Part 9 : Tercakar

1.2K 86 18

Laju pergerakan dua jarum jam terus berkejaran memutar ruang kota. Aku dan Bujang masih duduk manis di kursinya masing-masing menunggu pesanan datang. Sesekali kami melempar pertanyaan untuk mengorek identitas sebagai ungkapan basa-basi. Sepuluh menit telah berlalu, dan saat itulah menu makanan pesanan kami tersaji di atas meja tamu.

Dua Rib Eye Steak yang terhidang di atas hot plate dengan taburan saus yang meleleh di setiap bongkahan daging iga bakar dan dipercantik dengan garnis sayuran wortel, buncis, kentang goreng dan irisan biji jagung. Hmmm ... aroma dan tampilan masakannya, benar-benar membuat lidahku bergoyang-goyang hingga memproduksi air liur yang berlebihan. Aku sudah tak sabar untuk segera mencicipinya. Apalagi dua gelas Milkshake Chocolate-nya yang nampak creamy dengan hiasan sepotong biskuit oreo di atasnya. Ulala ... serasa ingin secepatnya menyeruput untuk menghilangkan dahaga di tenggorokan.

 serasa ingin secepatnya menyeruput untuk menghilangkan dahaga di tenggorokan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Oke, dengan khusyuk aku dan Bujang menikmati makanan khas bangsa barat ini. Kami melahap makanan-makanan ini hingga menyisahkan tulang belulangnya saja.

''Sudah lama lo tinggal di Jakarta, Har?'' tanya Bujang setelah menghabiskan makan malamnya.

''Sejak aku lulus dari bangku SMA, mungkin hampir 10 tahun,'' jawabku.

''Oh ... sudah lama juga, ya?''

''Iya, begitulah ...''

''Selama waktu itu, lo tinggal sendirian aja atau pernah tinggal dengan siapa, gitu?''

''Ya, dulu aku pernah tinggal di tempat saudaraku, aku juga pernah indekost bareng teman-teman kerjaku ... tapi sekarang, aku memilih untuk mengontrak di rumah sendiri,''

''Kenapa?''

''Karena aku ingin bebas dan mandiri ...''

''Ohhh ... terus, mmm ... sejak kapan lo tinggal berdua bareng si Puss ... Puss, siapa tuh?'' Bujang mengkerutkan keningnya seolah sedang berpikir atau mengingat sesuatu.

''Pusspyo ...''

''Iya, Pusspyo. Kucing jantan lo.''

''Belum lama sih, paling dua bulan ini, kalau tidak salah ...''

''Emang segede apa sih, kucingnya, Har?''

''Imut sih, mungkin beratnya hanya satu kilogram. Bulunya halus, lembut seperti sutera berwarna abu-abu, ekornya panjang, kakinya jenjang, bermata kuning, dan bertelinga runcing.''

''

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!