Part 37 : Crazy Rich

656 66 11

Hari ini, 11 Oktober ... hari ulang tahun Pyo.

Usai membereskan pekerjaanku, aku langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tua Pyo yang berada di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Lumayan jauh dari sini. Aku berharap, mudah-mudahan aku tidak datang terlambat di pesta ulang tahun pemuda tampan berambut abu-abu.

''Har ... lo mau ikut bonceng pulang bareng gue, nggak?'' tawar Si Gendut, Donggi sebelum ia keluar dari ruang kerjanya.

''Tidak, Dong ... terima kasih!'' jawabku.

''Kenapa?''

''Aku mau naik busway aja!''

''Mau kemana?''

''Pondok Indah!''

''Ke tempat siapa?''

''Ada deh!''

''Mau nge-date, ya?''

''Mau tau aja!''

''Nge-date ama siapa, sih?''

''Kepo ...''

''Cowok atau cewek?''

''Bencong!''

''Astagfirullah!''

''Hahaha ...''

''Hmmm ... gitu ya, lo sama gue! Main rahasia-rahasian segala!'' ucap Donggi kesal sambil menjitak kepalaku.

''Hehehe ...'' Aku hanya meringis.

''Udah ah, gue cabut dulu, bye!''

''Bye!''

Akhirnya cowok gendut itu pergi. Tinggallah aku di sini. Tidak sendiri, karena masih ada beberapa security. Setelah semua beres. Aku pamit kepada security dan ngibrit ke halte bus transjakarta yang terdekat dari pergundangan tempatku bekerja.

Sembari bersenandung, aku berjalan dengan membawa hati yang melambung. Wajah berseri serta perasaan yang bahagia tanpa murung. Bagai sebuah mesiu, tubuhku meluncur bersama roda bus transjakarta yang menyambung. Sungguh, beruntung perjalanan menggunakan transportasi massal kebanggaan warga Jakarta ini. Pasalnya unit bus yang digunakan terasa adem, tempat duduk yang nyaman dan awak busnya cantik dan tampan-tampan. Penumpangnya pun tidak arogan dan bersikap elegan. Namun sayang, perjalanannya macet tak terbayangkan. Padat merayap dari Galur hingga Senen pertigaan.

Alhasil tiba di Harmoni sudah pukul 19.18 WIB. Perjuanganku belum selesai, karena aku masih harus transit yang ke arah Pondok Indah. Aku melanjutkan perjalanan dengan bus transjakarta koridor 8 jurusan Harmoni-Lebak Bulus. Cukup lama sekitar 30 menit aku mengantri untuk mendapatkan busnya. Setelah mendapatkan bus, aku juga harus terpaksa berdesakan dengan penumpang yang lainnya. Aku bergelantungan di dalam bus seperti Tarzan. Lumayan pegel, karena harus berdiri 30 menitan hingga aku turun di halte tujuan. Halte Pondok Indah Mall 2. Dari sini aku masih harus melanjutkan perjalanan dengan naik ojek. Karena jarak halte busway ke rumah orang tua Pyo cukup jauh dan memakan waktu yang tidak sedikit. Nyaris pukul 21.00 WIB aku baru tiba di depan pintu gerbang rumah orang tua Pyo. Huh ... akhirnya, sampai juga. Ah ... lelah!

Turun dari ojek aku langsung tercengang melihat bentuk rumah keluarga Pyo yang penampakannya seperti istana. Gede, luas, megah dan wah. Pintu gerbangnya saja tinggi menjulang menyundul langit, terbuat dari besi padat yang kokoh dan kuat. Ujungnya tertanam kawat berduri dan lampu hias yang kedap-kedip. Ada seorang laki-laki berkumis yang menjaga gerbang ini.

''Assalamualaikum ... Permisi ... selamat malam, Pak!'' sapaku pada laki-laki separuh baya itu.

