Part 38 : Kamar

722 61 10

Aku berdiri terpaku di tengah lautan manusia berpesta pora. Mengumbar canda dan juga tawa. Bersulam ceria memadu bahagia. Musik jazz menggema. Mengiring gerak tubuh meliuk mengikuti irama. Gaun menjuntai menyentuh lantai dan tuxedo berdasi kupu-kupu bersatu padu menautkan raga yang menggelora. Busana-busana itu seolah menenggelamkan kehadiranku yang terlalu kontras dengan penampilan mereka. Aku yang hanya mengenakan t-shirt polos warna gading, bercelana jeans belel, dan bersepatu skate. Menenteng ransel yang menempel di pundak kiriku. Sungguh, aku seperti batu kali di antara batuan permata. Canggung, ragu, malu dan seabrek rasa yang tidak mengenakan menyelimuti jiwa.

Sekaku es batu, berharap kena panas biar cepat mencair.

''Dek Harsan! ...'' Suara lembut Kak Fransisca memecah ruwetnya pikiranku. Wanita bergaun merah maroon ini melenggang anggun menghampiri diriku yang kucel bagai nasi pecel. Ia berjalan berdampingan dengan seorang laki-laki berbadan tegap, berkumis tipis, dan memiliki senyuman yang manis. Matanya sipit, hidung lancip dan kulit muka yang cerah berseri. Laki-laki yang kuperkirakan berusia 40 tahun ini mengenakan tuxedo warna senada dengan gaun yang dikenakan Kak Fransisca.

''Selamat malam, Kak!'' sapaku sembari sedikit membungkukan tubuh, ketika mereka berada tepat di hadapanku. Jarak kami sangat dekat hanya sekitar 1 meter.

''Malam, Dek ... Senang sekali, akhirnya anda bisa datang kemari!'' balas Kak Fransiska sumringah sembari menyodorkan tangannya untuk menyalami tanganku. Aku pun segera meraih sodoran tangan itu dan segera menyalaminya.

''O, ya ... perkenalkan ini, Alexander ... suami saya dan juga ayah Pyo!'' lanjut Kak Fransisca sembari memperkenalkan laki-laki yang berdiri di sampingnya.

 suami saya dan juga ayah Pyo!'' lanjut Kak Fransisca sembari memperkenalkan laki-laki yang berdiri di sampingnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Alexander

''Harsan!'' ujarku sembari melempar senyuman lugu.

''Alexander!'' balas laki-laki itu.

Aku dan Suami Kak Fransisca saling berpandangan dan saling menjabat tangan. Cukup lama.

''Saya senang, akhirnya bertemu dengan Dek Harsan,'' ucap Koko Alexander sebagai awal basa-basi seraya melepaskan jabatan tangannya.

Aku hanya tersenyum malu-malu. Kaku dan masih canggung. Walaupun aku mencoba tenang, tapi tetap saja bersikap salah tingkah seperti orang gamang.

''O, ya ... di mana Pyo berada, Kak?'' tanyaku memberanikan diri, karena dari tadi aku belum melihat gelagat tubuh Pyo di antara keramain orang-orang berpesta.

''Pyo ada di kamarnya ... sejak acara pesta ulang tahunnya, ia selalu murung dan tak pernah mau menampakan wajah ceria ...'' jawab Kak Fransisca lesu.

''Bolehkah ... saya menemuinya?'' ujarku lagi.

''Ya ... tentu saja!'' sahut wanita cantik yang satu ini dengan semangat.

Tak lama kemudian, tiba-tiba kami mendengar suara gerak langkah kaki bersepatu yang cukup keras seperti orang yang sedang berlari tergesa-gesa. Bersamaan dengan suara itu, nampak seorang pemuda tampan berlarian kecil menuruni tangga dan bergerak cepat ke arahku. Aku terhenyak melihat pemuda rupawan itu. Karena pemuda yang berpenampilan bak pangeran itu adalah Pyo. Tak hanya penampilannya yang lebih mentereng dan membuatku pangling, tapi juga sikapnya yang secara mendadak menubrukku dan memelukku dengan sangat erat. Bahkan terlalu erat seolah tak mau terlepaskan.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!