Part 31 : Pulang

689 65 36

Tak ada sehangat pelukan ibu, tak ada setulus kasih sayang ibu.

Kehangatan pertemuan Pyo dan ibunya mengalahkan hangatnya sinar mentari yang menyentil kulitku. Rona kesyahduan dan kebahagian terpacar dari raut wajah mereka yang berbunga-bunga. Senyum dan tangis membaur jadi satu dalam keharuan yang tercipta. Aku pun turut merasakan kebahagiaan itu. Beberapa hari aku tinggal bersama Pyo, tapi baru kali ini aku dapat merasakan gelombang keceriaan yang terpancar dari pemuda tampan itu.

''Dek Harsan!'' Suara parau seorang wanita yang menjadi ibu kandung Pyo ini, tetiba menggugah lamunanku. Dia melepaskan pelukannya dari tubuh Pyo dan berjalan menghampiriku.

''Iya ...'' sahutku pelan.

'' sahutku pelan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Fransisca

''Saya, Fransisca Puspito ... Ibu kandung Pyo.'' Wanita berkulit putih ini menyodorkan tangannya ke hadapanku.

''Saya, Harsan Nomito,'' jawabku sembari menyambut telapak tangannya yang terasa sangat halus. Dengan hati yang riang aku meyalami tangan wanita berusia dewasa, namun masih terlihat cantik dan muda ini. Bila ia berdiri bersanding dengan Pyo, ia tak nampak seperti ibunya, tetapi ia justru terlihat seperti kakaknya.

''Saya sangat berterima kasih kepada anda,'' ujar wanita ini seraya mengusap punggung tanganku.

''Tidak perlu sungkan, saya dan Pyo adalah teman,'' tadahku gugup.

''Jasa anda cukup besar pada keluarga kami,'' kata wanita ini sambil melepaskan jabatan tangannya.

''Hehehe ... tidak usah berlebihan, saya melakukan ini karena saya menganggap Pyo seperti adik saya sendiri.''

Wanita bermata sipit ini tersenyum tipis, lalu tangannya merogoh sesuatu dari dalam tasnya.

''Sebagai tanda rasa terima kasih kami, mohon terimalah ini dari kami,'' ucap wanita ini sambil meletakan sebuah amplop putih di atas telapak tanganku.

''Mmmm ... ti-tidak perlu, Kak!'' timpalku dan berusaha mengembalikan amplop itu.

''Ambillah, Dek Harsan! Itu hadiah dari kebaikan anda,'' tukas Ibu Pyo.

''Maaf, saya tidak mengharap imbalan apa pun, bagi saya melihat Pyo bahagia berkumpul dengan keluarganya itu sudah lebih dari cukup,'' kataku seraya mengembalikan amplop itu ke tangan wanita bergincu merah muda ini.

''Sungguh mulia sekali hatimu, Dek ... jarang ada orang seperti anda di jaman sekarang ini ... tapi saya mohon terima sajalah ini, bila kurang anda bisa menghubungi saya kembali!''

''Tidak perlu, Kakak ... tapi, bila Kakak tetap memaksa, alangkah baiknya Kakak sumbangkan saja ke Panti Asuhan Bunda Dorkas!''

''Jadi anda tidak bersedia menerima imbalan dari kami?''

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!