Part 41 : Es Batu

873 72 28

Malam terus menampakan pesonanya. Menyembunyikan banyak rahasia kehidupan manusia. Gelapnya melamurkan erotisme jiwa. Gulitanya meredam gejolak membara. Lampu-lampu hanya penghias terang menunjuk tatanan kasta. Semakin gemerlap, semakin teranggap kaya.

Aku dan Pyo masih terkungkung dalam lingkaran kasmaran yang tak mengenal kasta. Tak pernah membedakan pria dan wanita. Tak peduli jenis kelamin kami sama. Karena cinta itu memang buta tapi tidak tuli. Sebab cinta bisa mendengar apa yang terucap suara hati. Cinta juga tak bisu karena mampu berucap lewat bahasa kalbu.

Pyo melolosi semua pakaiannya. Membiarkan tubuh mulusnya bebas dari jeratan anyaman benang. Ia telanjang. Memamerkan benda bulat dan panjang. Meliukan tubuhnya seperti seekor ular. Bergerak lincah bagai penari striptis yang sudah pintar. Tentu, pintar membangkitkan gairah para penonton liar. Dan aku salah satu dari penonton itu yang sudah tak sabar. Aku ingin segera beraksi untuk menghajar. Membuat serangan balasan hingga Pyo terkapar.

Aku bangkit dari tempat pembaringan, kemudian dengan gesit aku menghampiri tubuh Pyo

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku bangkit dari tempat pembaringan, kemudian dengan gesit aku menghampiri tubuh Pyo. Kudekap ia, kupeluk ia dan kucumbu dirinya. Mesra. Hingga pemuda rupawan ini bersikap pasrah. Kukecup bibirnya, lalu kukenyot penuh gairah sembari mengusap lembut putingnya hingga Pyo mendesah-desah. Manja.

AAAACCCKKKHHH ...

Pyo melengkuh gelisah, ketika tanganku meraih kontolnya yang sudah panas membara. Tegang, keras dan berdenyut-denyut seperti makhluk hidup. Kukocok benda kejantanannya itu hingga kepala kontolnya yang merona keluar dari kulit kulup. Srappp ... Sruppp ... Srappp ... Sruppp ... kepala kontol Pyo jadi keluar masuk.

HMMMMSSSSS ...

Mulut Pyo menganga, mengeluarkan suara erangan yang mendesis saat kumainkan biji-biji kontolnya yang bergelayutan seperti bola ping pong.

OUGHHH!

Aku mendorong tubuh Pyo hingga ia tersungkur di kasur. Kuangkat kedua tangannya, lalu kuikat dengan kain slayer. Kugerayang sekujur tubuhnya dengan sentuhan rangsangan hingga sekujur tubuhnya menggelinjang dan kontolnya pun semakin ngaceng menjulang.

UUUHHH ...

Tubuh Pyo bergidik ketika aku menjilati ketiaknya yang penuh dengan bulu-bulu lembut yang berwarna abu-abu. AAAACCCKKKKHHH .... laki-laki muda ini hanya bisa melengkuh dan mendesah. Nafasnya jadi memburu dan terengah-engah.

Aku meringis dan tersenyum lega melihat ekspresi Pyo yang semakin resah dirundung gairah. Aku menghentikan eksekusiku sejenak. Perlahan aku mengambil air minum yang tergeletak di atas meja. Aku merasa haus dan segera meminum minuman itu. Minuman soda yang ditambahkan dengan es batu. Saat meminum minuman ini muncul ide gila yang terlintas di benakku.

Aku membawa minuman tersebut, dan menyiramkannya ke sekujur tubuh Pyo

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku membawa minuman tersebut, dan menyiramkannya ke sekujur tubuh Pyo. Saat itu tubuh Pyo langsung tersentak kaget, mungkin ia terkejut dengan sensasi dinginnya.

''Hahaha ...'' Aku hanya tertawa melihat mimik wajah Pyo yang nampak kebingungan seperti orang bodoh. Jijik, geli, cemek, becek atau apalah aku tidak peduli.

