Part 26 : Bayi Laki-laki

876 75 7


Intuisi hati adalah indera kepekaan yang menembus batas naluri. Mampu membaca pikiran tanpa salah, dan menyelam batin tanpa cela.

Keheningan ruangan ini begitu syahdu. Menuntun benak Bunda Dorkas menyusuri lorong waktu. Beberapa kali matanya terpejam, hingga jiwanya terbawa ke masa silam. Masa di mana kisah Pyo berawal.

''Suatu pagi ...'' Suara Bunda bergetar, tapi masih jelas terdengar.

''Suara tangis seorang bayi mengusik kedamaian seluruh penghuni panti. Seorang petugas keamanan mendapati sebujur tubuh mungil yang terbungkus jarit (kain batik panjang) di dalam kardus indomie. Beberapa pasang mata terbelalak menyaksikan bayi laki-laki itu, memandang dengan tatapan heran karena kondisi tubuhnya yang tidak biasa. Tetapi tidak bagi saya, karena menurut saya itu keajaiban Tuhan yang terpancar pada diri tubuh sang bayi. Rambutnya abu-abu, kulitnya putih pucat dan matanya berwarna kuning. Ia memang nyaris seperti anak seekor kucing. Di dalam kardus tersebut, kami juga menemukan selembar surat wasiat, mungkin ditulis oleh orang tuanya. Kertas putih itu tergores sebuah tinta merah yang melafazkan sebuah nama, PYO CHANDRA PUSPITO.

 Kertas putih itu tergores sebuah tinta merah yang melafazkan sebuah nama, PYO CHANDRA PUSPITO

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sejak saat itu, nama ini kami sematkan pada bayi laki-laki yang malang itu. Meskipun kondisi tubuhnya yang sedikit aneh, kami merawatnya dengan penuh kasih dan sayang, hingga ia tumbuh menjadi seorang bocah laki-laki yang rupawan. Namun, tepat di usianya menginjak satu tahun. Kami mendapati ketidaknormalan pada bocah itu yang memiliki sikap yang kurang responsif dalam berkomunikasi. Ketika kami periksakan ia ke dokter spesialis anak dan dokter THT (Telinga Hidung Tenggorokan). Dokter itu memberikan kabar yang kurang menyenangkan, sang dokter menyatakan kalau Pyo menderita gangguan pada indera pendengarannya sejak lahir. Itu sebabnya ia tidak bisa mendengar dan juga tak bisa berbicara.

Mata Bunda mendadak sembab, beliau sessenggukan dan berusaha menghapus air matanya yang mengalir tak terkontrol. Aku jadi turut terharu.

''Meskipun Pyo menderita tuna rungu dan tuna wicara, tapi ia tetap tumbuh menjadi bocah laki-laki yang ceria dan cerdas. Kami menyekolahkan Pyo di sekolah Anak Berkebutuhan Khusus atau SLB (Sekolah Luar Biasa) tipe B (tuna rungu) yang mempunyai fasilitas yang memadai untuk menunjang perkembangan jiwa dan mental sang anak.

Bunda kembali menitikan air mata, namun dengan cepat pula ia menghapusnya dengan punggung tangannya. Aku hanya tertegun menyimak narasinya yang memang terdengar menyentuh hati. Kisah Pyo seolah menyadarkan aku untuk selalu bersyukur dengan apa yang aku miliki.

''Pyo adalah salah satu anak yang menjadi korban dari tindakan orang tuanya yang kurang bertanggung jawab. Banyak yang bilang Pyo lahir karena hubungan di luar nikah. Ia juga cacat dan memiliki tanda lahir yang aneh, mungkin itu sebab mengapa orang tuanya tega membuangnya ke panti ... Tapi bagi saya itu tidak benar ... Pyo lahir dengan begitu banyak keistimewaan, ia anugrah yang tak ternilai ... saya sangat menyayanginya.''

Lagi-lagi Bunda menangis.

''Bunda ..., Pyo sudah lama tinggal di panti dan mendapatkan kasih sayang yang sempurna dari seluruh penghuni panti. Maaf, ada yang ingin saya pertanyaan kepada Bunda ...''

''Ya, silahkan ... kau mau mempertanyakan apa, Nak?''

''Mengapa Pyo kabur dari panti, Bun?''

Bunda nampak tersenyum tipis. Beliau mengambil sehelai tisu, kemudian membersihkan ingusnya yang banjir di lubang hidungnya yang nampak memerah seolah tak mau berkompromi.

''Beberapa minggu yang lalu ...'' Bunda mulai membuka mulutnya kembali, ''ada seorang wanita yang mengaku orang tua kandung dari Pyo,'' lanjutnya.

''?'' Aku mengkerutkan kening.

''Kami tidak serta merta percaya dengan pengakuannya ... lalu kami pun melakukan pendekatan dengan secara intens. Meminta bukti-bukti kuat yang berkaitan, bahkan kami juga telah melakukan test DNA (deoxyribonucleic acid/ asam deoksiribonnukleat), dan hasilnya ... Pyo memang anak kandung dari wanita tersebut.''

''Oh ...'' Aku sedikit melongo.

''Demi masa depan Pyo yang lebih baik, kami pun rela menyerahkan kembali ke tangan orang tuanya, karena Pyo juga tak mungkin tinggal selamanya di Panti, ia sudah cukup dewasa ...

Aku memanggut-manggutkan kepala perlahan.

''Namun, sehari sebelum orang tuanya datang menjemput Pyo ...''

Aku mengkerutkan kembali keningku dan menatap baik-baik bola mata Bunda yang masih penuh dengan genangan air mata.

''Pyo kabur meninggalkan panti ... mungkin ia tidak mau pulang bersama orang tuanya.''

''Oh ... gitu toh, Bun ...''

''Iya, Nak ... jika kau masih tinggal bersamanya, mohon bujuklah ia agar mau kembali dan pulang bersama orang tua kandungnya.''

''Iya, Bunda ... tapi ... tapi masalahnya ...''

''Masalahnya kenapa, Nak?''

''Bunda ... Maaf, Pyo juga sudah pergi dari rumah saya ...''

''Ya, Tuhan ... '' Bunda jadi tercengang. Sekujur tubuhnya gemetaran dan air matanya kembali bercucuran. Deras. Bagai air hujan.

''Tapi, Bunda tak perlu khawatir ... saya akan berusaha membantu mencari keberadaannya, saya ... saya janji, Bun ...''

Bunda tak bisa berkata apa-apa lagi, beliau hanya terdiam dan terduduk di kursinya. Pandangannya hampa, menerawang jauh entah ke mana.

Harapan itu pasti ada, bagi yang mempercayainya. Yakin adalah kunci pematah kemustahilan.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!