Part 17 : Pipis

1.1K 81 14

Hujan masih mengguyur bumi. Deras seperti air bah yang turun dari langit. Sementara malam kian merangkak bagai bayi. Pelan, namun pasti. Udara pun terasa dingin menusuk tulang dan sendi. Aku dan Pyo tetap berdiri. Saling memandang dengan tatapan mata berseri, untuk saling jauh mengenal diri. Tanpa suara, tanpa kata, kami mencoba memahami makna dalam ujaran hati yang terpatri dari mimik wajah ini.

Aku melirik jam di dinding yang sudah menunjuk angka cantik. Pukul 10.00 lebih 7200 detik. Saat itu aku menarik tubuh Pyo yang terlihat epik. Aku menuntunnya perlahan menuju kasur berlapis kain sprei yang bermotif batik. Kubaringkan ia dengan penuh kasih, tanpa sedikit pun mengharap pamrih.

Kelopak mata Pyo yang ditumbuhi bulu lentik itu, perlahan terpejam menutup bola mata kuningnya yang tajam. Sementara aku sendiri menatap sekujur tubuhnya dengan pandangan terpekur, hingga ia terlelap tidur.

‘’Ya, Tuhan ... siapakah gerangan sesungguhnya laki-laki muda ini?’’ ujarku dalam hati, ‘’Mengapa dia terasa begitu dekat denganku, meskipun aku baru saja mengenalnya, tapi ada getar-getar misteri yang tak kumengerti ...’’ tambahanku berguman.

‘’Sikap dan perilaku Pyo, sedikit banyak persis seperti Pusspyo ... tapi aku tetap tidak mempercayai itu, karena aku selalu berprasangka dengan mengedepankan logika.’’

Aku terus memandangi tubuh Pyo yang terbaring damai di tempat peristirahatannya. Rambutnya yang berwarna abu-abu berkilau terkena cahaya lampu. Kulit mukanya cerah kemerahan dan tak lagi nampak pias seperti sebelumnya. Semakin aku memperhatikan, aku semakin terkesan. Dia sosok pemuda berparas tampan yang mampu menggerakan sesuatu di celana dalaman, hingga membentuk tonjolan. Ah, apa sih, yang sedang aku pikirkan? Mesum? Ampun deh, Jangan!

Kusentuh lengannya yang putih bersih, benar-benar terasa halus seperti porselen

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kusentuh lengannya yang putih bersih, benar-benar terasa halus seperti porselen. Pyo ... kamu membuat jantungku berdegup jadi lebih kencang. Pesonamu membuat kontolku mendadak tegang. Apa yang ada pada dirimu, sungguh membuat pikiranku melayang. Pikiran konyol dari seorang laki-laki gamang yang seolah ingin terbang. Aduh ... pikiran macam apa ini, Kang!

Aku tidak boleh mencemari tubuh suci laki-laki muda ini. Dia masih terlalu polos untuk kujadikan bahan imajinasi. Imajinasi liar dari kotornya halusinasi manusia yang penuh mimpi. Tidak! Aku harus bisa mengendalikan diri, agar aku tidak melakukan tindakan ceroboh yang bisa menghancurkan diriku sendiri.

‘’Pyo ... tidurlah dengan tenang, aku akan menjagamu dari jahatnya desakan nafsu!’’

Huh ... aku menghempaskan nafas jauh-jauh. Membuang semua pikiran keruh, dan menggantinya dengan akal sehat yang utuh.

Hmmm ... aku mencoba menenangkan diri dari buruknya gelora birahi. Tarik nafas panjang-panjang dan menghembuskan perlahan-lahan. Terus, aku melakukan ini berulang-ulang, hingga aku merasa rileks dan nyaman. Setelah aku berhasil menghalau rasa horny ini, aku membaringkan tubuhku tepat di sebelah Pyo. Kemudian aku membaca do’a dan beberapa kalimat tasbih, hingga aku terbuai dan terbawa ke jagad ilusi yang bertajuk mimpi.

بِسْمِكَ اللّهُمَّ اَحْيَا وَ بِسْمِكَ اَمُوْتُ

(BISMIKALLAAHUMMA AHYAA WABISMIKA AMUUT)

“Dengan menyebut Namamu Ya Allah Aku Hidup dan dengan menyebut Namamu Aku Mati”

subhanallah (سبحان الله)”, dan bertahmid adalah mengucapkan “alhamdulillah (الحمد لله)”, sedangkan bertakbir mengucapkan “Allahu-akbar (الله أكبر)”. 

Entah, berapa lama aku tertidur. Saat aku membuka mata, adzan subuh telah berkumandang. Dan saat itu juga aku melihat tubuh Pyo berada di atas tubuhku dengan sangat tenang. Dia menindihku sembari memasang senyuman cemerlang, seperti biasa Pusspyo, Kucing Jantan Abu-abuku lakukan. Tentu saja, kejadian ini sangat mengejutkan.

Dengan sigap aku menghalau tubuh Pyo dari atas tubuhku, kemudian aku menyingkirkannya agar dia segera menjauh. Aku buru-buru bangkit dari tempat tidurku dan bergegas menuju ke kamar mandi. Di tempat ini, aku langsung melorotkan celanaku dan mulai membuang hajat kecilku. Di saat aku sedang asik-asiknya memancurkan air seniku. Tiba-tiba Pyo hadir dan berdiri tepat di sampingku. Kemudian tanpa ragu pemuda tampan ini melakukan hal yang sama denganku. Dia juga hendak membuang hajat kecilnya.

Oh ... Tuhan, rasanya aku seperti terkena serangan jantung, tatkala dia melorotkan celananya dan mengeluarkan alat kelaminnya di hadapanku tanpa urung. Mau tidak mau, aku jadi memperhatikan bentuk detail kontolnya yang sedang mengeluarkan air kencing itu. Batangnya berwarna putih cerah, ujungnya masih tertutup daging kulup. Ya, laki-laki muda ini sepertinya belum disunat. Mungkin dia non muslim. Permukaan batang kontolnya halus tanpa ada urat-urat yang menonjol. Jembutnya cukup lebat berwarna hitam kecoklatan. Dan biji-biji pelernya nampak bergelantungan seperti dua bola bekel. Lucu dan menggiurkan. Aku jadi blingsatan menatap perkakas pribadinya itu. Uuuh ... gemes!

Usai membuang air kecilnya, brondong tampan ini menatapku nyengir tanpa dosa sambil menggaruk-garuk kepalanya. Lalu setelah membersihkan organ vitalnya itu, dia melompat keluar meninggalkan aku yang masih berdiri terbengong. Kelakuan dia benar-benar mirip sekali dengan Pusspyo, ‘kan? Aku jadi bertambah heran!

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!