Part 43 : Harapan

703 53 29


Aku dan Pyo keluar dari kamar. Kemudian kami menuruni tangga dengan langkah tegap dan percaya diri yang besar. Kami berdua seperti dua pangeran tampan yang datang bersama menghadiri sebuah pesta akbar. Semua mata langsung tertuju pada kami. Menatap dengan pandangan takjub melebar. Terpesona. Terkagum-kagum. Pria dan wanita sama saja. Mereka seolah baru pertama kali melihat sesuatu yang langka. Istimewa dan berbeda.

Sesaat setelah kemunculan kami, Kak Fransisca membuka suara. Memberikan sambutan singkat untuk pembukaan acara makan malam. Ia juga memperkenalkan Pyo pada rekan-rekannya dan menceritakan semua yang terjadi pada anaknya itu. Wanita ini membeberkannya dengan kalimat yang jujur, lugas dan apa adanya. Dan semua hadirin di pesta ini memberikan respon yang positif dengan tepukan tangan yang gemuruh.

 Dan semua hadirin di pesta ini memberikan respon yang positif dengan tepukan tangan yang gemuruh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Acara syukuran dan makan malam pun berlangsung dengan meriah dan lancar. Tak ada kendala apa pun hingga acara ini selesai. Para tamu nampak puas menikmati suguhan hidangan makan malamnya dan pulang dengan hati yang gembira.

Satu per satu para tamu berangsur pamit hingga menyisahkan kerabat dan handai taulan saja. Dan pada saat itulah Kak Fransisca menghampiri aku dan Pyo yang duduk santai di sebuah sofa.

''Dek Harsan ... maaf saya ingin bicara dengan anda sebentar,'' ujar wanita cantik ini tepat di hadapan kami.

''Iya, Kak ... Kakak ingin bicara soal apa?'' sahutku.

''Tidak di sini, Dek ... tapi di ruang baca, mari ikutlah dengan saya!'' kata Kak Fransisca.

Aku memandang ke arah Pyo sebelum bangkit dari tempat dudukku. Pyo hanya nampak kebingungan dengan menunjukan kerutan di keningnya. Kak Fransisca tersenyum melihat anaknya bersikap demikian, lalu ia mengusap kepala laki-laki muda itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

''Mamah cuma pinjam sebentar Mas Harsan-mu, Nak!'' ucap Kak Fransisca.

Aku dan Pyo saling berpandangan. Memberikan sinyal telepati untuk saling berkomukasi lewat bahasa hati. Aku yakin ia akan mengerti maksud dari tatapanku agar ia tetap bersikap tenang dan tidak perlu mengkhawatirkan aku.

Well, tanpa banyak bicara aku dan Kakak Fransisca berjalan menuju ruang baca. Di sini ia menutup rapt-rapat pintunya dan menyuruhku duduk tepat di depannya.

''Dek Harsan ... saya tidak tahu ada hubungan apa antara anda dan anak saya, saya merasa bukan suatu hubungan yang biasa,'' ujar Kak Fransisca mengawali perbincangan.

''Maksudnya?''

''Hehehe ... tidak perlu berpikir serius, kedekatan di antara kalian melebihi kedekatan antara saya dengan dirinya ... saya jadi iri pada dirimu, Dek ... karena sebagai ibu kandungnya saya tidak bisa sedekat itu ...''

''Hehehe ... Kakak bisa saja.''

''Dek Harsan ... sebagai orang yang terdekat dengan Pyo ... saya yakin anda tahu, hal apa yang terbaik untuk Pyo, bukan?''

''Iya, Kak ...''

''Saya ingin Pyo memiliki masa depan yang lebih baik ...''

Aku terdiam.

''Saya akan memperbaiki kekurangan pada diri Pyo dan meyekolahkan kembali di luar negeri ... bagaimana menurut anda, Dek?''

''Mmmm ... jika itu yang terbaik buat Pyo ... pasti saya akan mendukungnya, Kak!''

''Oke, kalau begitu ... saya ingin meminta bantuan Dek Harsan untuk membujuk Pyo agar ia mau menjalani pengobatan di luar negeri. Saya ingin melihat Pyo bisa mendengar dan bisa berbiara ...''

''Iya, Kak ... saya pasti akan berusaha membujuk dia ...''

''Terima kasih, Dek ... berkomunikasilah dengan Pyo agar ia bisa memahaminya ...''

''Baik, Kakak!''

''Oke ... saya rasa itu saja yang ingin saya bicarakan dengan anda.'' Kak Fransisca bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu dan membukakannya untukku.

Aku menatap wajah sayu wanita itu sebelum aku pergi meninggalkannya. Di sana aku melihat ada sejuta harapan yang penuh dari seorang ibu. Harapan kebahagiaan untuk anak-anaknya. Dan aku bisa memahami itu.

Saat aku keluar dari ruang baca, Pyo langsung menjemputku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Saat aku keluar dari ruang baca, Pyo langsung menjemputku. Kemudian ia membawaku naik ke kamarnya. Tiba di kamar kami berdua terkejut melihat kondisi kamar Pyo yang sudah dalam keadaan harum, rapi dan bersih. Mungkin saat kami makan malam. Bibi May dan pembantu yang lainnya membereskan kamar Pyo yang saat kami tinggalkan seperti kapal pecah.

''Pyo ... Kapal pecahmu sudah berubah menjadi hotel berbintang lima ...''

''Hahaha ...'' Pyo tertawa, lalu menarik tanganku dan mengajakku bergulingan kembali di atas kasur. Sepertinya Pyo belum puas bermesraan denganku. Hingga ia nekat mencumbui tubuhku secara bertubi-tubi.

__Ah, Pyo ... kau memang nakal!

Tidakkah kamu tahu, aku akan pulang karena hari sudah larut malam. Aku tidak mungkin menginap di sini. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, Pyo ... aku tidak mau membuat orang tuamu kecewa yang telah memberikan kepercayaan penuh kepadaku ....

 aku tidak mau membuat orang tuamu kecewa yang telah memberikan kepercayaan penuh kepadaku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!