Karena Apa?

287 31 2
                                    

Fariz menarik kerah kaus Farel dan bersiap untuk memukulnya. Piring dan gelas yang ada di sampingnya jatuh dan pecah. Amizah yang melihat sikap sembrono adiknya itu segera berlari dan menarik tangan Fariz agar tak melakukan perbuatan nekat.

"Memangnya kenapa kalau ayah gue jualan sayur? Memangnya kenapa kalau ibu gue guru SD? Memangnya kenapa kalau kakak gue kuliah sambil kerja? Memangnya kenapa kalau gue suka belajar?" ujar Fariz sambil menatap Farel dengan kedua mata yang melotot.

"MASALAH BUAT LU, HA?!" bentak Fariz kencang hingga membuat suasana di rumah kakeknya itu menjadi senyap dan tegang.

"Fariz, udah, Riz," Amizah menangis sambil menarik lengan Fariz. Fariz akhirnya melepas cengkramannya itu dan melihat ke arah saudaranya satu-persatu.

"Memangnya kenapa kalau keluarga Fariz berbeda dari yang lain? Apakah memiliki saudara seperti keluarga Fariz ini dosa dan memalukan bagi kalian semua? Apakah keluarga Fariz merugikan kalian?" ucap Fariz dengan kedua mata yang berkaca-kaca.

"Fariz muak diperlakukan seperti buangan. Muak diperlakukan berbeda!" Sambung Fariz kini air matanya mulai menetes.

"Toh, selama ini keluarga Fariz gak pernah merugikan kalian! Kapan keluarga Fariz mengemis dan meminta-minta sama kalian? Kalian semua gak tahu kalau keluarga Fariz juga berjuang! Kami semua berjuang untuk kehidupan. Hanya karena caranya yang berbeda membuat kalian merasa bisa semena-mena memperlakukan keluarga Fariz, begitu? Ayah berjuang, ibu berjuang, kak Amizah berjuang, Fariz berjuang," Fariz menumpahkan semua isi hatinya tanpa rasa takut lagi.

"Fariz tahu, kalian senang membicarakan keluarga Fariz di belakang. Menyebar cerita palsu, lalu mengajak yang lainnya lagi untuk membenci keluarga Fariz. Mau kalian apa, sih?" Fariz menahan tangisnya.

"Kalian semua kekanakan dan egois. Seolah kalian selalu benar, dan keluarga Fariz yang salah. Kalian benar-benar sombong dan menolak kebenaran. Kalian sadar? Kalian juga manusia. Kalian punya dosa! Seperti apa yang selama ini kalian lakukan pada keluarga Fariz! Tapi, apa kami membalas? Tidak pernah. Apa kita benar-benar punya hati?"

Fariz menatap ke sekeliling dengan air mata yang mengalir.

"Apa kita benar-benar saudara?"

Fariz tersenyum miris ke arah saudaranya masing-masing lalu berjalan keluar rumah kakeknya menuju jalan. Amizah yang mendengar semua isi hati Fariz barusan langsung menangis tersedu-sedu. Ayah dan ibu Fariz akhirnya membawa Amizah keluar. Mereka bertiga pun pergi dan pulang menuju rumah.

📚📚📚

Ejek mengejek tidaklah baik bagi kesehatan mental dan psikologis anak. Anak yang mengalami kekerasan emosional, fisik, maupun seksual pada akhirnya akan selalu mengalami masalah dalam menjalani kehidupannya. Entah itu terhambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang. Hal ini dikarenakan adanya luka batin yang mendalam dan kronis yang perlu untuk segera ditangani. Itulah mengapa, penting kiranya koordinasi secara intensif antara anak, orangtua, guru maupun lembaga-lembaga yang bersangkutan perihal penanganan masalah si anak.

Seperti saat ini Bu Aisyah memanggil Aurel, Alivia dan Putri untuk menghadap ke ruang BK. Video Syafiqa yang dipermalukan di samping lapangan sekolah sudah menyebar luas satu sekolah. Untungnya, pihak guru-guru berkoordinasi dan cepat tanggap, sehingga masalah ini tidak sampai menyebar ke luar.

Bu Aisyah menatap ke arah Aurel, Alivia dan Putri bergantian. Lalu ia menghela napas cukup panjang sambil memijat keningnya.

"Apa yang kalian lakukan itu adalah body shaming. Menghina atau mengejek fisik seseorang bukanlah perilaku yang terpuji. Kalian tahu? Hal ini tidak hanya mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mental seseorang. Tetapi, memberikan trauma pada diri, menghancurkan rasa percaya diri. Hingga akhirnya terjadi masalah dalam menjalani hidup karena banyaknya stigma negatif yang ditanggung. Memangnya apa yang salah dengan Syafiqa? Ia sama seperti kalian," nasihat Bu Aisyah.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang