Part 18 : Mie Instant

1K 79 10


Seperti cermin. Kedua mata ini memantulkan bayangan Pyo. Laki-laki muda itu bergulingan di atas kasur. Tersenyum malu-malu menyapaku yang selesai berwudhu. Ia menarik kain selimut untuk menutup tubuh. Menghalau udara pagi yang masih dingin.

Hingga aku menunaikan sholat subuh. Kain tebal itu masih membungkus tubuh. Ia tak tidur, meski raganya bergemuruh. Matanya menerawang jauh. Entah ke mana, aku tak tahu. Mungkin, ia jenuh.

Aku melepas kain sarung setelah berdo'a menghadap Sang Maha Agung. Pikiran ini tetap bingung. Seperti orang linglung. Setiap menatap makhluk rupawan yang jiwanya seolah terkungkung. Pyo bagai seekor burung yang terkurung. Meski tenang tapi keresahan yang menggaung.

Kudekati dirinya. Kutatap wajahnya. Kala ia membangkitkan diri dari tempat pembaringannya. Dari kedua bola matanya seolah ada sesuatu yang hendak diutarakan.

''Kamu mau ngomong sesuatu?'' ujarku, ''kau butuh kertas dan pulpen?'' lanjutku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

''Kamu mau ngomong sesuatu?'' ujarku, ''kau butuh kertas dan pulpen?'' lanjutku.

Pemuda ini merunduk lesu dengan tatapan sayu.

Aku menghela nafas, kemudian mengambil selembar kertas kosong beserta sebatang pulpen. Kuserahkan benda-benda ini ke tangan pemuda tampan itu. Sudut matanya melirik ke arahku sebelum jemarinya mencoret lembaran putih itu.

''JANGAN PULANGKAN AKU! AKU MOHON!'' tulisnya.

Aku terbengong membaca catatan hasil guratan jemari tangannya itu. Matanya tampak mengkristal. Kedua telapak tangannya menyatu dan saling mengepal. Ia menengadahkan kepalan telapak tangan itu seperti hamba sahaya yang meminta sesuatu kepada sang majikan.

''AKU TIDAK TAHU DI MANA RUMAHMU, BAGAIMANA AKU AKAN MEMULANGKANMU,'' balasku.

Pemuda ini tercengang, masih dengan tatapan yang menerawang.

''Aku ...'' Telapak tanganku menyentuh dada.

''Tidak akan ...'' Aku dadah-dadah di depan matanya sambil menggeleng.

''Memulangkan ...'' Telapak tanganku membuat gerakan membolak-balik.

''Kamu ...'' Aku menunjuk dia.

Pemuda tampan ini pun tersenyum. Manis sekali. Seolah ada lelehan madu yang menempel di bibirnya. Rasa ketakutan dan kegalauan di wajahnya tak terlihat lagi.

Aku menarik tubuh Pyo dan mendekatkannya ke tubuhku. Kemudian aku mengusap lembut bahu sekalnya. Pemuda ini menangis tersedu-sedu di dekapanku.

''Sudah, jangan menangis!'' Aku menyeka butiran air mata itu yang mulai mengalir di pipi tembemnya.

''KAMU BOLEH TINGGAL BERSAMAKU SAMPAI KAPANPUN KAMU MAU!'' Aku menunjukan tulisanku ke hadapan dia. Dan pemuda ini langsung tersenyum lebar memberikan wajah yang terlalu girang. Lalu ia memelukku. Sangat erat. Erat sekali. Seolah tak ingin terlepaskan. Aku jadi terharu. Ingin ikutan menangis. Tapi aku tahan.

Puas memelukku, brondong tampan ini bangkit dan berlari ke dapur. Aku tidak tahu, apa yang hendak ia lakukan? Aku hanya mengikutinya dari belakang. Aku mengernyit ketika dia menyalakan kompor. Lalu menaruh panci yang berisi air. Rupanya ia akan memasak air? Oh, tidak! Ia sedang ingin memasak mie instant. Buat siapa? Buatku dan juga buat dirinya. Hehehe ... aku jadi geleng-geleng kepala, menyaksikan ia yang terlalu luwes dan semangat saat mengeksekusi makanan favorit para penghuni kost itu.

Beberpa menit kemudian, dua mangkok mie instant rasa kari ayam telah siap untuk disajikan. Pyo menyerahkan satu mangkok hasil masakannya kepadaku.

''Terima kasih, Pyo!'' Aku melepas senyum dan sedikit membungkukan tubuhku.

Pemuda ini sumringah melempar senyuman super manis menunjukan gigi ginsulnya.

''Kamu pintar dan lucu!'' Aku mengacungkan ibu jariku. Kemudian dengan kasar mengacak-acak rambut abu-abunya. Laki-laki muda rupawan ini cuma merengut manja.

Sejurus kemudian, kami pun menikmati menu sarapan ini dengan hati yang berbunga-bunga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sejurus kemudian, kami pun menikmati menu sarapan ini dengan hati yang berbunga-bunga. __Terima kasih Tuhan, walaupun aku tidak tahu dari mana asal-usul pemuda ini, tapi kehadirannya sungguh membuat hariku jadi ceria. Seperti bara api yang mampu membakar tungku. Hanya dua kata untuk melengkapi sebuah rasa. Aku dan dia.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!