Part 49 : Surat

624 59 43

Aku duduk di bangku pojok kanan menghadap jendela. Mendompleng pada bus transjakarta jurusan Lebak Bulus-Harmoni. Mataku menekuri pemandangan di luar jendela sepanjang jalan searah laju bus transportasi massal spesial di Jakarta ini. Tak ada yang aku pikirkan. Aku hanya merasa semua yang ada di hadapanku hampa. Kosong. Tanpa makna. Seperti rem yang blong.

__Oh ... Tuhan, aku minta tolong! Singkirkan aku dari percaturan dunia cinta terong. Agar aku dapat bernafas dengan plong.

Aku menarik resleting salah satu kantong tas ranselku. Aku mengambil bingkisan dari Pyo yang dititipkan kepada Bibi May. Perlahan aku membuka bingkisan itu.

Dan ... Deg!

Jantungku langsung berdebar karena melihat gantungan kunci kristal berbentuk hati. Benda ini merupakan hadiah yang kuberikan pada Pyo tempo hari. Sebegitu bencikah Pyo kepadaku, hingga ia tega mengembalikan barang pemberianku. Tanpa sadar aku menitikan butiran air mataku. Seperti buliran embun yang mengalir membasahi daun. Dadaku sesak. Tak berdarah tapi sakitnya luar biasa. Hatiku hancur berkeping-keping. Seperti tanah kering yang retak.

Sungguh, apa yang dilakukan Pyo ini seperti ia menusukan duri tajam hingga tembus ke ulu hati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sungguh, apa yang dilakukan Pyo ini seperti ia menusukan duri tajam hingga tembus ke ulu hati. Sakit. Pedih. Membuat jiwaku meronta dan merintih. Aku tidak menyangka Pyo akan bertindak sekejam itu. Terlalu sadis. Bengis. Seperti iblis.

Tubuhku gemetaran hebat. Seperti orang yang sekarat. Tangisku pecah bagai hujan lebat. Aku tak mampu menghalau untuk menghambat. Satu per satu peluh itu jatuh tak tersendat. Menghancurkan dogma sang lelaki yang terbiasa kuat. Ini di luar kendaliku. Air mata lebih jujur menunjukan siapa sebenarnya diriku. Berharap tangguh tapi sesungguhnya rapuh.

Untung tak banyak penumpang yang berada di bus ini, jadi mereka tak perlu bersaksi tentang kepayahanku. Setelah puas mengekspresikan gejolak luka. Aku mengorek kembali bingkisan ini, dan aku menemukan sepucuk surat tulisan tangan Pyo. Buru-buru aku meraih goresan pena itu dan memperhatikan dengan detail hasta karya Pyo yang panjang lebar seperti sebuah cerpen (cerita pendek).

Aku menghela nafas panjang sebelum membaca kata per kata isi surat di lembaran itu.

Aku menghela nafas panjang sebelum membaca kata per kata isi surat di lembaran itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

___000___

Bulan Biruku, Mas Harsan

Lelaki BUKAN terindah, tapi terbaik untukku. Hadirmu seperti cahaya yang menerangi kegelapan jiwaku. Kau menjadi telingaku untuk mendengar dan menjadi lidahku untuk berbicara. Bersamamu adalah waktu tercantik dalam hidupku. Kasih sayangmu tulus, cintamu mulus seratus. Tanpa cela. Sempurna.

Aku mengembalikan hadiahmu, bukan karna aku membencimu, tidak ... janganlah kau berpikir seperti itu. Bagaimana mungkin aku membenci seseorang, padahal di setiap hembusan nafasnya ada namaku. Setiap denyut nadinya ada rinduku. Setiap inchi pikirannya ada bayanganku.

Kau malaikat tak bersayap yang pernah aku lihat. Kau memberi tanpa pamrih. Mengasuh tanpa mengharap imbalan. Mengasihi dengan sepenuh hati. Di matamu ada pelangi, yang memberikan keindahan di segala penjuru sudut mata kala kumemandang. Jeli.

Di gantungan kunci itu, ada sebuah tombol. Pencetlah, Mas. Maka kau akan mendapati kristalnya menyala dan memunculkan kata, ''I LOVE YOU.'' Percayalah, itu suara hatiku, Mas. Suara balasanku untukmu. Karna aku memang juga mencintaimu. Sama besar seperti kau mencintaiku.

_____000______

Aku tersenyum kaku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku tersenyum kaku. Menghapus air mata yang mengucur tanpa terkontrol. Aku ternyata salah berprasangka. Kupikir Pyo mengembalikan gantungan kunci ini karna ia marah dan membenciku, tapi ternyata tidak. Ia mengembalikan benda ini, karna sebagai wakil balasan ungkapan isi hatinya yang hendak berkata, ''I LOVE YOU.''

__Ah, Pyo ... kau selalu membuatku baper. Maafkan aku karna aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak. Aku janji aku tidak akan berprasangka buruk lagi terhadapmu. Aku tahu kau adalah orang yang memiliki integritas yang tanpa batas. dan aku memepercayaimu. Maafkan aku Pyo, karna kekuranganmu membuatku lupa akan kelebihanmu, Maaf, Sayang!

Aku melirik ke arah jendela. Masih berada di daerah Kedoya, Jakarta Barat. Perjalanan masih cukup jauh. Aku menyandarkan punggungku ke bantalan kursi. Aku menghembuskan nafas dalam, sebelum melanjutkan bacaanku kembali menyimak curahan hati Pyo lewat goresan tinta hitam di lembaran putih. 

Karena rindu aku menunggu....
resah dan gelisah kusebut gundah...
Cinta bukan hanya kata...
Tapi pembuktian akan selaksa rasa...
Kunanti.... hadirmu kembali....
Kutunggu datangmu padaku....
Karena kutahu....
Rumahku... duniaku...
Adalah kamu....

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!