Part 13 : Pemuda Tampan

1.1K 85 26

Seminggu telah berlalu, tapi aku belum juga menemukan keberadaan Pusspyo. Entahlah, di mana dia sekarang. Sosoknya seolah hilang ditelan perut bumi. Meskipun demikian aku tak pernah lelah untuk mencarinya. Setiap ada kesempatan, aku berusaha mengendus jejaknya dengan penuh pengharapan.

Bila dia masih hidup, aku berharap dia tinggal di tempat yang terdapat makanan yang cukup. Namun, bila dia telah tiada, aku berharap ada orang yang sudi mengurus dan mengubur jasadnya. Aku akan ikhlas melepas kepergiannya, jika memang aku tidak bisa lagi berjumpa dengannya. Biarlah, Pusspyoku tenang di alamnya yang baru.

Sejalan dengan pergerakan roda sang waktu, aku pun mulai melupakan keberadaan Pusspyo. Aku menganggap kucing jantan abu-abu itu, telah berlalu dari kehidupanku dan hanya menyisakan kenangan yang kelabu.

Akan tetapi, di saat aku mulai melupakan kucing jantan kesayanganku itu, aku dihadapkan kembali dengan kenyataan miris yang mampu menggugah ingatanku akan kucing yang telah memberikan kenangan manis. Ya ... di sebuah taman senja itu, aku berjumpa dengan sesosok makhluk yang seakan tak asing di indera penglihatanku. Apakah aku bertemu dengan Pusspyo? Tidak! Karena yang aku lihat bukan seekor kucing jantan. Di mataku tercermin sesosok manusia berpenampilan seperti laiknya seorang laki-laki muda jaman now. Rambutnya berwarna abu-abu dengan potongan rambut yang modern style. Jabrik ngacak berantakan, tapi terlihat keren. Kulitnya cerah dengan wajah yang nampak agak pucat. Dia duduk termangu di sebuah bangku panjang dengan mengenakan kaos warna abu-abu yang diselimuti jaket berwarna grey alias abu-abu juga.

 Dia duduk termangu di sebuah bangku panjang dengan mengenakan kaos warna abu-abu yang diselimuti jaket berwarna grey alias abu-abu juga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sungguh, aku jadi penasaran dengan penampakan pemuda yang berpenampilan serba abu-abu ini. Walaupun agak ragu, tapi aku mencoba mendekati pemuda itu.

''Hai ...'' sapaku, tapi dia tak sedikit pun menggubris. Laki-laki muda ini hanya sibuk dengan gadget-nya yang berada di genggaman tangan kanannya. Pandangannya merunduk menghadap layar smartphone tersebut.

''Permisi ... Maaf, bisakah kamu membagi sedikit bangku ini buatku?'' kataku. Dan laki-laki yang kuperkirakan berusia 20 tahun ini mendongak ke arah wajahku. Saat itu aku sangat terkejut, karena iris mata pemuda berwajah tampan ini berwarna kuning terang persis seperti mata seekor kucing.

''Hei ... bola matamu indah sekali, apa kau mengenakan lensa kontak?'' ujarku serentak.

Pemuda ini tak bergeming, ia hanya menatapku sebentar dan buru-buru menunduk kembali, lalu tanpa berkata apa pun dia menggeser tubuhnya, untuk memberikan jarak pada bangku agar aku bisa mendudukinya.

''Terima kasih,'' ucapku sembari meletakan pantatku di sebelah pemuda misterius ini.

Sejenak, aku terdiam. Kemudian melirik ke arah laki-laki berhidung mancung itu yang masih saja sibuk dengan benda di tangannya. Entah, dia sedang mencermati apa dari layar perseginya itu.

''Hai ... bolehkah aku mengenalmu?'' ucapku.

Pemuda beralis tebal ini diam saja.

''Siapa namamu?'' tanyaku.

Dia tetap tak mau membuka mulutnya.

''Huh ...'' Aku jadi menghela nafas merasa dicuekin.

''Baiklah, sepertinya kamu tidak suka berkenalan denganku. Aku tidak akan mengganggumu lagi,'' lanjutku.

Laki-laki muda ini masih saja membisu, ia cuek dan seolah tak peduli dengan keberadaanku.

Lantaran tak ada respon yang baik, aku pun tidak akan berbicara dengannya lagi. Akan tetapi pada saat aku hendak memalingkan pandanganku, tiba-tiba ia melengoskan wajahnya ke arahku dan saat itulah aku melihat dengan jelas garis hitam yang tergores di pipinya yang dekat dengan pertumbuhan rambut-rambut kumis. Jika diperhatikan dengan seksama goresan itu seperti bekas luka. Dan luka itu sangat mirip dengan luka yang terdapat di pipi Pusspyo, Kucing Jantan Abu-abuku.

Untuk kesekian detik, aku jadi terbengong melihat pemandangan tersebut. Pikiranku langsung pada kucing kesayanganku. Dan pemuda tampan di depanku ini benar-benar sangat mirip sekali dengan Pusspyo.

''Luka di pipimu mengingatkan aku pada sesuatu ...'' ungkapku.

Pemuda ini masih saja menutup rapat mulutnya, seakan dia memang sedang puasa berbicara. Hanya sorotan matanya yang terlihat tajam seperti sorotan mata Pusspyo kala memandangku. Entah, mengapa aku merasa sedang melihat sosok Pusspyo pada tubuh laki-laki ini. Walaupun itu sangat mustahil.

Tidak mungkin, kucing jantan abu-abuku mendadak berubah dan menjelma jadi seorang manusia. Benar-benar halusinasi tingkat tinggi.

Setelah puas menatapku, pemuda berbadan sekal ini segera memalingkan mukanya. Lalu tanpa banyak tingkah, dia bangkit dari tempat duduknya dan berlalu dari pandangan kedua bola mataku. He was gone!

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!