Riko Rafansyah (2)

254 36 2
                                    

Semenjak pertemuan mereka bertiga di lapangan belakang sekolah. Baik Adit, Fariz maupun Riko tumbuh menjadi tiga serangkai yang berprestasi. Sisi gelap mereka tertutupi berkat kelihaian Fariz dalam mengendalikan dua monster bringas dengan kecerdasan yang ia miliki. Dengan modal ancaman dan pemerasan emosi. Fariz berhasil membuat Adit menjadi seorang yang penurut seperti Riko. Kini Adit pun aktif mengikuti turnamen pencak silat bersama Riko.

Walau memang, Riko tetaplah yang tak terkalahkan. Tapi, Adit, mampu membuat guru-guru satu sekolah dan kawan-kawannya tercengang. Karena ia selalu menjuarai pencak silat dalam kategori tiga besar. Jadi, kini, sekolah mereka memiliki dua bibit cemerlang, calon atlit nasional yang membanggakan. Sedangkan Fariz? Sedari dulu ia senang mengikuti perlombaan di bidang akademik di sekolahnya. Tak jarang ia sering memberikan piala pada sekolah melalui perlombaan biasa maupun olimpiade.

Mereka bertiga benar-benar bersinar, menjadi bahan pembicaraan satu sekolah. Entah itu oleh para guru, teman satu kelas, kakak kelas, bahkan kabar ini sampai ke sekolah-sekolah lainnya di luar sana. Riko dan Fariz semakin dipuji-puji karena prestasi mereka. Dan Adit, mulai mendapatkan tempat di mata guru dan kawan-kawannya. Mereka yang semula memandang Adit sebagai anak berandalan dan jelmaan setan kini perlahan-lahan merubah pandangan buruk dan kejam itu. Ya, mereka semua mulai menerima Adit yang baru.

"Woy! Hari ini kita latihan gabungan ya sama SMPN 15. Mantap! Gue denger, banyak juara juga dari sana. Kita bakal saingan buat masuk tingkat nasional, kan?" ujar Adit bersemangat sambil menepuk punggung Riko yang sedang menunduk dan meringkuk di atas mejanya.

Riko hanya menganggukkan kepalanya malas dan pelan.

"Jangan malu-maluin sekolah kita, ya, kalian berdua harus lolos!" ucap Fariz menimpali sambil berjalan menghampiri Adit dan Riko yang duduk bersebelahan. Fariz duduk di hadapan Riko yang masih betah menunduk dan meringkuk.

"Tenang aja! Adit dan Riko kalau udah bersatu gak akan ada yang bisa kalahin! Iya, gak, Riko?" Adit tersenyum bangga sambil mengacak-acak rambut Riko.

Riko terbangun, "apaan, sih, lu!" ia menghempaskan tangan Adit dengan wajah kesal. Adit yang diperlakukan kasar oleh Riko, hanya tertawa terkekeh sambil menatap Fariz.

Riko menyisir rambutnya yang hitam legam dan lalu berjalan keluar kelas dengan muka masam. Fariz yang memperhatikan itu mulai merasa curiga.

"Dit, itu si Riko kenapa? Mukanya kusut banget. Kayaknya ada masalah. Lu coba tanyain, deh, kalau sama gue dia pasti gak mau cerita. Sana lu ikutin!" Perintah Fariz. Adit mengangkat kedua jempol tangannya dan lalu berlari mengikuti Riko.

Adit terus berlari sambil mengikuti Riko menuju kamar mandi sekolah. Sebentar-sebentar Adit melihat ke arah jam tangannya. Sebentar lagi latihan dimulai, mereka berdua harus segera bergegas. Adit semakin mempercepat laju larinya. Dan lalu ia ikut masuk ke dalam kamar mandi.

"Rikㅡ," Napas Adit tercekat begitu melihat Riko sedang menangis di hadapan cermin kamar mandi sambil membasuh wajahnya hingga basah kuyup.

"Lu kenapa, Riko?" tanya Adit sambil berjalan mendekat dan menepuk pundak Riko pelan. Riko menatap Adit dengan tatapan marah, kedua matanya berlinang air mata dan sedikit merah.

"Lu kenapa? Cerita sama gue," Adit semakin merasa tak enak, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang terjadi. Dan nampaknya, itu bukan sesuatu yang sederhana.

"Gue, mata sebelah kiri gue gak bisa lihat dengan normal. Kadang, gue lihat cahaya, kadang semuanya gelap. Gue harus gimana, dit? Gue gak punya apa-apa lagi selain pencak silat. Kalau gue rehab dan istirahat sekarang gue gak bisa ikut seleksi tingkat nasional. Gue harus gimana? Adik gue juga mau masuk SD tahun ini, butuh biaya. Duit ibu gue gak cukup buat tanggung semuanya," Riko menjelaskan dengan terbata-bata sambil menangis. Ia jongkok di lantai kamar mandi dengan raut wajah yang putus asa. Sedangkan Adit, ia masih terdiam sambil menahan air matanya yang akan jatuh. Ia bingung harus bagaimana menolong Riko, karena ia pun sama-sama seorang anak remaja yang tidak punya banyak kekuatan dan kemampuan.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang