Part 1 : Harsan

4.2K 176 45

Alam masih menyapa dengan penuh persahabatan. Matahari tersenyum hangat, angin berbisik lembut, serta langit yang cerah memeluk dunia.

Sesegar es teh manis membasahi ladang tenggorokan
Nyes!
Terasa nyaman

Sabtu siang, aku pergi bertamasya ke kawasan Gedung Tua, Kota, Jakarta Barat. Sendiri, karena aku memang masih single. Padahal, usiaku bisa dibilang sudah tidak brondong lagi. Berapa? 28 tahun kurang dua bulan. Hehehe ... sudah cukup tuwir, bukan? Ya, aku telah menjadi manusia dewasa, tapi untungnya aku memiliki tipe wajah yang unyu tingkat dewa, sehingga wajahku senantiasa terlihat imut seakan tak pernah menua. Orang bilang sih, wajahku ini wajah baby face. Hehehe ..., terbayang 'kan betapa lucu dan menggemaskannya aku?

Betapa tidak, aku yang memiliki wajah bundar seperti Doraemon dengan tampilan kedua pipi yang chubby mirip bakpao. Hidung besar, tetapi tidak pesek. Mata bulat dengan hiasan bulu mata yang lentik seperti boneka. Tatapanku tajam laksana bola kristal. Alis jarang-jarang dan kumis tipis ala sungut ikan lele. Bibirku mungil berwarna pink kemerahan seperti bibir jambu air. Kulitku kuning langsat melukis sekujur tubuhku yang hanya memiliki tinggi sekitar 165 cm. Berat badanku 55 kg. Bila dihitung berdasarkan ilmu gizi, 'alhamdulillah' tubuhku masih termasuk kategori ideal.

Oh ya, aku berjenis kelamin laki-laki dan memiliki nama asli Harsan Nomito. Namun, banyak orang yang memanggilku dengan sebutan Gula Jawir. Entah, mengapa demikian? Mungkin, karena aku berwajah manis kinyis-kinyis seperti gula. Dan yang pasti aku masih memiliki darah keturunan Jawa tulen.

 Dan yang pasti aku masih memiliki darah keturunan Jawa tulen

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Harsan

Well,

Aku pergi ke salah satu tempat wisata yang cukup populer di ibu kota itu, dengan menggunakan alat transportasi massa yang kita kenal dengan bus transjakarta. Mengapa? Karena lagi ada promo gratis naik bus selama 24 Jam. Aku tidak tahu untuk memperingati hari apa, sehingga pemerintah DKI Jakarta memberikan program free ticket semacam ini. Apa pun alasannya, aku sambut dengan suka cita dan memanfaatkan momen ini untuk jalan-jalan. Kebetulan kebijakan ini juga jatuh pada hari libur. Jadi, ini adalah kesempatan terbaik buat kita 'khususnya bagi diriku' untuk bisa menjelajahi kota Jakarta tanpa biaya. Asik, 'kan?

Kata yang membuatmu tersenyum lepas
Tanpa beban
Tanpa biaya
Gratis!

Setelah menempuh waktu perjalanan sekitar 1 Jam, akhirnya aku tiba juga di pelataran Wisata Gedung Tua, Kota, Jakarta Barat. Kok lama? Soalnya, saat transit di halte Harmoni penumpang berjibun, jadi harus super antre buat naik bus yang ke arah Kota.

 Kok lama? Soalnya, saat transit di halte Harmoni penumpang berjibun, jadi harus super antre buat naik bus yang ke arah Kota

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hmmm ... aku menghela nafas panjang saat tubuh ini berada di antara kerumunan pengunjung yang berdesakan memasuki area Kota Wisata. Sebagian besar mereka bergerombol membentuk koloni. Minimal berduaan dengan pasangannya. Hanya aku saja yang nampak jalan sendirian seperti orang hilang. Kasihan? Oh, tidak! Jangan mengasihani aku, walaupun ada rasa sedih di lubuk hatiku. Mengapa? Karena aku masih merasa kesepian meskipun berada dalam keramaian. Cup ... cup ... cup, jangan nangis! Aku tidak sendirian, masih ada angin dan debu yang bisa menemaniku. Tidak hanya itu, aku juga punya handphone yang senantiasa sudi dan setia mendampingiku ke mana pun aku pergi.

Kita tak pernah sendiri
Ada benda mati yang hadir menemani

Ya, terkadang hanya benda persegi inilah tempatku berkreasi dan selalu menghiburku. Aku tidak bisa bayangkan, bila seandainya aku tidak memiliki gadget yang satu ini. Mungkin hidupku yang hampa akan semakin hampa. Merana, nelangsa, tanpa daya dan upaya. Aku sudah seperti makhluk zombie. Hidup segan mati pun tak mau. Huh!

Ah, sudahlah! Aku tidak perlu memikirkan nasibku yang kurang beruntung ini. Lebih baik aku menikmati apa yang ada di depanku. Menonton ribuan orang yang bersiliweran di Kota Tua dengan satu misi yang sama. Tentu saja, misi itu adalah mencari kesenangan dengan cara yang sederhana. Seperti berfoto bersama patung-patung gadungan yang menjadi salah satu icon di tempat wisata yang satu ini. Atau menyaksikan pertunjukan di panggung hiburan sambil menikmati secangkir kopi hangat yang dijajakan oleh pedagang asongan. Atau mendengarkan lagu-lagu populer yang dibawakan oleh seniman jalanan. Atau mungkin, mau berkeliling area wisata ini dengan menyewa sepeda jaman londo yang telah disediakan oleh pengelola. Apa pun pilihannya, yang penting hati dan bibirmu tersenyum di sini.

Aku sendiri asik melihat sekelompok burung dara yang berterbangan liar menyambar biji-bijian jagung yang dilemparkan pengunjung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku sendiri asik melihat sekelompok burung dara yang berterbangan liar menyambar biji-bijian jagung yang dilemparkan pengunjung. Betapa bebasnya burung-burung itu. Sebebas anganku yang berkelana jauh, entah ke mana. Andai aku seperti mereka, terbang tinggi menembus batas angkasa raya. Oh, indahnya!

 Oh, indahnya!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!