Suasana mendadak terasa lebih berat.

Risa dan Rizfan yang tadinya masih sibuk sendiri, kini ikut diam.

"Guys, kalau suasananya udah kayak gini, aku sama Rizfan mundur dulu, ya..." Risa berbisik sambil menarik tangan Rizfan, lalu pergi meninggalkan mereka.

Sekarang, Hana dan Ryan hanya berdua di meja kantin.

"Ryan…" Hana menatap Ryan dalam-dalam.

Ryan menghela napas panjang. "Aku sayang sama kamu, Hana. Tapi kalau kamu masih mikirin dia, aku nggak mau jadi orang yang egois buat nahan kamu di sini."

Lagi-lagi, Hana terdiam.

Pikirannya bercampur aduk. Ia tahu perasaannya terhadap Ryan itu nyata. Tapi, mengapa saat melihat Rafen tadi, ada sesuatu yang membuat hatinya terasa aneh?

"Aku nggak mau kehilangan kamu, Ryan," ucap Hana jujur.

Ryan mengangkat wajahnya, menatap Hana lekat-lekat.
"Buktikan."

DEG.

"Buktikan kalau aku satu-satunya buat kamu."

Hana mengatupkan bibirnya, mencoba mengumpulkan keberanian.

Dan akhirnya, tanpa berpikir panjang, ia menggenggam tangan Ryan di atas meja.

"Aku pilih kamu," ucapnya tegas.

Ryan terkejut, tapi kemudian senyuman hangat terbentuk di wajahnya.
"Baiklah. Aku percaya kamu."

Tapi…
Di sudut kantin, Rafen melihat semuanya.

Tangannya mengepal di bawah meja. Tanpa Hana sadari, ia pun ikut mengambil keputusan dalam hatinya.

Hana sedang duduk di bangkunya, sambil mengerjakan tugas yang diberikan guru. Suasana kelas terasa lebih tenang setelah pemberitahuan tentang hubungan mereka beredar. Ryan, yang duduk tidak jauh darinya, tiba-tiba mendekat. Kali ini tidak ada lagi canggung atau obrolan berlebihan. Ryan hanya tersenyum, duduk di samping Hana.

"Hana, tadi pagi aku lupa bilang," kata Ryan sambil membuka buku catatannya.

Hana menoleh dengan penasaran. "Apa?"

"Aku udah siapin kejutan buat kamu nanti siang," jawab Ryan sambil tersenyum lebar.

Hana sedikit terkejut, namun senyumnya tidak bisa dipungkiri. "Apa sih kejutan itu?"

Ryan hanya tertawa pelan, "Nanti aja, tunggu sampai pulang."

Tiba-tiba, teman-teman mereka yang duduk tidak jauh mulai menggoda. Ika yang ada di dekat Hana tersenyum lebar, "Wah, udah deh. Jangan bikin kita iri aja, deh."

Hana hanya tertawa kecil, dan Ryan yang merasa sedikit malu pun hanya mengangkat bahu, sambil menyandarkan tubuh ke meja.

Kemudian, Risa yang duduk di sebelah Hana ikut menambahkan, "Kamu juga jangan begitu, Hana. Lihat deh, Rizfan di sana tuh selalu ada buat gue. Udah terbiasa banget."

Hana tersenyum simpul. "Iya, aku tahu."

Rizfan yang duduk jauh di belakang Risa menatap mereka dengan senyuman lebar, seolah ikut merayakan kebersamaan mereka. "Ya udah, jangan pada malu-malu. Kita semua kan udah tahu."

Suasana kelas mulai terasa lebih santai, seakan hubungan mereka memang sudah diterima dengan baik oleh semua orang. Tak ada lagi yang heran atau terkejut. Semua teman-teman mereka sudah menganggap hal ini biasa saja.

Setelah itu, saat bel berbunyi dan pelajaran selesai, Hana dan Ryan memutuskan untuk menuju kantin bersama. Kali ini, tanpa rasa khawatir atau gugup seperti sebelumnya. Mereka berdua menikmati momen itu, berbincang ringan, sambil menikmati hari-hari biasa mereka.

Part Of ClassWhere stories live. Discover now