Part 29 : Nasi Goreng

779 65 20

Dalam ketenangan suasana malam yang kian larut. Aku mengabarkan kepada Bunda Dorkas tentang keberadaan Pyo yang telah kembali. Namun aku meminta sedikit waktu agar pihak panti membiarkan aku membujuk Pyo sesuai dengan caraku. Sehingga Pyo dapat memahami maksudku dan dia bisa kembali ke panti, lalu pulang ke rumah orang tua kandungnya dengan suka rela dan penuh keikhlasan. Alhamdulillah, pihak panti menyetujui permohonan dan rencanaku itu.

Well,

Aku memandangi wajah Pyo yang berada dalam kedamaian dunia tidurnya. Apa yang ada pada dirinya seolah sebuah magnet yang mampu menarikku, hingga ingin menyatu ke dalam kehidupannya. Ketampanan wajahnya, keunikan tanda lahirnya dan kepolosan dalam sikapnya merupakan beberapa daya tarik yang dimilikinya. Ia memang berbeda, tapi ia sangat istimewa.

 Ia memang berbeda, tapi ia sangat istimewa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

''Pyo ... mungkin aku tidak akan selamanya bersamamu, tapi selama kamu bersamaku, aku akan berusaha mengukir kenangan yang membuatmu tak bisa melupakanku,'' Aku mengusap lembut pipinya yang putih dan empuk seperti kapas.

Aku mengecup kening dan bibir Pyo, sebelum aku menenggelamkan diri ke dalam dunia mimpiku sendiri. Dunia yang terkadang lebih asik dibandingkan dengan kenyataan. Dunia bunga-bunga tidur yang mampu membawaku ke mana saja, menjadi apa saja, dan berkelana di bawah alam sadarku tanpa protes apalagi mencela.

Mimpi yang paling indah adalah mimpi ketika kau terbangun, kau dapat segera memwujudkan mimpi itu.

Aku tidak tahu, berapa lama aku terbuai dalam kenikmatan tidur malamku. Ketika aku membuka mata ini, aku sudah mendengar kokok ayam jantan dari kejauhan. Lantunan do'a wirid setelah sholat wajib juga telah terbaca dan menggema dari pengeras suara sebuah masjid. Itu pertanda aku kesiangan. Buru-buru aku bangkit dari tempat pembaringan ini dan segera mengambil air wudhu. Kemudian aku menunaikan sholat dua rakaat dengan khusuk.

Saat aku sholat, tanpa aku sadari Pyo terbangun dari tidur lelapnya. Lalu ia mengawali aktivitas paginya di toilet. Biasa, membuang ini ono kucrut, ah! Apose? Kokondao ya rabe ... (naon eta? Gajebo!).

Usai sholat dan berdoa, aku melihat Pyo sedang sibuk di dapur. Aku penasaran dengan apa yang ia lakukan. Saat aku menghampirinya, hidungku langsung mencium aroma bumbu yang menyeruak dan memaksaku untuk bersin-bersin ... hatchi ... hatchi ... hatchiiiii ... Alhamdulillah ... emmm, aku mengorek hidungku yang mendadak berair.

''Hahaha ...'' Pyo hanya tertawa melihatku ber-hatchi-hatchi.

''Kau lagi apa?'' Aku menjitak kepala Pyo.

''Aww!'' Pyo nampak meringai menahan sakit. Tangan kirinya mengusap kepalanya sementara tangan kanannya sibuk membolak-balik bumbu di penggorengan.

Hmmm ... aku memperhatikan apa yang dilakukan laki-laki muda ini, ternyata ia sedang menggoreng nasi yang semalam belum sempat aku makan. Wah, hebat kau Pyo! Dua jempol buat kamu deh!

Pyo tampak menyunggingkan gigi-gigi putihnya, kemudian setelah ia selesai mengeksekusi masakannya, pemuda ini langsung membagi menjadi dua piring. Tak lupa ia menambahkan telor mata sapi di atasnya dan juga irisan mentimun serta tomat.

 Tak lupa ia menambahkan telor mata sapi di atasnya dan juga irisan mentimun serta tomat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

''Waw ... ternyata kamu pandai memasak ya, Pyo ... terima kasih!'' ucapku kala Pyo menyodorkan satu piring buatku.

Pyo hanya melepas senyuman yang lebar.

Sebelum makan, Pyo nampak memejamkan matanya, lalu ia menautkan jari-jari tangannya dan sejurus kemudian mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra. Tidak! Dia sedang berdo'a sesuai dengan keyakinannya. Dan sebagai tanda bahwa ia mengakhiri bacaan do'anya, pemuda ini menempelkan ujung jari-jarinya di kening, bibir, dan dadanya membentuk formasi salib seperti biasa umat kristiani lakukan.

Aku mengusap rambut abu-abu Pyo lalu mencubit gemas pipi chubby-nya sebelum ia melahap nasi gorengnya hingga suapan terakhir. Karena asiknya aku melihat cara makan Pyo, aku jadi lupa untuk memakan bagianku sendiri. Duh ... piye iki!

Kehangatan sebuah hubungan dapat dilihat dari bagaimana cara mereka menyantap makanan saat bersama-sama.

Hari ini, aku mendapatkan hidangan sarapan yang paling istemewa, karena dari tangan Pyo aku bisa merasakan masakan yang luar biasa enak seperti buatan tukang nasi goreng yang sudah profesional. Pyo memang cukup berbakat dalam bidang kuliner. Aku yakin, bila ia menekuni bidang ini, ia pasti akan menjadi seorang chef yang paling disegani. Tuhan memang adil, di balik kekurangan seseorang, pasti ada sisi kelebihannya.

Aku senang melihat Pyo tersenyum bahagia, aura keceriaannya begitu terpancar indah. Tapi ada satu ganjalan dalam diriku. Apakah aku akan mampu berpisah dengannya? Dan bagaimana caranya aku bisa meyakinkan Pyo, agar ia mau kembali ke panti dan pulang bersama orang tua kandungnya. Karena bagaimanapun juga, seorang anak akan lebih baik bila hidup berdampingan dengan orang tuanya.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!