Part 44 : Obrolan

594 58 15

Waktu telah berada di ujung malam. Aku pun akhirnya berpamitan. Walau masih enggan, Pyo dan keluarganya tetap aku tinggalkan. Aku pulang. Bersama Pak Sukree yang menghantarkan. Di dalam naungan mobil Audi A4, kami meluncur menembus udara malam yang kurang bersahabat. Dingin dan senyap menjadi teman dalam perjalanan. Sesekali mata ini menatap ke arah jendela dan mengintip pemandangan jalan yang sudah mulai sepi. Tenang dan damai seperti kota yang mati suri. Pikiranku jadi menerawang jauh, entah ke mana. Banyak hal yang berkecamuk dalam benak. Meletup-letup seperti jitakan yang menghentak kepala. Aku pusing tujuh keliling. Ah ... terasa garing. Bagai keripik emping.

''Sudah lama Mas Harsan kenal sama Den Pyo?'' celetuk Pak Sukree tiba-tiba di tengah laju kendaraan saat melewati jalanan yang lengang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

''Sudah lama Mas Harsan kenal sama Den Pyo?'' celetuk Pak Sukree tiba-tiba di tengah laju kendaraan saat melewati jalanan yang lengang.

''Ya ... lumayan, Pak,'' jawabku rada kikuk.

''Beruntung dia jadi pewaris tunggal di keluarganya ...'' Suara Pak Sukree lebih terdengar empuk seperti kasur kapuk. Terasa ramah dan berwibawa. Mengalir enteng seperti air.

''Oh ya, benarkah?'' Aku jadi bersemangat untuk meladeninya. Padahal sebelumnya ia nampak kaku dan sangat jauh dari kesan sumeh.

''Iya ...'' Pak Sukree mengangguk dengan melepas senyuman yang lumayan manis tapi dikit.

''Memangnya Kakak Fransisca dan Koko Alexander tidak memiliki anak lagi, Pak?'' Aku jadi kepo.

''Tidak ...'' jawab Pak Sukree singkat sambil berkonsentrasi menyetir mobilnya.

''Oooh ... gitu.'' Aku mengangguk-anggukan kepala sok paham.

''Iya makanya, walaupun Pyo lahir kurang sempurna tapi memiliki keberuntungan yang melimpah.'' ucap laki-laki berkumis tebal ini masih dengan entengnya.

''Namun Pyo bertahun-tahun menderita, Pak ...'' tadahku.

Pak Sukree terdiam sejenak, lalu ... ''Ya, kasihan nasib anak itu terbuang sejak dilahirkan ... dan neneknya sendiri yang membuangnya.'' ujarnya pelan.

''Bapak sudah lama bekerja di keluarga itu?'' tanyaku.

''Ya sudah cukup lama, Mas ... sejak Nyonya Fransisca masih gadis,'' jawab Pak Sukree.

''Oh, pantesan Bapak tahu intrik yang terjadi di keluarga itu ...''

''Hehehe ... iya sedikit banyak tahulah.'' Pak Sukree tampak meringis.

''Apakah Bapak juga tahu kalau Kak Fransisca dan Koko Alexander menyayangi Pyo?''

''Apakah Bapak juga tahu kalau Kak Fransisca dan Koko Alexander menyayangi Pyo?''

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

''Ya pastilah, mereka sangat menyayangi Pyo. Pyo adalah buah cinta mereka. Cinta yang penuh dengan perjuangan. Karena kisah cinta mereka mendapat pertentangan dari kedua orang tua mereka masing-masing.''

''Oh ternyata begitu toh, Pak.'' Aku mengkerutkan kening.

''Ya ... apa pun kondisinya, Pyo adalah anak mereka, darah daging mereka. Dan mereka pasti akan selalu meyayanginya.''

''Syukurlah kalau orang tua Pyo bisa menyayanginya dengan tulus, aku jadi senang dan tenang mendengarnya.''

''Ya, Mas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

''Ya, Mas ... dan demi kebaikan anak mereka, mereka akan membawa Pyo ke luar negeri, minggu depan.''

''Hah ... minggu depan?'' Aku bicara dengan nada terkejut.

''Ya Mas, apa Mas belum tahu?'' Pak Sukree turut terkejut melihat ekspresiku yang menurutnya aneh, mungkin.

''Saya tahu Kak Fransisca akan membawa Pyo ke luar negeri, tapi saya tidak tahu kalau mereka akan pergi dalam waktu sedekat itu.''

''Mereka sudah tidak sabar untuk membawa Pyo berobat ke tempat yang peralatannya lebih canggih dan modern ... mereka ingin secepatnya melihat Pyo tumbuh normal seperti orang pada umumnya.''

Aku jadi tertegun. Aku tidak menyangka mereka akan membawa Pyo pergi secepat itu.

Suasana di dalam mobil mendadak tenang. Pak Sukree fokus mengendalikan kemudinya hingga kendaraan mewah ini berjalan sesuai harapannya. Cepat dan lancar. Sementara aku terdiam dan hanyut ke dalam pikiranku sendiri yang terasa njelimet. Aku masih tak rela bila harus terpisah dengan Pyo dengan jarak yang terlampau jauh. Mungkinkah aku mampu menahan beratnya rasa rindu yang menumpuk hingga perasaan hatiku lumpuh. Ah ... sanggapkah aku untuk menempuh. Menjalani hari-hari dalam kesunyian kembali tanpa ada kekasih yang dapat menghangatkan tubuh. Aduh ... aku jadi rapuh. Hmmm ...

Tak terasa kami pun tiba di sebuah gang yang dekat dengan rumah kontrakanku. Aku turun dari mobil Audi A4 itu. Aku melenggang santai ke tempat peristirahatanku, setelah mobil yang dikemudikan Pak Sukree itu menghilang dari pandangan mataku.

''Terima kasih Pak Sukree atas penghantarannya dan juga informasinya,'' ujarku dalam hati.

Uuuhh ... malam ini aku akan tidur dengan sangat pulas. Pertemuanku dengan Pyo benar-benar membuat energiku terkuras. Ia menjadikan aktivitas ranjang seperti permainan bebas yang sangat buas. Kasar dan keras tapi bikin puas.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!