Butterfly Effect

302 31 2
                                    

"Tumben, biasanya pengen lama-lama ngobrol," ceplos Fariz.

Adit membuang napasnya kasar, sambil memegang dadanya. Fariz yang melihat itu hanya tersenyum kecil.

"Oh, gue ngerti. Gue ngerti," Fariz menepuk-nepuk kepala Adit seperti anak kecil. Adit menghempaskan tangan Fariz dengan wajah kesal.

"Woy! Berduaan mulu!" tiba-tiba Praja muncul dari belakang sambil menempel pada pundak Fariz dan Adit dengan kasar.

"Uh sialan bau!"umpat Adit sambil melepas rangkulan Praja dan melihat kawannya itu memakai seragam basket dan badannya dipenuhi keringat hingga basah kuyup.

"JIJIK LU NEMPEL-NEMPEL SAMA GUE MANA KERINGET DOANG!" teriak Fariz kesal sambil menendang kaki Praja hingga ia meringis kesakitan.

"Ini pembalasan yang kemarin, rasain lu pada!" Praja tertawa terbahak-bahak begitu puas.

"Lagi jam istirahat gini lu main basket? Bukannya istirahat? Dasar maniak!" ucap Adit sambil menggelengkan kepalanya dan kembali berjalan.

"Ye! Ini istirahat, dit. Gue gak sabar ikut seleksi nanti. Gue harus persiapkan diri dengan baik, dong. Gue dengar lu jadi perwakilan olimpiade kimia? Widih, selamat bosku! Salut gue, akhirnya berguna juga sekarang," Praja mengacak-acak rambut Adit dengan kasar sambil tertawa.

"Sialan lu botak!" Adit menarik leher Praja dan menghimpit kepalanya di ketika Adit sambil tertawa jahat. Fariz yang melihat tingkah konyol dua kawannya itu hanya tertawa-tawa. Praja berusaha keras melepaskan dirinya, ia menginjak kaki Adit dengan kuat, akhirnya Adit melepaskan cengkeramannya itu.

"Sebagai penghormatan dan ucapan selamat. Nanti kita nonton anime bareng. Gue ada anime terbaru. Gimana?" Praja menatap Adit dengan tatapan penuh makna.

"Anime yang terbaru? Yang tokoh utamanya pemburu hantu? Ih, mantap, adaptasi game kan itu. Gue udah tamat main gamenya. Ayolah! Kapan? Di rumah gue apa di sekolah entar besok jam istirahat!" Adit langsung merangkul Praja akrab.

"Besok aja di laptopnya si Putera, kan, gue malak sama dia minta download-in. Dia udah ngeiyain, besok jam istirahat kita nonton bareng-bareng," Praja merasa bangga setelah melakukan ituㅡmemalak temannya.

Fariz yang semula tertawa-tawa kini menampakkan wajah yang bete.

"Kekanakan," celetuknya sambil berlalu meninggalkan Adit dan Praja yang menatapnya tak mengerti.

📚📚📚

Adit melihat dua map cokelat di hadapannya dengan tatapan pasrah, sebentar-sebentar ia menghela napas dan lalu berjalan-jalan risau tak jelas di teras belakang rumahnya.

Ia lalu berhenti berjalan, dan duduk di kursi kayu jati panjang dan menatap map cokelat itu lekat-lekat.

Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat provinsi, Adit melihat tulisan besar di depan map cokelat itu dengan kedua tangan yang bergetar. Akan ada 9 mata pelajaran yang di olimpiadekan. Fisika, kimia, matematika, astronomi, biologi, ilmu kebumian, informatika, geografi dan ekonomi. Tahun ini sekolahnya mengirim perwakilan dalam mata pelajaran fisika, kimia, matematika, biologi dan geografi. Dan Adit adalah salah satu anak yang dipilih itu.

