Part 23 : Cinta?

896 78 16

Eligi dua hati. Mengalun syahdu di ruang sepi. Mengungkap rasa. Menasbihkan cinta. Dalam pelampiasan gejolak asmara, hingga ranjang berirama. Mesra. Memecah gelora. Menghempas dosa.

Aku dan Pyo masih di sini. Terpaku pada dunia permainan yang mengusik relung-relung sanubari. Membakar urat nadi di setiap inci. Menyulut api asmara hingga menghanguskan nafsu birahi.

AACCKKHHH ... kuluman dahsyat mulut Pyo menegangkan guratan sendi. Sedotannya benar-benar menguras isi biji. Biji peler, tempat memproduksi peju yang penuh gizi. Gizi murni dari sari pati sang laki-laki. Aduh ... ini kohesi atau adesi gaya tarikan mulut jahanam Pyo sungguh meluluhkan hati.

OUGHHH ... aku pasrah dan menyerah kala setruman manja yang membahana dari oralan Pyo yang mampu mengoyak berjuta rasa. Rasa enak, rasa nikmat, rasa bergejolak, rasa ingin berteriak dan juga rasa ingin muntah. Bukan mulutku, tapi mulut mungil ujung kontolku.

AACCCKKKKHHHHHH!!!

Tubuhku mengejang, jari jemariku mencengkram, otot-ototku tegang, mulutku mengerang. Aku sudah tak tahan, aku ingin segera membuang! Membuang semua cairan bujang yang kini bergerak menyerang meluncur seperti peluru menerjang. Satu hentakan seirama dengan pantatku yang bergoyang-goyang. Kontolku mengobrak-abrik lubang. Lubang mulut Pyoku tersayang. AAAAACCCKKKHHH ... Jeritku lantang saat pejuhku memancar bagaikan gelombang.

CROOOTTT ... CROOOTTT ... CROOOTTT ...

Cairan residu kehidupan laki-laki itu bersarang di rongga-rongga mulut Pyo. Sebagian tertelan dan sebagian lagi luber berceceran mengotori lantai. AAACCCKKKHHH ... rancauku bersama keluarnya keringat yang menjagung di sekujur tubuh. Aku puas tapi aku lemas.

''Hehehe ....''

Pyo nampak tersenyum, tangannya sibuk meraih lembaran tisu. Kemudian dengan cepat ia menggunakan tisu tersebut untuk mengelap bibirnya yang belepotan penuh noda sperma.

Pemuda berwajah oriental ini merundukan tubuhnya dan mendekati aku. Lalu dengan penuh gairah, ia mengecup bibirku. Perlahan laki-laki muda yang kuperkirakan masih keturunan Tiong Hoa ini membuka pakaiannya sendiri. Ia menelanjangi dirinya, hingga tak ada lagi sehelai benang pun yang menempel di tubuh seksinya.

Pyo berdiri terpaku dan membiarkan kontol uncut-nya menjuntai seperti belalai gajah. Pelan-pelan benda kelelakiannya itu bergerak lincah, hingga menongolkan kepala kontolnya yang kemerahan. Pemuda berkulit putih ini memang tak bersuara, tetapi dari ekspresinya yang gelisah seakan berkata, ''ayolah, gantian kau sepongin aku, Mas!''

''Baiklah, aku tidak akan membuatmu kecewa!''

Aku bangkit dari tempat pembaringan. Rasa lemas yang masih menyelimuti tubuhku seakan sirna, saat menatap kemolekan tubuh Pyo yang nyaris sempurna. Kulitnya yang halus licin seperti guci porselen, membuatku tak sabar untuk menjamahnya. Lekukan tubuhnya yang nampak indah bagai pahatan maha karya pematung ternama. Ah ... membuatku menelan ludah. Merubah nafas jadi kembang kempis dan menaik-turunkan jakunku tipis-tipis.

Dan lihatlah itu kontolnya. Walaupun belum tersunat, tapi tak mengurangi pesona daging berurat. Aku yakin rasanya pun akan tetap sedap dan nikmat. Ini adalah kesempatan terbaik buatku untuk merasakan kelezatan tubuhnya yang sudah lama aku inginkan. Sejak pertama kali aku berjumpa dengan dirinya, aku memang memendam hasrat yang kini meluap-luap.

__Ah, Pyo ... dirimu membuatku terlalu bersemangat. Jalani hari-hariku dengan hebat. Kutahu, hidupku tanpamu itu berat ... dan bersamamu ku tak mau hanya sesaat.

Well,

Sepertinya Pyo sudah tak sabar untuk merasakan menit-menit yang penuh kenikmatan. Dengan sedikit kasar ia menjambak rambutku, lalu mengarahkan kontolnya ke dalam organ oralanku.

''Sabar, Sayang ... Aku pasti akan membuatmu melayang!''

SRUUUUUPPPP!!!

Seluruh batang kontol Pyo sudah berada di rongga mulutku. Kemudian tanpa komando, naluri seksualitasnya lancar bergerak mengikuti libido.

SRAAAPPP ... SRRRUUUPPP ... SRAAAPPP ... SRUUUPPP ....

Batang kontol Pyo keluar masuk seiring dengan gerakan pantanya yang maju mundur.

OUGH ... AH ... AAAAHHH ... rancauannya menggema mengiringi nafasnya yang kian memburu.

OUGh ... AHHH ... AAAAHHH ... desahan demi desahan Pyo memecah kesunyian malam. Ia terus menghujamkan perkakas pribadinya tersebut dengan tajam, hingga tercipta gurat-gurat nadi yang mencengkeram. Laksana sebuah permainan badminton, hentakan smash Pyo mampu meriuhkan suara penonton.

OUGHH ... AH ... AH ... AH ... terus dan terus Pyo menghantamkan serangan demi serangan frontal yang membuatku hampir kualahan. Mulutku terasa penuh sesak, karena kontol Pyo benar-benar menyodok, hingga ke hulu tenggorokan. Ah ... aku nyaris tersedak. Namun demikain Pyo tak menghiraukannya, ia seolah tak peduli dengan apa yang aku rasakan. Pemuda ini dengan sekuat tenaga menghentak-hentak kontolnya, hingga ia merasakan getaran aliran syahwat yang semakin memuncak.

Pyo masih mengentoti mulutku dengan gaya sesuka hati. Maju mundur, naik turun tanpa henti mengikuti kehendak nafsu birahi. Dan setelah sekian lama berpacu dalam melodi entotan yang tak berbunyi, akhirnya sekujur tubuhnya mengelinjang dahsyat, tangannya mencabik kepalaku dengan kuat. Dan dari lubang kontolnya keluar cairan putih kental hingga muncrat-muncrat.

CROOTT ... CROOOTTT ... CROOOTT...

Pejuh Pyo luber membanjiri mulutku. Namun tak setetes pun yang tertelan, karena aku tidak doyan. Aku langsung memuntahkan semua madu perjaka Pyo dari dalam mulutku hingga tak bersisa.

Wajah Pyo nampak sumringah mengiringi deru nafasnya yang masih saja ngos-ngosan. Keringatnya seketika gobyos membanjiri sekujur tubuhnya hingga terlihat berkilauan.

Huh ... tiba-tiba Pyo menubruk tubuhku dan mendorongnya hingga jatuh bergulingan di kasur. Selanjutnya sambil perpelukan aku dan Pyo saling memberikan senyuman kepuasan.

Detik itu, ada sebuah kata yang tersemat dalam pikiran. Mungkinkah ini cinta? Cinta macam apa? Aku bisa merasakan, tapi tak dapat kuungkapkan. Pyo ... kuharap kau juga turut merasakan. Ada sebuah rasa di antara kita.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!