Part 2 : Juna

2.6K 136 54

Aku mengalihkan pandanganku dari akrobatik burung-burung merpati yang berkeliaran di atap Gedung Tua, ketika indera pendengaranku menangkap tawa riang seorang bocah perempuan. Gadis cilik berkerudung merah hati itu, berlarian kecil mengejar seorang laki-laki dewasa yang membawa boneka beruang seukuran bekantan. Senyumnya merekah dan tawanya pecah, ketika ia meraih boneka itu dari tangan sang ayah.

 Senyumnya merekah dan tawanya pecah, ketika ia meraih boneka itu dari tangan sang ayah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ya, laki-laki dewasa itu adalah ayahnya. Aku tahu, saat laki-laki berperawakan tinggi besar itu berseru, ''Ayo, Nak! Kejar Ayah dan dapatkan bonekanya!''

Sungguh, pemandangan ini membuat hatiku terasa terpukul. Aku menyaksikan laki-laki yang mungkin seusiaku, tapi dia sudah memiliki keluarga kecil yang nampak bahagia.

Tawa mereka (ayah dan anak gadis ciliknya) kembali pecah berantakan, tatkala kehadiran sang bunda yang membawa kembang gula, lalu ia merangkul putri kecilnya. Benar-benar sempurna, keluarga kecil ini memperlihatkan betapa hangatnya kedekatan keluarga mereka. Canda tawa ceria dan senyuman yang lepas nampak jelas terlukis di rona wajah mereka yang sumringah.

Aku terharu melihat keluarga itu, hingga tanpa sadar mata ini berkaca-kaca. Ada sedikit rasa iri, mengapa aku tidak bisa seperti mereka? Namun, aku segera memalingkan wajahku, agar aku tidak larut dalam ke-baper-an yang absolut.

Perlahan aku menggerakan kaki-kaki ini dan berjalan menjauh dari cengkrama keluarga kecil itu. Aku bergerak ke suatu tempat, di mana aku bisa menenangkan diri untuk tidak berkecil hati. Akan tetapi, sejauh aku melangkah aku tidak menemukan tempat yang aku harapkan. Aku merasa tidak ada satu pun tempat yang bisa membuatku tenang dan nyaman. Setiap sudut di wisata ini seolah telah terisolasi dan hanya dikhususkan untuk makhluk-makhluk yang berpasang-pasangan.

Saat aku melirik ke kanan, ada sepasang kekasih, pria dan wanita yang sedang asik berdiskusi sambil menikmati sepotong ice cream. Aku melirik ke kiri, mata ini menagkap dua sejoli, wanita dan wanita yang tertawa mengumbar canda. Dan ketika aku menghadap ke depan, indera penglihatanku merekam jejak dua orang pria yang mengenakan baju sama sembari bergandengan tangan. Entah, ada apa lagi yang terjadi di belakang sana bila aku membalikan tubuh.

Aku merunduk lesu sambil berjalan terseok-seok tanpa tujuan. Hingga tiba-tiba, aku merasa ada sebuah sentuhan hangat di pundakku. Dan ketika aku melengos ke arah tangan itu, aku mendapati seorang laki-laki yang sudah memasang senyuman cemerlang di wajah segarnya. Rambutnya ikal tertata rapi memahkotai kepalanya yang lonjong. Memiliki alis tebal yang tergaris di atas kedua matanya yang bulat dan bening seperti kaca. Hidungnya mancung dengan hiasan kumis agak tebal di bawahnya. Aku tidak tahu siapa dia, tapi dia tahu siapa aku.

''Jawir?'' sapanya.

''Iya, aku orang Jawa. Sampeyan siapa?'' ujarku bertanya.

''Maksudku, kamu Gula Jawir, 'kan?''

''Ya, itu nama id Tik Tok-ku, bagaimana kamu tahu?''

''Hehehe ... aku salah satu fans-mu!''

''Oh ya?''

''Iya ... dan aku senang sekali bisa bertemu dengan kamu di sini. Aku tadi sempat ragu pertama kali melihatmu, tapi saat melihat tahi lalat di hidungmu, aku jadi semakin yakin bahwa itu dirimu.''

''Hahaha ... sepertinya tahi lalat ini menjadi identifikasiku,'' Aku tertawa garing.

''Oh ya, perkenalkan namaku, Juna!'' Laki-laki di depanku ini menyodorkan tangannya.

''Oh ya, perkenalkan namaku, Juna!'' Laki-laki di depanku ini menyodorkan tangannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Juna

''Oke!'' balasku sembari menyambut sodoran tangan itu dan menyalaminya, ''Juna ... nama yang keren,'' imbuhku.

''Tidak juga, karena nama panjangku, Junaedi, hehehe ...'' timpal Juna sambil terkekeh.

''Oooh ...'' Aku melongo.

''Iya, Wir ... Hehehe ... namaku ndeso, ya?'' Juna tersenyum kaku.

''Ah, tidak kok, namamu indah. Setidaknya panggilanmu mengikuti jaman.''

''Hahaha ... kamu bisa aja, Wir ...''

Aku jadi nyengir.

''Oh ya, ngomong-ngomong apakah Gula Jawir itu nama aslimu?''

''Bukan, itu cuma id on line saja, nama asliku Harsan Nomito.''

''Oh, gitu.''

''Iya, Hehehe ... ndeso juga 'kan?''

''Hehehe ... nggaklah, itu keren banget!''

''Hehehe ...'' Aku jadi tersipu merasa tersanjung.

''Jadi, aku harus panggil kamu apa, nih? Jawir atau Harsan?''

''Karena kita bertemu di dunia nyata, kamu panggil aku, Harsan saja!''

''Baiklah, Har ...''

Aku jadi tersenyum, Juna juga.

Selanjutnya Juna mengajakku berjalan ke sebuah warung kopi untuk mengobrol yang lebih intens. Aku senang, akhirnya aku tidak sendirian. Ada teman ngobrol yang bisa menghalau rasa kesendirianku. Terima kasih Tuhan, di saat aku merasa terasing, Engkau mengirimkan Juna buatku.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!