Sore tadi Pak Rasyid bilang, bahwa mereka akan mulai latihan minggu besok setiap pulang sekolah. Selama kurang lebih satu bulan penuh. Dan sisa satu bulan terakhir digunakan untuk beristirahat dan fokus mengisi latihan soal. Adit merasakan detak jantungnya berdetak lebih kencang dan berantakan. Entah mengapa, tiap mengingat kata kimia ia seperti merindukan seseorang yang jauh di sana. Ada perasaan benci dan cinta yang tercampur menjadi satu. Ia teringat ibunya sendiri, ya, Adit merindukan ibunya yang terkenal pintar pelajaran kimia itu. Buru-buru Adit beranjak dari duduknya dan menaruh map cokelat itu di atas meja.

Pak Rasyid menambahkan, bahwa OSN akan diadakan selama empat hari. OSN adalah ajang berkompetisi dalam bidang sains bagi para siswa pada jenjang SD, SMP dan SMA di Indonesia. Siswa yang mengikuti Olimpiade Sains Nasional adalah siswa yang telah lulus seleksi setingkat kabupaten dan provinsi. Acara ini diselenggarakan sekali dalam setahun di kota yang berbeda-beda.

Kompetisi ini pada akhirnya akan melahirkan anak-anak berprestasi yang akan diikutsertakan pada olimpiade tingkat internasional. Dan Pak Rasyid begitu percaya diri serta yakin, bahwa Adit bisa lulus sampai skala nasional dan internasional. Adit berjalan menuju dapur dan membuka kulkas, mengambil sebotol jus jeruk yang masih segar.

Ini pertama kalinya ia bertemu guru seambisius Pak Rasyid. Dulu, sewaktu ia bersekolah di Bandung. Ia tak pernah bertemu guru macam Pak Rasyid. Tidakkah Pak Rasyid memahami? Adit merasa berat dengan segala harapan itu. Ia lelah dengan pikiran yang seperti itu. Pak Rasyid mengingatkannya akan sosok orangtuanya sendiri yang ambisius. Yang terus memapari pikirannya, bahwa, lebih baik mati daripada kalah. Dan Adit sungguh lelah lagi muak dengan semuanya.

Kedua orangtuanya amat membenci kekalahan. Dan Adit tidak boleh kalah, jika Adit kalah, orangtuanya pun akan membencinya. Menghancurkan kepercayaan dirinya, mendorongnya lagi lebih keras. Menyuruhnya untuk terus melakukan banyak hal dengan lebih baik lagi, lagi, lagi, dan lagi.

Adit tahu, dunia saat ini benar-benar bergerak dengan pemikiran kompetitif. Hampir dalam segala bidang. Tapi, apakah pemikiran lainnya tidak berguna, begitu? Kalau saja Steve Jobs tidak keras kepala dengan penemuannya dulu, sabar ketika diolok-olok dan diledek. Mana ada android saat ini? Kalau saja Bill Gates tidak fokus dan sibuk melihat keluar karena takut disaingi orang lain, mana ada penemuan besar Microsoft saat ini? Kenapa orangtuanya yang notabene jenius itu tak paham? Apa mereka pura-pura bodoh? Tak mau tahu, begitu?

Adit menahan emosinya, ia berhenti meremas botol jus jeruk miliknya yang sudah habis ia teguk. Ia menatap kosong ke arah ruang tamu yang luas dan mewah miliknya. Untuk apa semua ini? Kalau hanya ia yang ada di sini. Rumah ini, semuanya, memuakkan.

Aikawarazu ano koro ni hanashita 🎶
Yume wo boku wa oi tsuzukete ru yo 🎶
Mou kotoshi kara isogashiku naru yona? 🎶
Demo kawarazu kono basho wa aru kara 🎶

Ponsel Adit berdering, pertanda telepon masuk. Ia segera mengangkat telepon itu.

"Wa'alaikumusallam, gue harus ke sana sekarang? Lu di sana sama siapa? Praja? Okay, untunglah kalau lu gak sendiri. Iya, gue ke sana sekarang."

Adit segera mematikan ponselnya dan berlari kencang ke lantai dua. Lalu ia menuruni tangga lagi dengan setelan sweater hitam dan celana training panjang hitam. Ia mengambil kunci motornya yang tergeletak di atas meja di samping telepon.

"Haduh, ada-ada aja."




📚 Bersambung📚

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang