!!!'' Budjang bersingut kesal.

Aku tak peduli. Aku tetap keluar rumah dan berjalan menghampiri Pyo yang telah berada di dalam mobil Audi A4 bersama Pak Sukree.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!