Part 25 : Bunda

795 69 6

Aku benar-benar merasa kehilangan. Kepergian Pyo yang tiba-tiba membuatku jadi bertanya-tanya. Ada apa ini? Huh ... aku menghela nafas dalam, mencoba untuk berpikir tenang. Setelah perasaanku nyaman, aku mengambil selebaran yang tersimpan di kantong tas ransel. Kubuka selebaran itu dan aku mulai mengetik nomor yang tercantum di dalamnya. Aku membuat panggilan suara ke nomor tersebut.

Tut ... Tut ... Tut ... Tut ....

Tersambung, tapi tidak diangkat.

Kucoba menghubunginya lagi.

Tut ... Tut ... Tut ... Tut ...

Masih, belum diangkat juga.

Hmmm ... aku jadi penasaran. Aku melongok arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Waktu sudah menunjukan pukul 19.09 WIB. Belum terlalu malam. Aku membuka aplikasi Gojek di smartphone-ku, lalu membuat order-an dengan tujuan ke Jl. Wahid Hasyim No.xx, Menteng, Jakarta Pusat, sesuai yang tercantum pada kertas selebaran itu. Ongkosnya hanya 17.500 rupiah dari tempat kediamanku (Rawa Selatan, Jakarta Pusat). Lumayan, murah!

Beberapa menit kemudian, order-anku diterima oleh salah satu driver ojek daring tersebut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Beberapa menit kemudian, order-anku diterima oleh salah satu driver ojek daring tersebut. Selanjutnya aku berdiri di depan halaman rumah kontrakanku untuk menunggu driver yang akan mengangkutku pergi. Dan tak lama kemudian, driver ojek itu pun datang. Tanpa banyak basa-basi, aku langsung nangkring di jok belakang motornya, lalu kami pun meluncur menuju ke tempat tujuanku.

Setelah berjalan kurang/lebih 20 menitan, kami telah tiba di muka sebuah gedung tepat di Jl. Wahid Hasyim No.xx, Menteng, Jakarta Pusat. Aku turun di alamat ini dan segera membayar ongkos kepada sang driver gojek itu. Lalu setelah mendapatkan uang jasa pengangkutan, sang driver itu pun ngacir meninggalkan aku.

''Apa benar ini gedungnya?'' pikirku penasaran, karena masih tak yakin dengan hasil pengamatan mataku. Alamatnya memang sesuai dengan yang ada di kertas selebaran yang sedang kupegang ini. Mungkinkah Pyo tinggal di rumah ini? Bangunan yang berjajar menyerupai gedung sekolah atau asrama tentara. Dan di antara bangunan-bangunan itu terbentang spanduk berukuran besar yang bertuliskan, 'PANTI ASUHAN BUNDA DORKAS'. Terkejutkah aku? Iya, tapi sedikit.

Dengan langkah ragu aku berjalan mendekati pintu gerbang bangunan itu. Ada seorang satpam yang duduk berjaga di posnya. Aku menghampiri petugas keamanan tersebut, lalu menyapanya.

''Permisi ...'' ujarku.

''Iya, ada yang bisa saya bantu, Mas?'' sahut Satpam laki-laki itu datar.

''Mmm ... saya menemukan selebaran ini.'' Aku menunjukan kertas selebaran ke hadapan Satpam berbadan tegap itu.

''Oh, iya ini selebaran dari kami,'' ucap Satpam berkulit gelap ini setelah memperhatikan lembaran kertas itu, ''ada apa?'' lanjutnya.

''Saya memiliki sejumlah informasi orang yang fotonya tercantum di selebaran itu!'' terangku.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!