Part 11 : Rent Boy

1.3K 86 23

Seluruh tubuhku telah tersentuh pijitan tangan Budjang. Rasanya enak dan nyaman. Karena tekanan dari urutan telapak tangan laki-laki macho ini memberikan kelancaran peredaran darah di setiap persendian dan juga urat nadiku.

''Harsan, apa yang lo rasakan?'' tanya Budjang.

''Luar biasa, enaknya pijitan kamu, Jang ... seperti sentuhan tangan terapis yang sudah mahir sekali, aku suka!'' jawabku.

''Hehehe ...'' Budjang terkekeh.

''Terima kasih ya, Jang ...''

''Sama-sama, Har ...''

Aku dan Budjang saling menatap, tapi tak berani dalam jangka waktu yang lama. Kami berdua menjadi tersipu, saat bola mata kami saling beradu.

''Harsan ...'' ujar Budjang pelan.

''Iya ...'' sahutku.

''Lo mau mencoba terapi bagian yang lain lagi?'' tanya Budjang.

''Oh ya, bagian mana lagi, Jang?''

''Bagian senjata kejantanan lo, Har!''

''Hah ...'' Aku terbengong.

''Iya, memijit urat syaraf area kontol dan sekitarnya, yang kita kenal dengan sebutan pijat vitalitas, lo mau coba?''

''Mmm ... '' Aku terdiam. Bingung tepatnya.

''Pijat Vitalitas berfungsi untuk melancarkan peredaran darah di area kontol, sehingga kontol bisa keras, tegang, kuat dan tahan lama. Minyak yang digunakan juga bukan minyak urut biasa, karena menggunakan minyak lintah hitam yang berasal dari kepulauan Papua, harganya lumayan ... satu botolnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.''

''O, gitu ya, Jang ...''

''Ya, jika lo mau, gue bersedia mengurut vitalitas lo ...''

''Mmm ...'' Aku nyengir sembari mengangkat satu alis.

''Jangan khawatir gue akan memberikan minyak lintah itu secara cuma-cuma buat lo, bila lo bersedia gue urut!''

''Emmm ... baiklah, aku bersedia,'' ujarku masih dengan nada yang ragu-ragu.

''Hehehe ... gue suka dengan pemikiran lo, Har ... karena lo termasuk orang yang cukup cerdas mengambil kesempatan ini.''

Aku mengernyit lagi.

''Lo beruntung mendapatkan pelayanan semacam ini secara gratis!''

Aku jadi tersenyum kaku.

''Sekarang buka cancut lo!'' perintah Budjang dengan suara yang tegas.

Aku terdiam karena masih ragu dan malu.

''Tidak apa-apa, buka aja!'' bujuk Budjang.

''O-oke!'' Aku pun perlahan melorotkan celana dalamku, hingga mencuatkan batang kontolku yang sudah berdiri seperti tongkat satpam.

Budjang tersenyum puas melihat organ vitalku yang ngacung seperti tugu monas.

''Gak usah tegang, gak gue sunat kok, kontol lo, Har ...'' seloroh Budjang yang membuatku jadi tersenyum, ''santai aja, dan rilekskan tubuh lo, Har!'' lanjutnya.

Aku pun berusaha bersikap tenang dan santai. Aku menarik nafas panjang-panjang dan menghempaskan perlahan-lahan. Huh!

''Ough ...'' Aku sedikit terperanjat, tubuhku bergidik sesaat, ketika Budjang membalurkan minyak lintah ke seluruh organ kelaminku dengan jari-jemarinya yang lembut.

''Aacckkhhh ...'' desahku pelan, saat tangan laki-laki gagah dan tampan ini meraih batang kontol beruratku dan mulai mengurutnya naik-turun, gerakannya seperti orang yang sedang mengocok-ngocok senjata kelelakian, tapi dengan teknik cengkraman yang lebih teratur dan lebih profesional seperti pijitan dari seorang massager yang terampil pada umumnya.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!