Part 28 : Cemas

711 70 6

Seiring laju waktu yang menggeliatkan tubuh. Kaki ini bergerak lincah tak henti menempuh. Hingga aku pun tiba di halaman rumah lusuh. Aku tercengang ketika melihat sebujur tubuh tergeletak lemas di depan pintu. Aku buru-buru menghampiri tubuh itu, karena aku yakin itu si Pyo.

Tak salah, tubuh lunglai tak berdaya di depanku ini, memang tubuh si tampan Pyo. Aku langsung menubruk dan menggoyang-goyangkan tubuhnya, karena aku khawatir dengan kondisinya yang nampak mengenaskan ini. Wajahnya pucat pasi, seluruh badannya menggigil dan suhunya sangat tinggi.

''Oh, Tuhan ... apa yang terjadi padamu, Pyo? Kamu habis dari mana, sih?'' Aku menepuk-nepuk pipi Pyo. Namun tak ada reaksi.

''Pyo ... Pyo ... '' Aku berusaha membangunkan tubuh pemuda berambut abu-abu ini dengan perasaan cemas yang terlalu. Akan tetapi, tetap tak ada reaksi.

Aku membopong tubuh pyo dan membawa masuk ke rumah. Lalu aku membaringkan tubuhnya di atas kasur. Aku bingung. Aku panik dan tak tahu harus melakukan apa?

''Pyo ... Pyo ... Bangun, Please! Jangan membuatku kalut begini!'' Aku terus menepuk-nepuk pipi Pyo dan berharap laki-laki muda ini akan merespon tapi nyatanya, tidak!

''Pyo ...'' Aku berteriak lantang sambil mengguncang-guncang tubuhnya, hingga tanpa sadar aku menangis meraung-raung, karena merasa sangat ketakutan sekali. Takut akan kehilangan ia untuk selama-lamanya.

''Buka matamu, Pyo ... please! Pyo ... AAAAAAAAACCCCCKKKKHHHH ...''

Aku menangis tesedu-sedu di hadapan tubuh kaku Pyo yang sudah tak bergerak sama sekali

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku menangis tesedu-sedu di hadapan tubuh kaku Pyo yang sudah tak bergerak sama sekali.

''Maafkan aku, Pyo ... mungkin kau terlalu lama menungguku di luar. Harusnya aku tidak pergi ... harusnya aku tetap di sini, menunggumu untuk kembali ... hiks ... hiks ... hiks ...'' Aku terisak-isak sendiri. Pilu. Sakit. Perih. Berjuta rasa yang berkecamuk dalam jiwa. Tak ada yang aku pikirkan, aku hanya merasa tubuh ini gemetaran. Sukmaku seakan terlolosi dari raga. Aku mematung. Mati.

.

.

.
.
.
.
.

Ketika angin berhenti berbisik, saat jam tak mau menghitung detik, dan jantung tak lagi berkutik. Saat nafas enggan mengulik. Titik.




Sekian menit seolah waktu berhenti. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Hingga aku merasa tersentak kaget saat mata Pyo perlahan terbuka dan memandangiku dengan sorot mata yang berbinar-binar. Pyo hidup lagi. Pemuda itu tersenyum manja. Menunjukan gigi ginsulnya. Aku terisak antara tangis dan tawa. Aku mendekati dirinya dan memeluknya dengan dekapan mesra.

''Kau membuatku takut, Pyo!'' Air mataku tak berhenti mengalir. Terus mengucur seperti air mancur.

Pemuda ini tersenyum sambil mengusap lembut air mataku yang berderai di pipi tembemku. Matanya sendu seolah berkata, ''Mengapa kau menangis, Mas?''

''Aku menangis karnamu, Bodoh!'' Aku mencubit hidung mancungnya. Gemas dan kesal.

Pyo hanya tersenyum. Nampak lebih manis. Manis sekali. Dan aku suka.

''Dari mana saja kau, Pyo? Kau pasti belum makan, 'kan? Kau pasti kelaparan?'' Aku buru-buru bangkit dari tempatku terduduk dan segera mengambilkan air minum serta bungkusan nasi yang tergeletak di atas meja. Selanjutnya aku membawa makanan dan minuman ini ke hadapan Pyo.

''Minumlah, Pyo ...'' Aku membuka tutup botol air mineral, lalu menyuapkan ke mulut mungil pyo. Dan pemuda tampan ini langsung meneguknya hingga hampir separuh kemasan. Rupanya ia sangat kehausan. Setelah minum sekujur tubuhnya langsung keringatan.

Aku segera mengambil selembar tisu dan mengelap keringat yang menjagung di pelipis dan lehernya.

''Maafkan aku ya, Pyo ... gara-gara aku pergi jauh, kau jadi kehausan dan kelaparan begini ...'' Aku membuka bungkusan nasi padang yang kubeli beberapa waktu yang lalu.

''Makanlah!'' Aku menyuapi Pyo dengan telaten. Dan Pemuda ini nampak menikmati makanan tersebut. Sambil sesekali tersenyum ia lahap menghabiskan semua makanan itu. Aku jadi terharu sekaligus senang.

''Habis makan, aku akan memberikan kamu obat,'' ucapku sembari mengusap kening dan leher Pyo untuk memeriksa suhu tubuhnya. Masih terasa hangat walau tak sepanas sebelumnya.

Aku berjalan menuju ke sebuah lemari untuk mengambil kotak obat yang tersimpan di laci. Aku mencari obat anti demam lalu kuambil sebutir. Selanjutnya obat ini kuletakan di atas telapak tangan Pyo.

''Telan obat ini!'' perintahku dengan memberikan isyarat agar pemuda gagu ini memasukan butiran tablet ke tubuhnya. Aku rasa Pyo memahami apa yang aku maksudkan. Tanpa ragu, ia pun langsung menelan obat itu.

Usai makan dan meminum obat, laki-laki muda itu nampak menguap berkali-kali. Mungkin ia mengantuk berat. Aku menyuruhnya untuk merebahkan tubuhnya dan beristirahat dengan tenang, dan sejurus kemudian, ia pun terlelap tidur. Mendengkur.

Damai itu saat kau tenang dan tidak memikirkan apa pun.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!