''Iya, selamat malam, Mas!'' sahut laki-laki bertubuh tegap ini tegas, ''ada yang bisa saya bantu?'' lanjutnya.

''Mmm ... nama saya Harsan, saya temannya, Pyo ...''

''Oh, temannya, Den Pyo ... maaf ada urusan apa kau datang kemari?''

''Saya dapat undangan pesta ulang tahunnya ...''

''Oh ya, tapi pesta ulang tahun Den Pyo sudah berakhir ...''

''Oh gitu ya, Pak ...''

''Iya, Mas ...''

''Aduh ... saya memang datang terlambat karena saya kena macet di perjalanan.''

''Masih ada pesta sih, tapi itu pesta syukuran yang khusus dihadiri oleh rekan bisnis Tuan dan Nyonya saja.''

''Saya tidak peduli itu, Pak ... saya cuma ingin bertemu dengan Pyo ... bisakah Bapak bantu saya untuk menemuinya? Saya mohon!''

''Tunggu sebentar saya akan hubungi Tuan dan Nyonya terlebih dahulu!''

''Hmmm ...'' Aku bersingut.

Laki-laki ini menarik sebuah handphone dari dalam saku celananya, lalu dengan gesit ia memencet sejumlah nomor dan melakukan panggilan suara. Dan tak lama kemudian ...

Tut ... Tut ... Tut ...

''Halo ..'' Terdengar suara perempuan dengan jelas karena Bapak ini meng-loudspeaker panggilan teleponnya.

''Halo, Nyonya ...'' sahut laki-laki berkulit sawo matang ini berlanjut.

''Ya, Pak Sukree ... ada apa?'' tanya perempuan itu.

''Ada seorang pemuda namanya, Harsan ... ia ingin berjumpa dengan Den Pyo.''

''Harsan ...?''

''Iya, katanya ia temannya, Den Pyo ... Nyonya!''

''Oh ... iya, ya ... saya kenal dia, tolong antarkan dia masuk kemari, Pak Sukree!''

''Baik, Nyonya ...''

Tut ... Tut ... Tut ...

Panggilan telepon berakhir.

Laki-laki penjaga pintu gerbang ini langsung menghadap ke arahku dengan melempar senyuman manis. Senyuman yang dari tadi tak sempat keluar dari bibirnya yang menghitam.

''Mas Harsan ... Nyonya mengijinkan kamu untuk masuk!'' ujar laki-laki itu yang kudengar bernama Sukree.

''Ya, Pak ... Terima kasih!'' Aku melepas satu senyuman terbaikku.

''Mari ikuti saya!'' titah Pak Sukree.

''Baik, Pak!'' jawabku sembari mengangguk mantap.

Pak Sukree menghantarkan aku masuk ke ruang utama dari rumah ini. Kesan pertama yang kulihat benar-benar membuatku terpukau. Aku jadi merasa seperti seorang gembel yang masuk ke keraton raja minyak dari Medan. Bangunan rumah berlantai 3 ini berdiri kokoh di atas tanah yang luasnya hampir selapangan sepak bola. Dindingnya nampak berkilauan seperti ada jutaan berlian yang menempel di sana. Setiap sudutnya ada berbagai ornamen yang mempercantik ruangan. Sebagian besar berwarna keemasan. Sungguh, indah dan menawan. Di bagian tengah tergantung lampu-lampu hias yang berwarna perak memancarkan cahaya kemilau menerangi seluruh ruangan. Di ruangan ini sudah nampak banyak orang yang semuanya mengenakan pakaian serba wah, berkelas dan glamour.

Tak ada yang aku pikirkan kecuali dua kata yang terlintas dalam benakku. Crazy Rich. Tajir melintir. Sungguh, aku terasing di tengah gemerlapnya pesta orang-orang kaya ini. Aku terdiam dalam rasa keterpukauan yang tak terhenti.

Kucing Jantan Abu-abuBaca cerita ini secara GRATIS!