Part 20 : Sembrono

986 66 9

Laksana lentera, hadirnya memberi terang pada sisi gelapku.

Tak banyak.

Secuil percikan api itu mengusir gulita hati.

Hatiku dan juga hatinya.

Kupandang wajah teduh langit yang mulai bertransformasi. Merubah diri dari dunia terang menuju jagad remang-remang. Berjalan lamat-lamat, mengiringi tugas matahari yang akan segera tamat. Bukan akhir segala, melainkan awal dari sebuah kisah. Kisah pelik yang bersumber dari gejolak hati yang tercabik.

Aku segera menghabiskan secangkir kopi ini. Kemudian bergerak masuk ke ruang tengah, di mana ada seonggok tubuh sang lelaki. Ia duduk manis menghadap buku tanpa henti. Mata kuningnya fokus mengeja kata per kata yang membentuk sajak yang penuh arti.

''Serius sekali kau membacanya!'' Aku mencolek dagu lelaki itu. Ia hanya tersenyum. Tangannya melepas tanganku yang jahil. Lalu ia melengos, sedikit merubah tempat duduknya untuk melanjutkan bacaannya.

Oke, aku tidak ingin mengganggunya lagi. Lebih baik aku melepaskan semua pakaianku dan meggantinya dengan selembar handuk. Lalu berjingkat ke kamar kecil. Aku mandi. Menyiram tubuh dari gerahnya kehidupan yang penuh liku. Aku ingin segar. Bugar. Sebugar pikiranku menghadapi kenyataan yang kadang sulit diajak sahabatan.

Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Pyo masih sibuk bercengkrama dengan buku. Ia masih betah membuka lembar per lembar kertas HVS yang telah tercantum tulisan hasil pemikiran Bang Andrei Aksana.

''Hei ... mandi gih!'' seruku sembari melemparkan kain handuk ke arah Pyo. Pemuda tampan itu sedikit terperanjat. Ia merengut menatapku, tapi tak lama. Karena beberapa saat kemudian, ia tersenyum simpul. Matanya lurus memandang tubuhku yang masih setengah telanjang. Tak kusangka, tubuhku ternyata mampu mengalihkan perhatiannya dari jeratan pesona isi buku.

Pyo meringis. Jarinya menunjuk ke arahku. Lalu selanjutnya ia menunjukan sampul buku. Aku tidak tahu apa maksudnya. Mungkinkah ia membandingkan tubuhku dengan bentuk tubuh yang ada di cover buku. Hahaha ... aku jadi tertawa ngakak, saat aku menyadari itu. Pyo rupanya pandai bergurau juga.

''Jangan kaubandingkan tubuhku dengan tubuh Lelaki Terindah itu, Pyo! Sungguh, jelaslah berbeda. Dia berotot sementara aku, sedikit berotot. Dia perutnya datar dan kotak-kotak. Sementara aku, berperut agak buncit dan bundar.''

''Hahaha ...'' Pyo tertawa, mungkinkah dia memahami maksud ucapanku? Dasar!

Pyo bangkit dari tempat duduknya. Kemudian perlahan ia menghampiri aku. Ia melempar satu senyuman yang begitu manis. Tapi apa yang selanjutnya terjadi. Dengan gesit brondong tampan ini menarik kain handuk yang membelit di pinggangku hingga aku telanjang bulat. Kemudian sambil tertawa lebar ia berlari menuju kamar mandi. Ia menutup rapat-rapat pintunya dan hanya terdengar suara cekikikan tawanya saja yang menyebalkan. Tawa jahat. Tawa iblis.

''Hmmm ... awas ya, nanti kubalas!'' gerutuku sambil meraih handuk itu kembali. Walaupun aku rada kesal, tapi aku tidak mungkin akan memarahinya. Aku yakin apa yang dilakukan Pyo hanya candaan semata. Dan aku tidak perlu serius menanggapinya.

Tujuh menit kemudian, aku telah bersia-siap di depan pintu kamar mandi untuk membalas aksi gokil Pyo yang berani melorotkan handukku. Dengan sabar aku pun berdiri kaku seperti orang lugu. Sekian lama menunggu, akhirnya pintu kamar mandi terbuka juga. Duh, aku sudah tak sabar untuk melancarkan serangan balasan.

Akan tetapi, ekspektasi kadang memang tak lebih indah dari reality

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Akan tetapi, ekspektasi kadang memang tak lebih indah dari reality. Bukan aku yang akan memberikan serangan kejutan buat Pyo. Tapi justru ia yang memberikan super kejutan buatku. Dengan santainya ia keluar dari kamar mandi itu tanpa selembar kain pun yang menempel di tubuh putih mulusnya. Alamak ... jantungku benar-benar serasa mau copot melihat pemandangan yang aduhai seperti ini. Aksi konyol Pyo, sesungguhnya kegilaan yang tak pernah aku bayangkan. Ia membuat mataku melotot sekaligus gemetaran sekujur tubuh.

''Hihihi ...'' Pemuda tampan ini meringis memamerkan gigi-gigi runcingnya seolah sedang mengejekku karena telah berhasil membuatku tercengang tak berkutik.

''Hihihi ...'' Ia meringis lagi sembari menutupi kontolnya dengan kedua tangannya.

''Dasar bocah gendeng!'' Aku menjitak kepala Pyo, dan pemuda tampan ini merintih kesakitan. Syukurin. __Kau membuatku kesal, sih! Tapi, aku suka ... hahaha ....

''Habis mandi, gunakan handuk!'' Aku melemparkan handuk bekasku ke tubuhnya, ''apa kau sengaja ingin membuatku mati berdiri!'' imbuhku.

Pyo hanya meringis manjah.

Kegilaanmu seperti bara api.

Menghanguskan jiwaku yang sepi.

Perlahan namun pasti.

Baramu membakar serpihan sunyi.

Ah ... Pyo, entah apa yang harus kuperbuat untuk menghadapi dirimu. Kau seperti anggur merah yang tertuang dalam cawanku. Seteguk saja bisa memabukanku. Apakah ini anugrah, atau bencana buatku? Pyo ... Pyo ... Pyo ... andai kau berada di posisiku, mungkin kau akan memahami betapa gamangnya aku saat menghadapi ke-sembrono-anmu.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!