Part 21 : Benakmu

992 83 16

Malam telah menjelma. Menjadikan bulan sepotong semangka hiasan di angkasa. Bersinergi dengan bintang-bintang yang bergelora memainkan cahaya.

Bersama hati yang riang, aku mengajak Pyo jalan-jalan. Menyusuri jalan Mardani Raya, Kampung Rawa, Jakarta Pusat. Menyaksikan pedagang kaki lima yang berjajar di sepanjang jalan. Mereka menjajakan barang dagangan beraneka rupa. Mulai dari makanan hingga pakaian. Sungguh, jalanan pada malam hari sudah seperti pasar dadakan. Banyak transaksi antara penjual dan pembeli.

Aku mampir ke gerai jagung manis dan memesan dua porsi. Satu kuberikan pada Pyo, dan satu kulahap sendiri. Sembari menikmati jajanan sehat yang satu ini, kami terus menjelajahi aktivitas manusia dari pelbagai generasi pada malam hari. Sesuatu hal yang sederhana untuk menghibur hati.

Sesekali, mataku melirik ke arah Pyo. Dia nampak senang dan terpukau setiap kali kuajak berinteraksi dengan para pedagang-pedagang itu. Senyumnya mengembang dan wajahnya seketika cerah. Menandakan bahwa ia turut berbahagia. Walau tak bisa mendengar dan berbicara. Tapi sepertinya Pyo berusaha memahami apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang itu.

Aku meraih jemari tangan Pyo. Seketika itu Pyo menghentikan langkahnya. Matanya menyorot tajam ke arahku. Ada mimik pertanyaan di wajah tampan itu. Mengapa aku menyentuh tangannya?

''Tidak! Jangan menatapku seperti itu, Pyo!'' Aku melepaskan genggaman tanganku dari tangannya. Aku mendekati dirinya dan merangkul bahunya. Aku menyentuh dadanya dan juga dadaku, lalu memutar telapak tanganku dan menunjuk arah pulang.

 Aku menyentuh dadanya dan juga dadaku, lalu memutar telapak tanganku dan menunjuk arah pulang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ya, aku memberikan sandi untuk mengajak Pyo balik ke kandang. Maksudku ke rumah kontrakan. Pyo menampakan wajah cemberut. Seolah ia kecewa dengan ajakan pulangku. Ia masih ingin berkelana melihat-lihat keramaian sudut kota.

''Besok kita jalan lagi!''

Pyo menganguk lesu. Pemuda ini terpaksa melempar senyuman tipis sebelum kedua kakinya berjalan mengikutiku. Aku dan Pyo akhirnya pulang. Kami melangkah dengan iringan lagu dangdut yang berjudul: Oleh-oleh milik Bunda Rita Sugiarto. Lagu itu kebetulan menggema dari sebuah warung kopi pinggir jalan. Aseek ... goyang, Mang!

Sepuluh menit kemudian, kami tiba di rumah.

Pyo langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Mungkin pemuda tampan itu lelah. Letih. Atau kesal? Aku tidak begitu memperhatikan. Aku hanya tahu ia memang nampak kelelahan dengan keringat yang mengucur di sekujur tubuhnya. Saat ia rebahan di tempat pembaringan. Aku berjalan menuju tempat pembuangan. Buang air kecil. Cuci tangan dan juga cuci kaki. Tak lupa gosok gigi dan membersihkan muka. Setelah merasa berseri-seri, aku baru kembali ke ruang tengah. Ruang di mana ada Pyo nampak terpekur dengan tatapan mata yang kosong.

 Ruang di mana ada Pyo nampak terpekur dengan tatapan mata yang kosong

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku menghampiri pemuda tampan itu dan duduk di sebelahnya. Tak kuduga pemuda berambut abu-abu ini sedang menangis tersedu-sedu.

''Pyo, kamu kenapa?'' Aku menyentuh bahunya. Pemuda tampan ini hanya mendongak sebentar, lalu buru-buru menghapus air matanya.

''Kamu sedang memikirkan apa, Pyo?''

Sorot mata Pyo masih berkaca-kaca. Bibirnya terkatup. Pandangannya merunduk.

Hmmm ... aku jadi menghela nafas. Aku memang tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Tapi dari sikapnya itu, sepertinya Pyo memendam kisah hidupnya yang sangat kelam. Aku mendekap tubuh Pyo. Dan mengusap-usap punggungnya dengan penuh kelembutan. Aku berusaha untuk menenangkan dirinya yang berada dalam alam benaknya sendiri yang sulit kuterjemahkan. Pyo memang terlihat laki-laki muda yang berperawakan kekar. Tapi dibalik kekekaran tubuhnya, ada kerapuhan batin yang tertekan. Namun sayangnya, aku tidak bisa menyelami lautan hatinya yang penuh misteri ini. Aku tidak tahu bagaimana caranya, dan ke mana aku mendapatkan petunjuk untuk membuka lembaran demi lembaran kehidupan Pyo, agar aku dapat membacanya dengan benar.

Pyo memandangku masih dengan tatapan yang pilu. Kemudian dengan pelan ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Ada yang ingin ia ungkapan, namun ia sulit untuk mengatakan. Ribuan kata dalam kamusnya seolah lenyap tak bersisa. Hanya kebisuan nyata yang memenangkan logika. Pyo, andai aku punya kemampuan seperti Mbah Google, aku akan terjemahkan semua bahasa kalbumu yang ngegrundel.

Tapi sayanganya aku adalah aku. Aku yang cuma bisa diam dikala keraguan berkecamuk dalam dada. Cuma bisa menerka, tapi tak dapat mengungkap fakta. Sabar ya, Pyo. Suatu saat aku akan membantumu dengan caraku untuk membuka tabir siapa dirimu yang sebenarnya?

Dalamnya laut bisa diukur, tingginya gunung bisa didaki. Tapi dalamnya hati siapa yang bisa mengerti? Hanya Tuhan yang tahu, juga dia sendiri.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!