Tak mau membiarkan Pyo dalam rasa heran, aku pun segera menyeruput seteguk demi seteguk minuman itu yang membanjiri tubuh Pyo. Sruuuppp ... Sruuuppp ... Sruuuppp ... saat aku melakoni adegan ini, tubuh Pyo kembali menggelinjang tak karuan. Tubuhnya berkali-kali bergidik seperti mendapatkan setruman.

AAAACCCKKKHHH ....

Pyo mendesah lantang, ketika aku menjatuhkan sebuah es batu tepat di atas kedua putingnya. Dengan bongkahan es batu tersebut aku jelajahi setiap lekuk tubuh Pyo hingga pemuda rupawan ini mengeliat manja seperti cacing kepanasan. Mulai dari ketiak ... AAAACCCKKKHHH ... Pyo mengerang. Kemudian dada dan putingnya ... UUUUUCCCKKKHHH ... Pyo mengaduh. Selanjutnya ke perut, pusar dan pubisnya. OUGHHHH .... sensasi dingin es batu dan hangatnya tubuh membuat Pyo makin kelojotan berulang-ulang.

OUGGKKHHH ... AAACCCKKHHH ... AAAAAACCKKKHHHH ...

Desahan demi desahan terus menggema dari mulut mungil Pyo. Setelah puas membuat tubuh Pyo bergidik tercabik-cabik. Aku perlahan mengangkat kedua kaki Pyo dan mengganjalkan sebuah bantal tepat di bawah pinggulnya. Aku menatanya sedemikian rupa sehingga lubang anus Pyo turut terangkat dan bisa terlihat dengan jelas. Aku melakukan ini karena aku ingin mencoba me-rimming-nya. Walau masih sedikit ragu tapi aku akan mencoba teknik ini.

Aku menurunkan kepalaku hingga mendekati liang bool Pyo yang masih tertutup rapat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku menurunkan kepalaku hingga mendekati liang bool Pyo yang masih tertutup rapat. Perlahan aku menyulurkan lidahku dan mulai menjilati lingkaran boolnya. UUUCCKKKHHHH ... saat lidah menyentuh bagian itu, tubuh Pyo langsung mengelinjang. Otot-ototnya meregang, mulutnya mengerang dan kontolnya langsung garang. Menegang. Ngaceng sengaceng-ngacengnya.

AAAACCCCKKKHHH ...

Pemuda tampan ini kelojotan seperti hewan kurban saat lidahku meliuk-liuk menukik lubang boolnya.

HMMMMSSSSSS ... OUGHHH ... AH ... AH ...

Mulut Pyo merancau saat aku memainkan liang kenikmatannya itu dengan jari-jariku. Aku terus memutar-mutar jari ini mengebor lubang anusnya hingga dari lubang itu keluar cairan kental.

AAACCCHHHH ...

Aku mencium bibir Pyo sembari menyodok-nyodok lubang boolnya dengan jariku. Pyo nampak melengkuh dan meringis seperti menahan rasa antara sakit dan nikmat. Puas menyodok bool Pyo, aku mencengkram kontolnya. Kemudian dengan gerakan lembut namun cepat aku mengocok-ngocok kontol itu.

Sambil mencium bibir dan terkadang menghisap serta menggigit putingnya aku mengurut naik turun batang kontolnya hingga sekujur tubuh laki-laki muda ini kejang-kejang. Aku mempercepat gerakan ngocoknya dan sejurus kemudian ....

SERRRRR ... CROOOTTT ... CROOOTTT ... CROOOTTT ....

Ujung lubang kontol Pyo menyemburkan tinta putih yang banyak dan kental. Cairan itu memuncrat hingga membanjiri perut dan tanganku.

AAAACCCKKKKHHH .... erangan Pyo menyertai keluarnya cairan peranakan yang penuh dengan rasa nikmat yang tak terkira.

Sebagai pemungkas dari layananku, aku menjilat kepala kontol Pyo agar Pyo dapat merasakan indahnya sisa-sisa kenikmatan bercinta. Sruuuppp ... semoga Pyo lega dan puas!

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!