Part 16 : Tulisan

1K 76 11

Aku memandang laki-laki muda yang beralis tebal ini dengan seksama. Bibir ranumnya tersungging membentuk cekungan senyuman yang menawan. Manis dan penuh kepolosan. Aku tidak terlalu paham dengan bahasa isyarat, aku juga tidak mengerti dengan bahasa tubuh yang selalu diperlihatkan oleh pemuda yang bermata kuning ini. Aku jadi bingung dan berpikir jeli, bagaimana cara berkomunikasi dengan pemuda tampan berambut abu-abu, karena aku tidak mungkin berbicara dengan menggunakan bahasa kalbu.

Dia mungkin tak bisa berbicara, tapi aku yakin, dia bisa menulis dan mengenal aksara. Karena beberapa hari yang lalu, aku sempat melihat dia bermain smartphone, walaupun aku tidak tahu persis apa yang dia lihat dari layar gadget-nya tersebut. Setidaknya ini menjadi dasar keyakinanku bahwa laki-laki gagu di hadapanku ini, tidak buta huruf.

Oke, dari riset sederhana itu, akhirnya aku akan mencoba berbicara dengan dia melalui tulisan. Tanpa ragu aku mengambil secarik kertas dan sebatang bolpoint. Lalu aku menuliskan sebuah kalimat tanya berupa, ’APA KAU BISA MENULIS?’. Kemudian aku menunjukan tulisan ini ke hadapan pemuda tampan itu. Sesuai dengan dugaanku, reaksi pemuda ini sangat menggembirakan. Dia memandang tulisan ini, lalu tersenyum lebar menampakan gigi-gigi taringnya yang membentuk ginsul yang berantakan, tapi malah menjadi penambah kesan manis, kala dia tersenyum. Usai memperhatikan tulisanku, dia menatapku kembali dengan sorotan mata yang berbinar. Kemudian pemuda berkulit putih bersih ini mengangguk mantap mengiyakan bahwa dia memang bisa menulis.

Aku turut tersenyum melihat respon yang baik dari laki-laki muda yang berperawakan tegap ini. Kemudian dengan antusias aku menggoreskan kembali kalimat pertanyaan berikutnya, ‘SIAPA NAMAMU?’, lalu aku tunjukan tulisan ini ke hadapan dia. Laki-laki berambut abu-abu ini tersenyum lagi, dia menatapku dengan sorot mata yang tajam tapi meneduhkan, lalu dengan gesit dia merebut kertas dan bolpoint dari tanganku. Selanjutnya dia menuliskan sesuatu di kertas itu dengan penuh semangat serta menampilkan mimik muka yang sumringah sangat.

 Selanjutnya dia menuliskan sesuatu di kertas itu dengan penuh semangat serta menampilkan mimik muka yang sumringah sangat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pyo

Usai menulis, pemuda ini tersenyum girang, lalu dia menunjukan hasil tulisannya ke hadapanku. Sungguh, badanku langsung terasa lemas sekali, saat membaca ukiran tangannya yang berbunyi, ‘PYO CHANDRA PUSPITO’. Apakah ini sebuah kebetulan lagi? Bagaimana mungkin ini terjadi? Mengapa nama pemuda tampan ini, serupa dengan nama Kucing Jantan Abu-abuku yang menghilang pergi, entah ke mana.

Dengan langkah yang gemetar aku mendekati pemuda ini, aku tatap baik-baik wajah dan mata kuningnya sebelum aku mengangkat tanganku dengan sangat hati-hati, lalu mengusap pipinya yang terasa halus dengan sangat lembut.

‘’Kau benar-benar mirip sekali dengan binatang peliharaanku, Pyo ...’’ ujarku dengan sorot mata yang berkaca-kaca.

‘’Sorotan matamu, warna iris matamu, kehalusan kulit dan juga rambutmu ... kau seperti wujud baru dari Pusspyoku ...’’ Aku mengacak-ngacak rambut abu-abunya.
Pemuda ini hanya terpana melihat tingkahku. Mungkin, dia bingung atau heran, entahlah!

‘’Bahkan namamu ... hampir sama, Pyo ...’’ Aku menarik kedua pipinya yang cukup chubby. Dia hanya tersenyum menggemaskan.

Dengan perasaan senang aku pun mencoba berkomunikasi lagi dengan Pyo Human Version ini lewat tulisan-tulisan berupa kalimat pertanyaan kepo yang kutunjukan buat laki-laki misterius ini.

‘’DI MANA KAMU TINGGAL?”

Pemuda tampan ini menggeleng kasar. Entah, apa maksudnya ... apakah dia merahasiakan alamat rumahnya atau memang dia enggan untuk memberitahukan kepadaku.

‘’KAU PUNYA KELUARGA?”

Dia menggeleng keras. Aneh, mana mungkin dia tidak punya keluarga? Mustahil!

‘’KAMU PUNYA KTP?’’

Dia menggeleng lagi.

‘’BERAPA USIAMU?’’

Dia tersenyum, lalu dia menuliskan sesuatu di lembaran kertas.

‘’18 TAHUN.’’ Itu jawabannya.

‘’HARUSNYA KAMU SUDAH MEMILIKI KTP!’’ balasan tulisanku.

Pyo meringis manjah.

‘’KAMU TIDAK TAHU ALAMAT RUMAHMU?’’

Pyo mengangguk.

‘’TERUS, BAGAIMANA AKU BISA MENGANTARKAN KAMU PULANG?’’

Pyo nampak merengut.

‘’KAMU MASIH PUNYA ORANG TUA, ‘KAN?”

Sorot mata Pyo berubah menjadi sendu, dia menggelengkan kepala, lalu pandangannya merunduk.

‘’KEMANA DAN KEPADA SIAPA AKU BISA MEMBAWAMU KEMBALI?’’

Pyo mengangkat kepalanya, tatapan matanya mendadak berkaca-kaca. Dia memandangku cukup lama, sebelum dia menuliskan sesuatu di lembar kertasnya.

‘’IJINKAN AKU MENGINAP DI SINI!’’ Itu ungkapan perasaannya melalui goresan tangannya yang tertulis tebal.

Pyo merapatkan kedua telapak tangannya membentuk formasi permohonan seperti orang yang sedang berdo’a. Matanya masih sendu, ketika ia menatapku dengan penuh pengharapan. Seolah dia sangat berharap, agar aku mengijinkan dia untuk menginap di rumah ini.

‘’MENGAPA KAU INGIN MENGINAP DI RUMAHKU?’’ tulisku.

Pyo tak menuliskan apa-apa, dia hanya duduk bersimpuh mencium kedua telapak kakiku, lalu brondong tampan ini menangis tersedu-sedu. Melihat dia bersikap begini, aku buru-buru mengangkat tubuhnya, kemudian memeluknya dengan sangat erat.

‘’Iya, kamu boleh menginap di sini!’’ ujarku, tak peduli dia mendegar dan mengerti ucapanku ini atau tidak.

Aku mengusap-usap lembut rambutnya, lalu menghapus air matanya yang menetes di kedua pipinya. Aku yakin, dia akan memahami arti pelukan dan perlakuanku ini.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!