Part 47 : Kecewa

626 52 33


Langkahku tergopoh mendekati kuda besi berwarna hitam metalic yang terparkir kokoh di tepian jalan. Hanya ada Pak Sukree yang berdiri menyandar pada pintu mobil itu. Sementara Pyo cuma menampakan bayangan siluetnya yang tersamar dari kaca jendela.

''Pak Sukree, bagaimana keadaan Pyo? Apa dia baik-baik saja?'' pekikku cemas.

''Saya rasa Den Pyo tidak apa-apa, ia hanya diam mematung,'' sahut Pak Sukree.

''Syukurlah ...'' Aku mengatur nafasku yang mendadak ngos-ngosan.

''Sebenarnya ada masalah apa sih, Mas? Kok sampai berantem begitu?'' ujar Pak Sukree kepo.

''Mmm ... tidak ada masalah apa-apa, Pak. Cuma salah paham saja, hehehe ...'' timpalku malas untuk menjelaskan. Lagipula Pak Sukree tidak bakalan mengerti bila kujelaskan dengan detail.

''Oooh ...'' Pak Sukree mantuk-mantuk.

Kami jadi terdiam untuk beberapa saat.

''Pak Sukree ... Bapak menghantar Pyo datang ke tempat saya, apa Bapak tahu maksud kedatangan Pyo kemari?'' ujarku memecah kesunyian.

''Tidak tahu, Mas ... saya cuma diminta untuk menghantarkannya saja.'' jawab Pak Sukree tenang, sepertinya beliau jujur.

''Oh ... okelah kalau begitu.''

Kami kembali terdiam.

Sreeettt!!!

Pintu mobil terbuka dan Pyo keluar dari badan mobil itu. Matanya menyorot tajam ke arahku. Aku tak bisa menerka apa maksud dari sorotan matanya itu. Kemarahan. Kebencian. Kecemburuan. Entahlah, aku bingung. Mengapa dia jadi membenciku? Apa salahku?

Pyo menarik tangan Pak Sukree, lalu memaksanya untuk masuk ke bangku kemudi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pyo menarik tangan Pak Sukree, lalu memaksanya untuk masuk ke bangku kemudi.

''Pyo ...'' ujarku sembari mendekati Pyo, tapi brondong tampan ini tak menggubrisku. Aku menyentuh bahunya, tapi dengan cepat ia meraih tanganku dan menghempaskannya jauh-jauh.

''Pyo ...'' pekikku lantang.

Pyo masuk ke badan mobil dan membanting pintu mobil itu dengan kasar. Sejurus kemudian ia memberikan aba-aba agar Pak Sukree segera menghidupkan mesin kendaraannya.

''Pak Sukree ... jangan pergi dulu, Pak!'' seruku menahan laju mobil yang sudah mulai bergerak.

Namun Pyo memberikan kode agar laki-laki setengah baya itu terus berjalan tanpa perlu mempedulikan teriakanku.

''Pyo ... Pak Sukree ...'' Lagi aku berseru, tapi mereka tak bergeming.

Mereka berdua berlalu, meninggalkan teka-teki misteri yang sulit kupecahkan. Pyo pergi membawa luka yang tak sengaja kuberikan. Keacuhannya merupakan bentuk sikap dari rasa cemburu yang membakar separuh batinnya. Hingga gosong. Entahlah, bagaimana caranya aku untuk mengembalikan hatinya dari kegosongan itu.

Aku kembali ke dalam rumahku. Bersama rasa sedih yang mencabik relung hati. Kesalahpahaman ini sungguh menyiksaku. Memisahkan dua kubu yang belum lama terpaut. Meretakan dua hati yang terpanggang api cemburu.

''Budjang, kau mau ke mana?'' ujarku saat aku berpapasan dengan laki-laki bertubuh kekar ini tepat di muka pintu rumahku.

''Mau pulang, gue datang pada saat yang tidak tepat!'' jawab Budjang tegas tanpa ekspresi. Datar.

''Bagaimana dengan luka-luka di lenganmu?'' tanyaku basa-basi.

''Nyeri, tapi itu tak seberapa,'' jawab Budjang lugas.

Aku terdiam menekuri setiap gerik tubuh Budjang.

''Rasa sakitku justru ada di sini, San!'' Budjang menepuk-nepuk dadanya. Keras penuh dengan penekanan.

''Maksudnya apa, Jang?'' Aku mengernyit tak paham.

''Sakitnya tuh di sini, di dalam hati gue ... gue cemburu karena lo ternyata sudah punya BF ... gue kalah start dengan bocah ingusan itu. Bocah aneh bermata kucing yang kampungan ...'' terang Budjang panjang lebar. Matanya berapi-api seperti pijar. Ada rasa marah. Kesal. Luka. Kecewa.

Aku terdiam kembali.

''Dari awal gue sudah naksir sama lo, Harsan ... tapi sedikit pun lo tidak pernah menganggap gue ada. Mungkin lo berpikir karena gue seorang escort yang suka NGUCING ... jadi lo tak mau menjalin hubungan serius dengan gue ...''

Aku terpana dalam kebisuan. Mulutku seakan kelu untuk berkata-kata. Sekujur badanku seolah rontok hingga menyisakan rasa lemas dan tak berdaya. Seperti baterai ponsel yang tinggal 2%.

''Gue tidak pernah marah sama lo, Harsan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

''Gue tidak pernah marah sama lo, Harsan ... Lo punya hak dan bebas menjalin hubungan dengan siapa pun. Gue sudah menyerah, gue janji ... gue tidak akan pernah mengganggu lo lagi ...'' tandas Budjang tegas mengakhiri percakapan ini. Ia pergi bersama deruman motor scoopy-nya yang melaju kencang meninggalkan aku yang berdiri terpaku. Menatap kosong ke arah langit yang gelap. Awan tebal menutupi tubuh rembulan dan bintang-bintang. Geledek diam-diam bersahutan. Menghantar rintik gerimis mengundang. Pelan. Satu per satu menempeleng kulitku yang telanjang.

Hujan pun datang. Menyamarkan buliran air mata yang tanpa terasa menggenang. Membuang sesak di dada. Melebur kepahitan dalam raga. Akibat cinta yang terlarang. Antara dua manusia berbatang. Bulat dan panjang. Seperti pisang.

Tak ada yang aku pikirkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tak ada yang aku pikirkan. Dua laki-laki telah pergi dengan membawa segenap kekecewaan. Apa yang harus aku lakukan? Mengapa jadi serumit ini menjalin sebuah hubungan? Aku tidak ingin memutuskan apa pun dari mereka. Baik cinta atau pun persahabatan.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!